x

Mengapa Manusia Berbeda-beda?

Sabbe sattā Kammassakā, Kammadāyādā, Kammayonῑ,
Kammabandhū, Kammapatisaranā, Yaṁ Kammaṁ karissanti
Kalyānaṁ vā pāpakaṁ vā, Tassa dāyādā bhavissanti.

Semua makhluk adalah pemilik perbuatan mereka sendiri,
Terwarisi oleh perbuatan mereka sendiri, lahir dari perbuatan mereka sendiri, Berkerabat dengan perbuatan mereka sendiri, tergantung pada perbuatan mereka sendiri, Perbuatan apapun yang akan mereka lakukan,
baik atau pun buruk. Perbuatan itulah yang akan mereka warisi.
(Abhiṇhapaccavekkhaṇa Pāṭha)

    DOWNLOAD AUDIO

Bila kita amati pada manusia, tidak satupun manusia di dunia ini yang memiliki kesamaan fisik maupun batin. Seseorang yang lahir kembar siam pun memiliki perbedaan-perbedaan. Memang kalau dilihat sepintas terlihat sama, tetapi kalau kita teliti banyak sekali perbedaannya. Fisiknya bisa jadi yang satu selalu sehat, sedangkan yang lainnya mudah terserang penyakit. Yang satu begitu pandai, mudah sekali menerima pelajaran, tetapi yang lainnya agak kurang dalam menerima pelajaran. Di dunia saat ini ada milyaran manusia, tetapi tidak ada dua orang yang sama persis wajah dan keberuntungannya. Mengapa manusia berbeda-beda? Hal ini pernah juga ditanyakan oleh seorang pemuda yang bernama Subha putra dari orang yang kaya raya tetapi kikir yang bernama Todeyya. Ketika Sang Buddha tinggal di Vihâra Jetavana, pemuda Subha menanyakan empat belas pertanyaan tentang masalah-masalah sosial. (Majjhima Nikāya, Cūlakammavibaṅga Sutta).
Yang Mulia, meskipun ada banyak manusia di dunia ini, mereka semua berbeda satu sama lain. Mengapa ada orang yang pendek umur sementara yang lain umurnya panjang, mengapa ada yang sakit-sakitan sementara yang lainnya sehat, mengapa ada yang memiliki buruk rupa sementara yang lain rupawan, mengapa ada yang tidak memiliki teman dan yang lainnya banyak teman, mengapa ada orang yang miskin dan ada yang kaya, mengapa ada yang lahir di kasta rendah dan yang lain lahir di kasta tinggi, mengapa ada yang lahir bodoh sementara yang lain memilki kecerdasan.
Sang Buddha menjawab: Semua makhluk adalah pemilik perbuatannya sendiri, pewaris perbuatannya sendiri, lahir dari perbuatannya sendiri, ber-kerabat dengan perbuatannya  sendiri, tergantung pada perbuatannya sendiri, perbuatan apapun yang akan mereka lakukan, baik ataupun buruk, per-buatan itulah yang akan mereka warisi. Karena perbuatan yang dilakukan oleh masing-masing orang dalam kehidup-an yang lampau dan kehidupan yang saat ini berbeda-beda, maka keadaan juga berbeda-beda. Subha memohon kepada Sang Buddha untuk menjelas-kan secara rinci, kemudian Sang Buddha menguraikannya sebagai berikut:

Berumur pendek dan berumur panjang:
Ada makhluk yang suka membunuh makhluk lainnya dan mempunyai ke-biasaan membunuh, ketika meninggal, mereka terlahir kembali di alam-alam sengsara, tetapi kalau mereka terlahir kembali sebagai manusia dengan dukungan perbuatan baik yang pernah mereka lakukan, kehidupan mereka akan pendek. Orang-orang yang me-nyayangi makhluk lain dan meng-hindari pembunuhan, mereka akan ter-lahir kembali di alam dewa. Tetapi bila mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan berumur panjang.

Sakit-sakitan dan sehat:
Ada orang yang menyiksa makhluk lain dan menyebabkan makhluk lain cacat, ketika meninggal, mereka terlahir kembali di alam-alam sengsara, tetapi kalau mereka terlahir kembali sebagai manusia dengan dukungan perbuatan baik yang pernah mereka lakukan, mereka akan sakit-sakitan dan mudah terserang penyakit. Orang-orang yang menyayangi dan tidak mencelakai makhluk lain, mereka akan terlahir kembali di alam dewa. Tetapi bila mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan menikmati kesehatan yang baik.

Buruk rupa dan rupawan:
Ada orang yang pemarah dan mudah marah, karena kemarahan mereka ber-bicara kasar, menghina orang lain, ketika meninggal, mereka terlahir kem-bali di alam-alam sengsara, tetapi kalau mereka terlahir kembali sebagai manusia dengan dukungan perbuatan baik yang pernah mereka lakukan, mereka akan buruk rupa. Orang-orang yang bertenggang rasa, memaafkan kesalahan orang lain, mereka melatih cinta kasih, dan mereka tidak mudah marah, tidak menghina orang lain dengan ucapan kasar, mereka akan terlahir kembali di alam dewa. Tetapi bila mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan menjadi rupawan.

Tidak memiliki teman dan memiliki banyak teman:
Ada orang yang cemburu, iri hati dan mereka tidak menghargai keberhasilan orang lain, ketika meninggal, mereka terlahir kembali di alam-alam sengsara, tetapi kalau mereka terlahir kembali sebagai manusia dengan dukungan perbuatan baik yang pernah mereka lakukan, mereka tidak memiliki teman atau hanya memiliki sedikit teman. Orang-orang yang tidak cemburu, tidak iri hati, tetapi menghargai ke-berhasilan orang lain, mereka akan terlahir kembali di alam dewa. Tetapi bila mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan mempunyai banyak teman.

Miskin dan kaya:
Ada orang yang kikir dan sangat me-lekat pada kekayaannya, mereka tidak memberikan apapun untuk didanakan, ketika meninggal, mereka terlahir kembali di alam-alam sengsara, tetapi kalau mereka terlahir kembali sebagai manusia dengan dukungan perbuatan baik yang pernah mereka lakukan, mereka tidak memiliki kekayaan/ miskin. Sebaliknya, orang yang murah hati dan senang memberi mereka akan terlahir kembali di alam dewa. Tetapi bila mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan mempunyai banyak ke-kayaan.

Kasta rendah dan kasta tinggi:
Ada orang yang sombong dan angkuh, tidak menghormat kepada orang-orang yang patut dihormati, ketika me-ninggal, mereka terlahir kembali di alam-alam sengsara, tetapi kalau mereka terlahir kembali sebagai manusia dengan dukungan perbuatan baik yang pernah mereka lakukan, mereka akan terlahir di kasta rendah. Orang-orang yang tidak sombong dan angkuh, tetapi rendah hati dan selalu menghormat kepada orang-orang yang patut dihormati, mereka akan terlahir kembali di alam dewa. Tetapi bila mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan terlahir di kasta yang tinggi.

Bodoh dan cerdas:
Ada orang-orang yang tidak mau belajar Dhamma, mereka tidak ber-tanya kepada orang-orang bijaksana untuk menjelaskan apa yang baik dan buruk, apa yang harus dilatih dan yang harus dihindari, apa yang ber-manfaat untuk saat ini dan untuk hari depan. Ketika meninggal, mereka ter-lahir kembali di alam-alam sengsara, tetapi kalau mereka terlahir kembali sebagai manusia dengan dukungan perbuatan baik yang pernah mereka lakukan, mereka akan bodoh. Orang-orang yang senang belajar Dhamma, mereka tahu yang baik dan buruk, hidupnya terarah pada yang baik, bila ada keraguan dia akan bertanya pada orang yang bijaksana, mereka akan ter-lahir kembali di alam dewa. Tetapi bila mereka terlahir sebagai manusia, me-reka akan cerdas.
Demikianlah, mengapa manusia yang ada di dunia ini tidak sama, ber-beda-beda satu dengan yang lainnya, karena semua makhluk adalah pemilik perbuatannya sendiri, pewaris per-buatannya sendiri, lahir dari per-buatannya sendiri, berkerabat dengan perbuatannya sendiri, tergantung pada perbuatannya sendiri, perbuatan apa-pun yang akan mereka lakukan, baik atau pun buruk, perbuatan itulah yang akan mereka warisi. Dengan me-mahami hukum kamma secara baik dan benar, maka kita akan termotivasi untuk berbuat baik dan akan menjauhi hal-hal yang buruk.

Dibaca : 1255 kali