x

Ingin Hidup Senang Atau Hidup Bahagia?

Taṇhāya jāyati soko, taṇhāya jāyati bhayaṁ
Taṇhāya vippamuttassa, natthi soko kuto bhayaṁ

Dari keinginan timbullah kesedihan, dari keinginan timbullah ketakutan, seseorang yang terbebas dari keinginan tidak akan lagi mengalami kesedihan dan ketakutan.
(Dhammapada 216)

    DOWNLOAD AUDIO

Jika kita bertanya kepada orang lain apa yang ingin mereka capai dalam hidup saat ini, tentu jawaban yang paling umum adalah “saya ingin bahagia”, lalu kalau kita teruskan lagi bertanya “sudahkah Anda bahagia?” tentu mereka akan menjawab “kadang bahagia, kadang tidak bahagia” lalu kalau kita tanya lagi “Banyak mana antara bahagia dengan tidak bahagia?” mereka umumnya menjawab “ banyakan tidak bahagia.”

Dari gambaran di atas, kita pada dasarnya ingin hidup bahagia tetapi dari sekian banyak orang masih belum menemukan kebahagiaan. Padahal mereka sudah berjuang mengumpulkan dan menuruti semuanya, apa yang dirasa menimbulkan bahagia seperti; memiliki uang banyak, beli mobil yang paling bagus, punya handphone tercanggih, rumah mewah sudah dipenuhi tetapi masih juga belum bahagia.

Berbicara masalah bahagia sering kali kita suka menyamakannya dengan pengertian senang. Sesungguhnya dua kata tersebut memiliki makna yang berbeda jika dilihat dari sudut pandang makna hakikinya. Dalam masyarakat umum ada pandangan yang mungkin kurang tepat yaitu anggapan bahwa kesenangan sama dengan kebahagiaan. “Coba kita renungkan dalam batin kita, kita seringkali hidup senang, dan apakah setiap kesenangan yang kita rasakan langsung bisa memunculkan kebahagiaan. Andaikata memang bahagia, lalu mampu bertahan berapa lama?” Inilah yang saya maksudkan kesenangan tidak sama dengan kebahagiaan. Mungkin rasa senang masih ada, tetapi belum tentu bahagia masih ada.

Kesenangan muncul ketika kita dapat menuruti apa yang kita inginkan, sedangkan yang namanya keinginan memiliki sifat tidak pernah mau berhenti. Menuruti kesenangan ini ibaratnya seperti mengisi ember yang bocor, maka sampai kapan pun tidak akan pernah bisa penuh. Semakin banyak kesenangan yang kita nikmati dan turuti, justru akan membawa kita semakin jauh dari bahagia. Mengapa semakin jauh? karena kita selalu dituntut oleh pikiran kita untuk selalu memenuhi keinginan akan rasa senang itu.

Memang dalam hidup, kita ingin hidup senang tetapi kita harus selalu waspada terhadap kesenangan jangan sampai kesenangan membuat kita tidak bahagia. Seperti sekarang ini apa yang ditawarkan pada umumnya adalah hidup senang, pemanjaan diri, dll.  Dan jangan sampai hal itu membuat kita terbawa oleh arus kesenangan. Kita juga perlu ingat bahwa tujuan kita hidup bukan sekedar hidup senang tetapi yang menjadi prioritas utama adalah bagaimana agar kita dapat hidup bahagia.

Untuk mencapai kebahagiaan kita perlu mengingat, sabda Sang Buddha: Nibbānam paramaṁ sukhaṁ, artinya Nibbâna adalah kebahagian yang tertinggi. Nibbâna merupakan lenyapnya keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin. Jadi apabila kita ingin bahagia yang sesungguhnya, maka dari sekarang belajar untuk mau mengurangi kesekahan, kebencian, dan kegelapan batin yang ada dalam diri kita. Dari sini, kita akan memahami perbedaan antara kebahagiaan dan kesenangan. Jika kebahagiaan yang sesungguhnya itu lenyapnya keserakah-an, kebencian, dan kegelapan batin sedangkan kesenangan masih dicengkram oleh keserakahan, kebencian dan kegelapan batin.

Agar kita dapat hidup bahagia:
1.    Kurangi keserakahan
Untuk mengurangi keserakahan adalah dengan cara memiliki kepuasan atas apa yang telah kita miliki, serta mau bersyukur atas apa yang kita miliki. Puas berarti melatih diri untuk mau merasa cukup. Bagaimana latihan agar kita mau cukup, kita cukup mengingat manfaat dari apa yang kita miliki. Seperti halnya kalau kita sudah punya handphone agar kita puas dan tidak timbul keinginan lagi adalah cukup mengingat fungsi handphone; seperti buat telepon, sms. Maka kita akan menjadi mau puas terhadap yang sudah kita miliki. 
Kurangi keserakahan yang selanjutnya adalah latihan untuk mau bersyukur, bersyukur berarti menerima hidup sebagai mana adanya; seperti halnya kalau kita tidak mampu membeli sebuah mobil, tetapi sudah punya sepeda motor, syukurilah sepeda motor yang sudah kita miliki dan ingat masih banyak orang yang tidak punya sepeda motor. Dengan contoh bersyukur semacam ini kebahagian akan timbul. Intinya dengan mengembangkan kepuasan dan rasa syukur, keserakahan perlahan-lahan akan berkurang. Dengan demikian kita akan bahagia.
2.    Kurangi kebencian
Kebencian ini merupakan penyebab ketidakbahagiaan. Sering kali kalau kita benci pada orang lain, yang pertama yang kita rasakan adalah ketidaktenangan pikiran kita. Agar bahagia kita harus berupaya mengganti kebencian dengan mau memaafkan. Kenapa? Ketika ada kebencian di dalam pikiran kita yang rugi adalah diri kita sendiri. Dan sadarilah juga dalam hidup ini tidak ada orang yang sempurna, dan yang pasti sehati-hatinya orang, pasti ada kekurangan, dan kekurangan inilah yang harus kita maafkan. Untuk memaafkan cobalah kita ingat kembali kebaikan-kebaikan orang tersebut, Dalam Dhammapada syair 223: Akkodhena jine kodhaṁ, artinya kalahkan kebencian dengan tidak membenci (cinta kasih). Dengan memaafkan berarti kita mengembangkan cinta kasih dengan demikian kebencian akan berkurang sehingga kita dapat hidup bahagia.
3.    Milikilah pandangan benar
Memiliki pandangan benar akan sifat hakiki kehidupan, kehidupan ini memilki tiga corak yaitu; segala sesuatu yang terbentuk tidak kekal adanya/mengalami perubahan (anicca), segala sesuatu yang terbentuk tidak memuaskan (dukkha), segala sesuatu yang terbentuk dan tidak terbentuk bukanlah aku dan milikku (anatta). Pandangan benar inilah merupakan jawaban, kenapa kesenangan kita tidak bisa permanen, karena kesenangan terkena anicca, kenapa  juga kesenangan kita tidak pernah dapat memuaskan kita, karena kesenangan juga terkena dukkha dan kenapa kesenangan pergi dari kita, karena kesenangan adalah bukan aku dan bukan milikku (anatta). Dengan memiliki pandangan benar ini kehidupan kita akan bahagia dan akhirnya kita bisa menerima segala sesuatu sebagaimana adanya.

Semoga uraian ini membuka wawasan kita bahwa kesenangan tidak sama dengan kebahagiaan dan semoga dengan uraian ini juga kita dapat hidup bahagia. Tetapi semua ini kembali pada kita; ingin hidup bahagia atau ingin hidup senang.

Dibaca : 5155 kali