x

Utusan Agung Datang Pada Kehidupan

Yathā daṇḍena gopālo, gāvo pāceti gocaraṁ
Evaṁ jarā ca maccu ca, āyuṁ pācenti pāṇinan’ti

Bagaikan seorang penggembala menghalau sapi-sapinya dengan tongkat
ke padang rumput, begitu juga usia tua dan kematian menghalau kehidupan setiap makhluk.
(Dhammapada X.135)

    DOWNLOAD AUDIO

Setiap orang, bahkan setiap makhluk dalam hidupnya akan selalu tertimpa proses yang di-kenal dengan sebutan kematian. Apakah dalam kehidupan sehari-hari kita tidak boleh bicara soal kematian? Apakah kematian itu menjadi suatu hal yang tabu bagi kita untuk dibahas? Jika kita mau mengerti sebetulnya tidak, tidak benar kalau bicara kematian itu dilarang atau bicara kematian itu tidak boleh. Boleh saja soal kematian itu dibahas, yang penting arah pembicaraan itu adalah untuk dipelajari dan di-mengerti sehingga kita menjadi tidak tabu terhadap hal itu.

Utusan Agung yang Sangat Setia

Dalam segala hal, kehidupan selalu dihadapkan dengan tiga utusan agung, yaitu: 1). Usia tua, 2). Sakit, dan 3). Kematian. Bagaimana pun juga sebagai utusan ketiga yaitu kematian  dapat datang sendirian menjemput kehidupan. Atau dalam menjemput kehidupan, kematian dapat juga disertai usia tua saja, atau disertai penyakit saja, atau disertai usia tua dan sakit.

Artinya kematian menjemput kehidupan setiap makhluk jika saatnya telah tiba. Kematian bisa datang sendiri saja atau juga disertai usia tua bersama penyakit menjemput kehidupan.

Utusan agung pertama. Dalam Aṅguttara Nikāya III.35 dikatakan bahwa setiap individu manusia, baik laki-laki maupun perempuan, bilamana masa muda dan kekuatannya telah lenyap, rambutnya kelabu dan jarang atau gundul, kulitnya keriput, akan rapuh, bungkuk, berjalan tertatih-tatih, sakit-sakitan, bersandar pada tongkat, itu adalah usia tua sebagai penjemput setia yang pertama dikenal dengan sebutan utusan agung pertama.

Semua orang akan menjadi tua atau mencapai usia tua jika saatnya telah tiba. Tidak ada orang yang mampu mengelak untuk terhindar dari hukum alam yang disebut usia tua. Jika ada yang berpikir tidak mau menerima kedatangan penjemput setia yang  per-tama, tidak mau jadi tua tentu akan terlebih dahulu, mau atau tidak mau, setuju atau tidak setuju, pasti didatangi utusan agung ketiga sebagai penjemput paling setia yang sangat terkenal yaitu kematian.

Utusan agung kedua. Setiap individu manusia, baik laki-laki mau-pun perempuan, akan mengalami sakit, terbaring di atas kotorannya sendiri dan harus diangkat oleh seseorang serta dibaringkan oleh orang lain, itu adalah sakit sebagai penjemput setia yang kedua dikenal dengan sebutan utusan agung kedua.

Menjadi tua itu melelahkan, tidak mengenakkan dan tentu menderita. Akan tetapi proses menjadi tua itu adalah kerjanya hukum alam yang selalu mengikuti kehidupan yang juga bergerak terus dalam kelahiran setiap makhluk yang mengalami. Hal ini tidak bisa dihindari, bagaimana pun juga harus diikuti dan disadari secara benar.

Utusan agung ketiga. Setiap individu manusia, baik laki-laki mau-pun perempuan, akan terkena kematian dan tidak dapat lolos darinya, itu adalah kematian sebagai penjemput setia yang ketiga dikenal dengan sebutan utusan agung ketiga.

Jika ada yang berpikir tidak mau terkena penyakit atau tidak ingin jatuh sakit, tentu bisa saja sehat-sehat tetapi sampai pada usia cukup tua atau belum terlalu tua, masih muda, masih kecil bahkan bisa juga belum lahir, ternyata harus datang sang raja kematian paling cepat sebagai utusan yang paling setia tiba menjemput sang janin dalam kandungan ibunya.

 

Kematian Itu Menakutkan?

Padahal kematian itu, adalah suatu hal yang tidak perlu ditabukan. Meskipun kematian memang menakut-kan bagi setiap makhluk, namun justru hal ini paling penting untuk dipahami secara baik dan benar, sehingga tidak membuat manusia menjadi ketakutan dan merasa tidak mau dengar orang lain bicara soal itu, atau dirinya tidak mau bicara soal kematian sama sekali. Tentu inilah yang membuat banyak orang tidak memahami soal kehidupan yang pasti dilengkapi dengan kematian. Tidak ada kelahiran tanpa kematian. Tidak ada kematian tanpa kelahiran. Mengapa takut terhadap kematian? Dari manakah rasa takut itu berasal?

Orang takut dengan kematian karena tidak mengerti tentang kematian itu sendiri. Karena tidak mengerti juga bagaimana hidup akan datangnya itu setelah kematian dalam kehidupan ini. Akan berbeda jika mengerti apa ke-matian itu, tentu ia tidak akan pernah takut sama sekali terhadap kematian itu. Bagaimana harus bertindak dalam ke-hidupan sekarang ini adalah kunci ke-hidupan setelah kematian, tentu menjadi tugas kita untuk memahaminya dengan sebaik mungkin. Jika hal ini dilakukan maka ketakutan terhadap kematian tidak akan muncul.

 

Kemana Setelah Kematian?

Dalam Aïguttara Nikàya III.35, dikatakan bahwa orang yang memiliki perilaku buruk melalui tubuh, ucapan dan pikiran, pada saat tubuhnya hancur setelah kematian dia terlahir kembali di alam penderitaan, di tempat yang buruk, di alam yang rendah, di neraka. Tentu dengan kalimat seperti itu kita menjadi bertanya-tanya mengapa ada orang yang mengalami keadaan seperti itu. Kita tentu juga dituntut dalam hal ini harus mengerti bahwa orang seperti itu mengalami keadaan demikian disebabkan oleh kebiasaan buruk selama hidupnya yaitu tidak memiliki rasa hormat terhadap ayah dan ibunya, tidak juga terhadap petapa dan brahmana, tidak menghargai mereka yang lebih tua di keluarga.

 

Bebas dari Cengkeraman Raja Kematian

Kematian, sebagaimana disebut-kan dalam Dhammapada ayat 135 di atas, dapat menjemput, menghalau, atau memotong suasana kehidupan setiap makhluk yang seperti apa pun, dalam keadaan apa pun. Apakah mungkin, apakah bisa bagi setiap makhluk untuk terbebas dari cengkeraman kematian? Tentu tidak mungkin kebebasan dari kematian itu dapat diperoleh, jika semua kondisi kehidupan dan akar-akarnya masih belum dipangkas atau dipotong. Dalam kondisi seperti itu juga kelahiran terus diterjang kematian, yang tentu saja sudah didahului oleh usia tua. Jika usia tua tidak datang maka ke-matian tetap selalu menghampiri setiap kehidupan di dunia ini. Apakah kita sudah siap, jika suatu saat nanti, mungkin sebentar lagi, nanti sore, nanti malam, besok, lusa, satu minggu lagi, satu bulan lagi, atau kapan saja, dia akan datang menjemput kita dalam kondisi apapun? Oleh sebab itu, jika kita belum bisa terbebas dari usia tua dan kematian, maka kesiapan kita adalah yang sangat diperlukan untuk menghadapi dan menerima kenyataan itu.

Siapkah kita untuk menyambut kedatangan si raja utusan agung, yaitu kematian? Mari kita persiapkan diri dengan mematangkan sikap hidup kita sesuai dengan Ajaran Kebenaran. Selamat berjuang!

Dibaca : 2629 kali