x

PŪJĀ CA PŪJANῙYĀNAṀ

Abhivādana-sῑlissa, niccaṁ vuḍḍhāpacāyino, 
cattāro dhammā vaḍḍhanti, āyu vaṇṇo sukhaṁ balaṁ

Ia yang selalu sopan dan menghormat kepada yang lebih tua, akan berkembang padanya empat hal, yakni; umur panjang, paras bagus, kebahagiaan, dan kekuatan.
(Dhammapada 109)

    DOWNLOAD AUDIO

Peradaban manusia selalu mengalami perubahan, mulai dari perubahan yang lambat maupun cepat. Perubahan akan menimbulkan akibat bagi kehidupan, baik yang positif maupun negatif. Contoh dampak yang positif adalah kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi yang menyebabkan jarak antarnegara semakin dekat. Sedangkan dampak negatifnya yaitu hubungan antarmanusia renggang, sehingga dengan tetangga sendiripun tak kenal dan sifat keegoan manusia semakin berkembang, ia selalu mementingkan kepentingan sendiri. Dampak lainnya adalah semakin ditinggalkannya sifat saling menghormati, tenggang rasa, dan menghargai orang lain. Sejak lebih dari 2500 tahun yang lampau, Sang Buddha telah mengajarkan kepada siswa-siswa untuk menghormat orang yang pantas dihormat (Maṅgala Sutta, Sutta Nipāta). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menghormat berasal dari kata ’hormat’ yang mendapat awalan (me) yang artinya ’memberi hormat’, sedangkan hormat sendiri artinya ’sopan’. Dalam bahasa Pāḷi juga dikenal kata pūjā yang artinya ’menghormat’. Lalu siapakah orang-orang yang pantas kita hormati? Orang-orang yang pantas kita hormati adalah:
1. Sang Buddha. Mengapa? Kita perlu menghormat Sang Buddha karena Beliau adalah orang yang telah mewariskan Dhamma kepada kita semua sehingga sampai hari ini kita masih bisa belajar dan mempraktikkan ajaran Sang Buddha. Di samping itu, Beliau juga seorang guru spiritual yang mampu membimbing siswa-siswanya mencapai apa yang Beliau capai, Beliau ibarat seorang dokter yang mampu mengobati pasien sampai sembuh.
2. Orangtua. Mengapa? Karena orangtua merupakan guru awal sebelum kita mengenal guru di sekolah, ia yang menuntun kita supaya mengenal dunia, mengajarkan tentang sopan santun dan etika moral. Orangtua diibaratkan seperti brahma, dewa-dewa kuno yang patut kita hormati. (Aṅguttara Nikāya).
3. Orang bijaksana. Orang bijaksana adalah orang yang pantas kita hormati, karena mereka merupakan kawan-kawan sejati yang siap membantu kita apabila kita menghadapi masalah dalam kehidupan kita. Saling menghormati adalah sikap yang menunjukkan kerendahan hati yang akan mengkondisikan keharmonisan dimanapun kita berada. Ada beberapa sikap penghormatan yang hendaknya dikembangkan di dalam diri kita antara lain:
a. Namakāra, artinya bersujud dengan lima titik yaitu lutut, jari kaki, siku, telapak tangan, dan dahi menyentuh lantai. Bentuk penghormatan ini masih sering dilakukan oleh para bhikkhu apabila bertemu dengan upajjhāya (guru penahbis), āchariya (guru pembimbing). Hal ini juga dapat dipraktikkan dalam rumah tangga, misalnya; ketika anak akan berangkat sekolah, terlebih dahulu diajak untuk ber-namaskara lebih dulu kepada orangtua. Perilaku semacam ini akan menjadi kebiasaan yang baik, sehingga anak dapat menghormati orangtuanya.
b. Añjali (merangkapkan kedua tangan di depan dada). Sikap ini sering dilakukan oleh bhikkhu apabila bertemu dengan bhikkhu lain, dan dilakukan umat apabila bertemu dengan bhikkhu. Akan lebih indah apabila hal ini juga dipraktikkan umat ketika bertemu umat. 

Laku hormat adalah bentuk perbuatan yang sangat mulia, oleh karena itu hendaknya kita mampu mengembangkannya dalam diri kita masing-masing. Laku hormat bisa kita lakukan dengan cara āmisa pūjā dan paṭipatti pūjā.
1. Āmisa pūjā, melakukan penghormatan dengan cara mempersembahkan materi, misalnya berupa lilin, dupa, bunga, dan lain-lain. Hal ini bisa kita persembahkan kepada orang yang kita hormati, misalnya saṅgha, bhikkhu, orang bijaksana, orangtua, dan lain-lain. Seperti cerita Sumana penjual bunga yang mempersembahkan bunga kepada Sang Buddha dan akhirnya ia mendapatkan berbagai macam hadiah dari raja.
2. Paṭipatti pūjā, melakukan penghormatan dengan cara mempraktikkan Dhamma. Paṭipatti pūjā merupakan bentuk penghormatan yang dipuji oleh Sang Buddha. Mengapa? Karena dengan mempraktikkan Dhamma, kita bisa hidup bahagia, baik dalam kehidupan ini maupun yang akan datang. Ajaran Sang Buddha yang perlu kita praktikkan, antara lain dāna, sῑla, dan samādhi. 
a. Dāna: memberi. Memberi merupakan ajaran awal sebelum kita mempraktikkan yang lainnya seperti sῑla dan samādhi. Berdana adalah seperti orang yang menabung, semakin banyak melakukan kebajikan, maka simpanan harta sejati kita akan semakin bertambah seperti sabda Sang Buddha dalam Nidhikaṇḍa Sutta. 
b. Sῑla: kemoralan. Ada dua macam sῑla, yaitu sῑla yang pelaksanaannya dengan cara menghindari dan dengan cara mempraktikkan. Dengan cara menghindari adalah Pañcasīla Buddhis yang terdiri dari lima sīla, yaitu; menghindari membunuh, mencuri, berzina, berbohong, dan mengkonsumsi zat-zat yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran, sedangkan sῑla yang seharusnya dipraktikkan adalah berupa kewajiban-kewajiban seperti kewajiban orangtua kepada anak atau sebaliknya, kewajiban suami kepada istri atau sebaliknya, kewajiban guru kepada murid atau sebaliknya, kewajiban petapa kepada umat atau sebaliknya. 
c. Samādhi (meditasi) adalah ajaran yang seharusnya dipraktikkan secara bertahap dan berkesinambungan. Kalau kita tekun melaksanakan meditasi, kita akan memperoleh manfaat yang sangat besar bagi kehidupan kita, karena dengan melaksanakan meditasi, batin kita akan memiliki ketenangan, dengan batin yang tenang maka kita akan siap menghadapi masalah-masalah kehidupan yang sering kita alami baik masalah pribadi, keluarga, pekerjaan, dan lingkungan. 

Kalau kita mampu mengembangkan laku hormat kepada Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Saṅgha) dan kepada orang yang pantas kita hormati, maka kita akan mendapat manfaat. Apa manfaat yang kita peroleh? Dalam Dhammapada 109, Sang Buddha menjelaskan; ’Ia yang selalu menghormat kepada yang lebih tua akan berkembang padanya empat hal, yakni; umur panjang, paras bagus, kebahagiaan, dan kekuatan’. 

Dibaca : 3943 kali