x

Saddhā (Keyakinan) Pembawa Sukha (Kebahagiaan)

Susukhaṁ vata jῑvāma, ussukesu anussukā
Ussukesu manussesu, viharāma anussukā

Sungguh bahagia kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah. Di antara orang-orang yang serakah kita hidup tanpa keserakahan.
(Dhammapada 199)

    DOWNLOAD AUDIO

Saudara-saudari yang berbahagia dalam naungan parami kebajikan yang telah ditanam, Saddhā membawa kita berlindung kepada Sang Tiratana (Buddha, Dhamma, Saïgha).

Duaribu enam ratus tahun yang lalu, pada jaman kehidupan guru Agung kita, Buddha Gotama, hidup dua orang raja besar yang terkemuka karena mempunyai kekuatan Cakkavati. Raja yang pertama adalah yang berkuasa dan bertahta di Kosalavati dan bernama Pasenadi Kosala beserta permaisuri yang bernama Ratu Mallika. Sedangkan raja yang kedua adalah bernama Ajatasatthu dan merupakan putra raja besar yang bernama Bimbisara.

Tetapi saudara-saudari se-Dhamma, ada sesuatu perilaku dan sifat yang kurang pas dan kurang sesuai pada kedua raja besar tersebut di atas.

Sifat tanha (keinginan rendah) dan lobha (keserakahan) merongrong dan mendera raja Pasenadi dan istri yang bernama Mallika tadi. Memuaskan selera makan yang tidak terkendali pada Raja Pasenadi, hingga filosofis tata cara kehidupan terhadap pola makan pun menjadi bermakna lain. Yang terjadi akhirnya adalah bukan filosofis hidup untuk makan tetapi berubah menjadi pengertian yang salah yakni hidup untuk makan. Hal inilah yang menyebabkan postur tubuh raja Pasenadi menjadi tambun atau terlalu gemuk, yang pada akhirnya jikalau menghadap Sang Buddha selalu mengantuk.

Guru Agung kita, Tathāgata Buddha Gotama, memberikan resep atau obat mujarab kepada Raja Pasenadi dengan berkata: ”Tahan, atur dan kendalikan pola makanmu Pasenadi!”, Raja Pasenadi mendengar, mematuhi dan melaksanakan semua nasehat Sang Buddha, hingga akhirnya terobati dan tersembuhkan dari sifat tanha dan lobha terhadap pola makan tadi.

Demikian pula, yang terjadi pada permaisuri bernama Ratu Mallika. Ratu Mallika sering kali melakukan palivara atau pelanggaran terhadap sila ketiga Pa¤casãla Buddhis. Ratu Mallika gemar sekali membelakangi Raja Pasenadi dengan berlaku serong atau selingkuh. Dan yang paling menyedihkan dan memprihatinkan, partner perbuatan serong dan selingkuh ratu adalah makhluk Tiracchāna (binatang) yakni anjing peliharaannya sendiri. Sifat serong dan selingkuh inilah yang akhirnya mencampakkan Ratu Mallika yakni setelah mengalami kematian, bertumimbal lahir ke alam neraka.

Sedangkan raja yang kedua, yakni Raja Ajatasatthu, sifat dosacarita (kebencian) terhadap ayahndanya sendiri, yakni raja Bimbisara, yang menyebabkan Ajatasatthu, setelah kematiannya juga tercampakkan ke alam neraka avãci karena melakukan perbuatan yang bersifat akusala garuka kamma terhadap Raja Bimbisara.

Dhamma, ajaran Sang Buddha memberikan pesan kepada para pemimpin, raja, presiden, perdana menteri, dan pejabat-pejabat pada posisi penting dan strategis dalam negara. Untuk rahasia kebahagiaan, kemakmuran, ketentraman, dan keselamatan bagi rakyat dan negara yang dipimpinnya, ada 10 (sepuluh) hal yang harus dilakukan dan dilaksanakan yakni prasyarat ketentuan terhadap 10 (sepuluh) rajadhamma.
1.    Dāna: beramal, pembebasan, murah hati
2.    Sῑla: berwatak baik, moral yang tinggi
3.    Pariccāga: mau mengorbankan diri
4.    Ājjava: kejujuran, keutuhan
5.    Maddava: ramah dan lemah lembut
6.    Tapa: cermat, pengendalian diri
7.    Akkodha: tidak dendam, tidak dengan kemarahan
8.    Avihimsā: anti kekerasan, tidak menekan
9.    Khanti: sabar, penahanan nafsu
10.    Avirodhana: tidak bertentangan dari kebenaran

Semoga sedikit intisari Dhamma ini akan memberi warning atau peringatan kepada kita semua untuk selalu hidup berhati-hati selaras dengan Dhamma/ajaran.

Dibaca : 4459 kali