x

Hari Baik Di Tahun 2010

“Para bhikkhu, makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang pagi hari, maka pagi hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.

Makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang siang hari, maka siang hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.

Makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang malam hari, maka malam hari yang bahagia akan menjadi milik mereka”.
(Aṅguttara Nikāya III. 150)

    DOWNLOAD AUDIO

Waktu terus berjalan tanpa terasa satu tahun telah kita lalui. Saat ini kita memasuki awal tahun 2010. Mendapatkan berkah di tahun ini merupakan harapan kita semua. Bebagai macam cara dilakukan orang agar di tahun ini bisa memperoleh berkah, mulai dari meramalkan ”nasib”, mencari hari baik serta melakukan upacara tolak-bala.

Sejak dahulu orang sudah tertarik untuk mengetahui apa yang akan terjadi di hari kemudian, sehingga ramal-meramal ini sudah lama dikenal sebelum pangeran Siddhattha lahir. Ajaran Buddha memang tidak menyangkal mengenai ramalan, tetapi Sang Buddha menghendaki kita tidak menggantungkan begitu saja pada hasil dari suatu ramalan.

Dalam Nakkhatta-Jataka No. 49 diceritakan: Pada suatu waktu ketika Brahmadatta sedang memerintah di Benares, beberapa orang penduduk kota melamar seorang gadis desa dan telah menentukan hari pernikahannya. Setelah pengaturan dilakukan barulah mereka bertanya kepada petapa keluarga mereka, apakah posisi bintang menguntungkan jika diadakan perayaan pada hari itu. Kesal karena mereka telah menetapkan waktu yang sesuai untuk mereka tanpa berunding dengannya terlebih dahulu, petapa itu memutuskan untuk menghalangi upacara pernikahan pada hari itu; karena itu ia menjawab bahwa posisi bintang sangat tidak menguntungkan pada hari itu, dan jika mereka berkeras untuk melangsungkan pernikahan, kemalangan akan terjadi. Maka, dalam keyakinan terhadap petapa itu, mereka tetap berada di dalam rumah! Ketika orang-orang desa melihat penduduk kota itu tidak datang, mereka berkata, ”Mereka yang menetapkan untuk melakukan pernikahan pada hari ini, dan sekarang, mereka sendiri tidak muncul. Memangnya mereka itu siapa?”. Mereka lalu menikahkan gadis itu kepada orang lain.

Keesokan harinya penduduk kota datang dan meminta gadis itu; namun orang-orang desa itu berkata, ”Kalian orang kota yang tidak mempunyai sopan santun. Kalian sendiri yang menetapkan hari dan kalian sendiri yang tidak datang menjemput mempelai wanita. Karena kalian tidak hadir, gadis itu telah kami nikahkan dengan pemuda yang lain. Namun, pada saat kami bertanya pada petapa kami, ia mengatakan posisi bintang tidak menguntungkan. Itulah sebabnya kami tidak hadir kemarin. Berikanlah gadis itu kepada kami. ”Kalian tidak datang tepat pada waktunya, sekarang ia telah menikah dengan orang lain. Bagaimana ia bisa kami nikahkan dua kali?” Sementara mereka bertengkar, ada seorang laki-laki bijaksana dari kota, yang sedang mengunjungi desa tersebut untuk keperluan dagang. Mendengar penjelasan dari penduduk kota itu, mereka telah berdiskusi dengan petapa mereka, dan mereka tidak hadir karena posisi bintang tidak menguntungkan, ia berseru: “Apa, benarkah posisi bintang behubungan dengan hal ini? Bukankah mendapatkan gadis itu hal yang menguntungkan?” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut ia mengucapkan syair ini:

Orang-orang bodoh boleh saja melihat pada 'hari baik', namun keberuntungan tidak selalu mereka dapatkan. Keberuntungan itu sendiri sebenarnya adalah bintang keberuntungan seseorang. Apa yang bisa dicapai oleh sekedar posisi bintang?

Keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh ramalan atau perhitungan hari baik. Dalam ajaran Buddha, berkah ini bukan anugerah atau karunia yang diberikan, tetapi berkah merupakan hasil dari suatu usaha dan kerja keras. Bila kita mengharapkan berkah, ada sesuatu yang harus dilakukan. Dalam Maṅgala Sutta Sang Buddha telah membabarkan dengan jelas tindakan-tindakan yang harus dilakukan bagi mereka yang mengharapkan berkah. Mulai dari hati-hati dalam memilih pergaulan, pengembangan kualitas diri dengan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan serta melakukan kebajikan dengan mengendalikan diri dan peduli sesama. Sang Buddha mengarahkan kita tidak hanya berhasil pada hidup saat ini, tetapi juga berhasil untuk terbebas secara total dari penderitaan.

Seseorang yang telah menyatakan dirinya berlindung kepada Tiratana, maka akan memandang semua hari adalah hari yang baik ketika ia dapat mengisinya dengan perbuatan baik. Walaupun semua hari adalah baik, tetapi tidak dapat dihindari bagi seseorang adakalanya akan mengalami kerugian, celaan, nama buruk dan penderitaan, karena kondisi-kondisi ini berlaku di dunia.

Tidak mengait-ngaitkan apa yang terjadi dengan perhitungan hari atau ramalan merupakan satu tanda yang menunjukkan kualitas keyakinan seseorang pada Dhamma. Menurut Dhamma, apapun yang terjadi merupakan akibat dari apa yang pernah kita perbuat, kita adalah pewaris kamma kita sendiri. Keyakinan pada Dhamma ini akan membebaskan seseorang dari keraguan dan kekhawatiran, inilah sifat Dhamma yang membebaskan.


Daftar Pustaka:

1. Suttapitaka, Khuddaka Nikāya Jataka No. 49 hal 286, Indonesia Tipitaka Center, Medan

2. Suttapitaka, Aṅguttara Nikāya, III. 150

Dibaca : 3652 kali