x

Gaya Hidup Dan Perkembangan Mental

-

    DOWNLOAD AUDIO

Di dalam agama atau pandangan pada umumnya, khotbah pertama pasti menjelaskan tentang asal mula dari segala sesuatu, penciptaan dari segala sesuatu. Ini berbeda dengan apa yang terdapat dalam khotbah pertama Sang Buddha.

Lalu bagaimana dengan Ajaran Sang Buddha? Di dalam khotbah-Nya yang pertama, penjelasan Sang Buddha justru sangat berbeda dari pandangan yang ada pada waktu itu. Penjelasan Sang Buddha langsung mengarah pada hidup kita ini yaitu memperhatikan pada apa yang ada di dalam kehidupan kita. Kita tidak perlu menoleh atau melihat ke belakang kepada asal mula atau dulu-dulunya karena hal itu hanya membuang waktu, tidak berguna.

Sang Buddha menjelaskan lebih dulu keadaan atau kondisi hidup (gaya hidup umat manusia) yang terjadi pada saat itu. Yang pertama, banyak orang yang menjalani hidup dengan cara hidup yang berlebih-lebihan, mengikuti atau menuruti keinginan-keinginannya. Dorongan-dorongan, tarikan-tarikan dari keinginan itu yang kalau diikuti terus tidak akan ada habis-habisnya. Dari nafsu keinginan rendah itu dapat pula muncul perilaku-perilaku buruk yang merugikan orang lain. Keinginan-keinginan itu tentu enak, menyenangkan dan memberikan hasil yang membahagiakan. Kalau kita ikuti terus-menerus, terjadilah gaya hidup atau cara hidup yang berlebih-lebihan. Inilah sebagai gaya hidup yang pertama.

Menurut sang Buddha, gaya hidup yang pertama ini, melemahkan, rendah, tidak berguna, tidak bisa meningkatkan kualitas hidup kita, tidak bermanfaat, dan lain-lainnya.

Kemudian sang Buddha menunjukkan gaya hidup kedua yaitu gaya hidup yang sebaliknya dari gaya hidup yang pertama, yaitu gaya hidup yang sama sekali menolak, menindas, menekan keinginan. Gaya hidup kedua ini tentu saja dilakukan dengan praktik-praktik  hidup yang bercorak pada penekanan-penekanan, penindasan-penindasan terhadap keinginannya, mati raga, puasa yang berlebih-lebihan.

Kalau kita ingat sebelum petapa Gotama mencapai Penerangan Sempurna, selama enam tahun berada di hutan melakukan praktik  penyiksaan diri. Inilah praktik  mati raga yang dilakukan oleh petapa Gotama. Kemudian petapa Gotama menyadari bahwa praktik ini juga tidak bermanfaat, rendah, tidak berguna, tidak bisa membuat kemajuan untuk kehidupannya.

Jalan keluar yang ditawarkan oleh Sang Buddha adalah Jalan Tengah. Jalan tengah ini jangan sampai disalah-artikan sebagai jalan kompromi. Yang artinya, setengah mengumbar nafsu keinginan dan separuhnya lagi menindas nafsu keinginan. Tetapi sebenarnya Jalan Tengah itu adalah jalan yang khusus, yang spesifik, yang ditunjukkan oleh Sang Buddha untuk menghindari dua jalan yang berlebih-lebihan (ekstrim). Sang Buddha memberikan jaminan bahwa jalan tengah ini akan membuat hidup kita maju, berkembang, dan membawa kebahagiaan.

Dari jalan ini, sejauh mana kita bisa meningkatkan, mengembangkan atau memajukan mental kita. Jangan ditinjau dari bahagianya, tetapi yang dijadikan perhatian adalah jalan-jalan itu sebenarnya akan membuat perkembangan batin atau tidak. Ini penting di dalam ajaran Sang Buddha.

Sang Buddha menunjukkan Jalan Tengah (Majjhima Patipadā) yang disebut Ariya Aṭṭhaṅgika Magga (Jalan Mulia Berfaktor Delapan), satu jalan memiliki delapan faktor. Kita harus menerapkan jalan itu dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam setiap kegiatan apapun yang kita lakukan. Meskipun kita belum mencapai kesucian, meskipun kita kadang-kadang lupa, tidak apa-apa, yang penting kita berusaha dan berjuang lagi.

Yang pertama harus kita bawa dalam kehidupan kita ini pengertian benar. Mengerti apa sebenarnya yang sedang kita hadapi, kita lakukan, dan kita kerjakan. Bisa saja kita mengerti dari segi sebab akibat. Misalnya saya sekarang sedang susah. Ini pasti ada sebabnya. Kalau mendapatkan suatu masalah, masalah itu datang tidak begitu saja, melainkan karena ada sebabnya. Segala sesuatu muncul karena ada sebabnya. Kalau kita sekarang susah terus, besok bisa lebih susah lagi, lebih sengsara, lebih stres. Apabila hal ini dapat dimengerti sebabnya apa dan akibatnya bagaimana, maka kita akan menjadi orang yang bisa mengatasi masalah dengan tepat.

Segi kedua yang bisa digunakan untuk mengerti adalah tinjauan dari segi sebenarnya apa yang kita lakukan ini untuk apa. Itu juga merupakan suatu pengertian. Pemahaman ini sebenarnya adalah bagaimana kita bisa menerima atau mengetahui dengan jelas apa yang sedang kita hadapi. Itulah yang sebenarnya dimaksud pengertian benar. Kalau kita tidak bisa berpikir seperti itu, itu pengertian salah. Misalnya kita mengalami sesuatu dan merasa ini sudah takdirnya atau nasibnya, ini merupakan suatu ganjaran atau cobaan, dan sebagainya. Ini yang membuat kita sering menyalahkan orang lain, kondisi, dan sebagainya.

Pengertian yang benar tidak bisa berdiri sendiri, karena pengertian benar harus dibarengi dengan pikiran benar. Ada orang yang pengertiannya benar tetapi pikirannya jahat. Ini tidak akan membawa perkembangan mental, justru membuat kemerosotan mental. Jika dikaitkan dengan perkembangan batin, pengertian dan pikiran yang benar ini akan membuat mental kita menjadi berkembang. Pengertian dan pikiran benar itu kemudian dikatakan sebagai kebijaksanaan. Kemudian setelah dua hal itu, Sang Buddha menunjukkan adanya ucapan yang benar, perbuatan yang benar, dan mata pencaharian yang benar.

Ucapan benar, perbuatan benar, dan mata pencaharian benar ini kemudian Sang Buddha sebut sebagai sila atau kesusilaan atau dalam bahasa umum disebut sebagai pekerti. Pekerti kalau digabung dengan kebijaksanaan, menjadi budi pekerti. Untuk mengembangkan budi pekerti ini harus ada unsur yang satu lagi yang diperlukan, yaitu samadhi. Dalam jalan Ariya yang berunsur delapan itu terdapat unsur sῑla, samādhi, dan paññā. Peningkatan kesadaran ini mencakup tiga hal yang disebut daya upaya benar (semangat), perhatian benar (kewaspadaan), dan konsentrasi benar. Tiga hal inilah yang bisa meningkatkan kesadaran kita. Kesadaran itu sebenarnya adalah peningkatan mental, perubahan daripada mental kita. Yang dulunya tidak tahu, menjadi tahu. Jadi usaha benar, perhatian benar, dan kesadaran benar, juga terkait dengan perkembangan mental kita.

Jalan berunsur delapan itu semuanya membuat mental kita menjadi berkembang. Yang sangat diperlukan dalam kehidupan kita, baik sekarang, esok dan yang akan datang.

Kemajuan dan peradaban manusia semuanya merupakan hasil dari perkembangan mentalnya. Bagi Sang Buddha, memang lebih tepat membawa peradaban umat manusia ini kepada peradapan yang sangat luhur, sangat mulia yang akan menjadikan hidup kita menjadi lebih tenang, tenteram, dan betul-betul membahagiakan.

Adanya dukkha, sebab dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha, itulah yang Sang Buddha tunjukkan. Secara keseluruhan adanya dukkha itu ada di dalam kehidupan kita dan disebabkan oleh adanya sebab-sebab dukkha, munculnya karena disebabkan oleh ketidaktahuan kita. Perkembangan mental itulah yang merupakan pelenyapan dari dukkha dan jalannya adalah jalan berfaktor delapan.

Semoga saja pengertian kita terhadap Dhamma akan menjadi jelas dan akan mendorong kita untuk lebih bisa memasukkan Dhamma dalam kehidupan kita sehari-hari. Usahakan apapun yang kita lakukan membuat batin kita berkembang menjadi lebih baik dan lebih bijaksana. Itulah tugas kita yang harus diperhatikan. Itu sangat penting dan mahal harganya. Itu sangat baik untuk kehidupan kita. Itulah sesungguhnya yang diharapkan dalam Dhamma. Semoga kita semakin maju dalam Dhamma Sang Buddha.

Dibaca : 1166 kali