x

Kebahagiaan

Yassa cetaṁ samucchinnaṁ, mūlaghaccaṁ samūhataṁ
Sa vantadoso medhāvῑ, sādhūrupo ti vuccati

Apabila seseorang telah menyingkirkan dan melenyapkan keserakahan,
iri hati dan kebohongan, dan terbebas dari segala noda, 
maka ia sesungguhnya adalah orang yang baik dan bijaksana.
(Dhammapada 19;8)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam hidup ini, tentunya kita menginginkan hidup yang bahagia damai dan tentram. Tetapi apakah kenyataannya kita sudah benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya? Tentunya kita sulit untuk menjawabnya. Terkadang kita sudah merasa mendapatkan sesuatu yang diinginkan atau yang didambakan. Kenyataannya apa yang diinginkan itu tidak membawa ke arah kebahagiaan yang sesungguhnya, malah sebaliknya? Apa yang dilakukan itu membuahkan penderitaan, bukan kebahagiaan. Sungguh membingungkan apa yang dicita-citakan malahan membawa seseorang ke penderitaan. Memang awalnya bahagia, tetapi akhirnya kebahagiaan itu berakhir dengan penderitaan.

Ada dua jenis kebahagiaan:
1.    Kebahagiaan dengan mata kail berumpan
Kebahagiaan yang timbul karena terpenuhinya keinginan-keinginan indria, yaitu yang berdasarkan pada hal-hal yang di luar, seperti materi, pujian dan sebagainya.  Kebahagiaan ini, berhubungan dengan kemelekatan. Maka dari itu, hal tersebut memiliki keburukan yang tersembunyi, seperti kesedihan, ratap tangis, bahaya-bahaya dan lain sebagainya. Kebahagiaan karena mata kail inilah yang selalu diinginkan, dirindukan, dan didambakan oleh banyak orang, yaitu mendapatkan kesuksesan, usaha maju, kekayaan, ketampanan, dan sebagainya. 
Sang Buddha mengatakan, ada lima untaian kesenangan, kelima untaian itu, bentuk-bentuk yang terlihat oleh mata, yang menyenangkan, disukai, memikat hati, menimbulkan kenikmatan dan rangsangan; suara-suara yang terdengar oleh telinga; bau-bauan yang tercium oleh hidung; rasa yang dikecap dengan lidah; dan sentuhan-sentuhan yang dirasa oleh tubuh; semua itu tentu menyenangkan dan disukai. Kebahagiaan atau kegembiraan apapun yang timbul dari kelima untaian tersebut, disebut hanyalah kebahagiaan duniawi, kebahagiaan manusia pada umumnya,  kebaha-giaan yang rendah. Kebahagiaan itu sebaiknya tidak dikejar dan tidak diutamakan. Kebahagiaan itu, merupakan kebahagiaan yang ditakuti. (Majjhima Nikāya I, 454)
Jadi pada umumnya apa yang didapatkan kebahagiaan dari mata kail, semua itu termotivasi untuk kesenangan saja, bukan berpikiran bahwa, apa yang dicarinya itu demi kebutuhan, bukan hanya kesenangan semata. Mendapatkan apa yang dicita-citakan memang hal yang wajar. Tetapi, di sana setelah mendapatkan kita harus ekstra hati-hati agar kita tidak digerogoti oleh kesenangan itu sendiri, yang nantinya akan berubah menjadi penderitaan. 
Sang Buddha mengatakan, “Magandiya, pada masa lalu, kesenangan indriawi menyakitkan jika disentuh, panas, serta menghanguskan; pada masa mendatang pun kesenangan-kesenangan indriawi akan menyakitkan jika disentuh, panas, serta menghanguskan; dan sekarang, pada saat ini, kesenangan indriawi menyakitkan jika disentuh, panas, serta menghanguskan. Namun orang-orang yang belum terbebas dari nafsu akan kesenangan indriawi, yang digerogoti nafsu keinginan akan kesenangan indriawi, yang terbakar dengan demam kesenangan indriawi, kemampuannya tengah terganggu; karenanya, walaupun kesenangan indriawi sesungguhnya menyakitkan jika disentuh, mereka mendapatkan pencerapan yang salah bahwa kesenangan indriawi itu menyenangkan.” (Majjhima Nikāya, Magandiya Sutta I, 504-8)

2.    Kebahagiaan tanpa mata kail berumpan
Kebahagiaan tanpa mata kail, tidak tergantung dengan materi-materi, atau tergantung sama yang diluar diri kita. Jadi kebahagiaan tanpa kail tersebut, kebahagiaan yang timbul dikarenakan tidak melekati hal-hal yang di luar, terkendali dalam hal materi semata. Maka timbulah ketenangan. Maka hal tersebutlah yang perlu kita pahami, agar kita mendapatkan berkah dari pemahaman kita sendiri. Dalam hal ini adalah kita harus memiliki pemahaman bahwa segala yang ada di alam semesta ini mengalami perubahan. 
Sang Buddha mengatakan, setelah melihat suatu bentuk dengan mata, mencium bau dengan hidung, mencicipi rasa dengan lidah, merasakan sentuhan dengan tubuh ataupun mengenali suatu pikiran dengan kesadaran, ia tidak terpikat oleh hal-hal tersebut. Karena jika ia hidup dengan indera-indera yang tak  terkendali, hal-hal yang penuh dengan daya tarik,hal-hal yang menjijikkan dan kondisi-kondisi batin yang tidak baik akan bermunculan. Oleh karena itu, ia harus mengendalikan indera-indera tersebut. Dan setelah indera-indera tersebut terkendali, ia akan memperoleh kebahagiaan dan ketenangan. (Majjhima Nikāya I, 346)

Jadi, sebenarnya bukan hanya kebahagiaan yang bermata kail saja yang kita buat. Kalau hanya ini saja, berarti kebahagiaan ini akan membuahkan penderitaan di kemudian hari. Maka dari itu, kebahagiaan tanpa kail juga amat penting, agar hidup kita terasa seimbang, di samping kita juga bahagia karena mendapatkan materi. Kita juga bisa memiliki pemahaman tentang apa yang kita miliki tidaklah kekal sehingga kita tidak melekat dan tidak terkotori di karenakan materi yang kita miliki. 

”Datang dan hiduplah dengan pintu-pintu indera yang terjaga, pikiran yang terkendali, yang selalu sadar dan diawasi” (Aṅguttara Nikāya I, 161)

Dibaca : 3372 kali