x

PAÑCASῙLA Sebagai Tolok Ukur Kebodohan Batin

Orang yang dangkal pengetahuannya, memperlakukan diri 
sendiri seperti musuh; ia melakukan perbuatan jahat
yang akan menghasilkan buah yang pahit.
(Dhammapada, Bālavagga-66)

    DOWNLOAD AUDIO

Mengapa seseorang menderita? Jawabannya adalah karena dirinya masih diliputi kebodohan batin. Sebab diliputi ketidaktahuanlah, seseorang masih mau melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Dengan begitu, jelas adalah sangat penting bagi kita berusaha untuk mengurangi kebodohan batin kita.
Lalu tentu timbul pertanyaan: Bagaimana caranya mengukur kebodohan batin yang ada? Bagaimana kita bisa tahu seberapa besar kebodohan batin yang masih kita miliki? Apakah yang dapat kita gunakan sebagai tolok ukurnya?
Untunglah kita tidak perlu bingung harus mencari jawabannya sendiri, karena Guru Agung telah mengajarkannya pada kita. Kebodohan batin dapat diukur dari seberapa yakin dan seberapa bijak seseorang dalam melaksanakan Pañcasῑla Buddhis.
Dalam Tipitaka, hal ini berulang kali disampaikan oleh Sang Buddha, seperti pada Anathapindika (di AN 5:179 dan AN 10:192) dan pada Ananda (di DN 16). Beliau menyatakan bahwa siapa saja, jika ia menginginkan, dapat melihat sendiri kemajuan batinnya dengan ’Cermin Dhamma’.
Setelah bercermin melalui Dhamma, ia dapat menyatakan: ”Aku telah menghancurkan neraka, kelahiran-kembali sebagai binatang, alam setan, semua kejatuhan, kondisi buruk, dan kondisi menderita. Aku adalah seorang Pemenang Arus, tidak mungkin terjatuh ke alam sengsara, pasti mencapai Nibbāna.” 
Dan apakah Cermin Dhamma ini? Seseorang memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan, yang dapat dicapai dengan mudah setiap saat, terhadap Buddha, Dhamma, Saṅgha, serta pada kualitas-kualitas yang terdapat pada Tiratana. Dan ia juga memiliki moralitas (Pañcasῑla Buddhis) yang disukai oleh Para Mulia, tidak rusak, tanpa cacat, tanpa noda, tidak saling bertentangan, membebaskan, tidak kotor, dan mendukung konsentrasi. (Dῑgha Nikāya, 16: Mahāparinibbāna Sutta)
Di sini terlihat bahwa Pañcasīla Buddhis sangatlah berharga dan bernilai tinggi. Ini adalah lima sila alamiah yang patut dilaksanakan oleh semua orang tanpa memandang apa negaranya, agamanya, golongannya, dan aneka ragam perbedaan lainnya. Semakin rendah rasa hormat seseorang terhadap Pañcasīla Buddhis, maka ia akan makin jauh dari kebahagiaan dan makin terpuruk pada penderitaan. 
Mereka yang memandang remeh lima sila ini akan tidak menyadari tingginya nilai Pañcasῑla Buddhis yang bagaikan sebuah permata yang sangat langka. Orang-orang tersebut akan tetap terus melanggar dan terus menumpuk perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Pada akhirnya: ’Orang itu akan menerima akibat perbuatannya dengan ratap tangis dan wajah yang berlinang air mata.’ (Dhammapada,  67)
Kebodohan batin memang sungguh berbahaya. Apalagi jika seseorang belum mengetahui ajaran yang benar, ia sungguh lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang buruk dan tak bermanfaat dari pada melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi dirinya sendiri. (Dhammapada, 163)
Bahkan pada saat Buddha masih hidup saja, akibat noda kebodohan inilah, tetap masih ada sebagian makhluk yang menolak ajaran Beliau. Sebagai akibatnya, mereka terlahir kembali di alam alam rendah dan menderita dalam waktu yang sangat lama.
Karena pandangan salah yang dianut sebagian makhluk tersebut, mereka sering banyak melanggar sila-sila. Beberapa contohnya pada zaman Buddha, yaitu:

Cunda, sebagai penjagal selalu membunuh babi dengan kejam. Akhirnya ia menderita selama 7 hari sebelum lahir lagi di Neraka Avici, alam yang lebih penuh penderitaan.
Seorang petani hampir dihukum mati karena mengambil bungkusan uang yang terjatuh yang bukan miliknya.
4 putra pedagang kaya pada masa Buddha Kassapa lahir lagi dalam Neraka Lohakumbhiya (Cairan Besi Panas) karena melanggar sila ke-3.
Cinca memfitnah Sang Buddha, ladang mulia yang sangat subur, membuatnya ditelan bumi dan menderita di Neraka Avici.
Akibat mabuk, raja Suppabuddha berbuat hal yang lebih buruk dan lahir lagi di Avici.
Terlihat sesungguhnya betapa sengsara mereka yang tidak menaruh hormat pada Pañcasῑla Buddhis. Oleh karena itu, marilah sebagai umat Buddha, kita lebih menghargai dan menaati Pañcasīla Buddhis. Dengan demikian dapat diharapkan kita akan lebih berbahagia seperti layaknya telah memiliki banyak permata mustika yang amat langka. 

Dibaca : 4046 kali