x

Akibat Kemarahan

Kodhaṁ jahe vippajaheyya mānaṁ, sañño janaṁ sabamatikkameyya
taṁ nāmarūpasmiṁ asajjamānaṁ, akiñcanaṁ nānupatanti dukkhā.

Hendaklah orang menghentikan kemarahan dan kesombongan, hendaklah ia 
mengatasi semua belenggu. Orang yang tidak lagi terikat pada batin dan jasmani, yang telah bebas dari nafsu-nafsu, tak akan menderita lagi.
(Dhammapada 221)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam kehidupan kita sehari-hari, sering kita mendengar dan melihat orang-orang yang suka marah. Padahal ia tahu bahwa marah itu tidak baik. Marah itu merupakan suatu perbuatan jahat yang dilakukan berdasarkan kebencian.

Tetapi walaupun ia tahu bahwa; hal itu tidak baik, masih saja ia suka marah-marah. Ia beralasan, kalau seseorang itu tidak dimarahi, dia tidak mau menurut, tidak tahu diri, tidak mengerti, bandel, dan sebagainya. Maka itu ia perlu dimarahi.

Ada lagi yang berpendapat; apabila ia tidak dimarahi, dia dapat menginjak-injak harga diri saya, maka perlu diberi pelajaran supaya bisa sadar dan tidak lagi mengganggu saya. Itulah pendapat secara umum mengenai kemarahan. Tetapi menurut ajaran Sang Buddha, bagaimanapun juga alasan-alasan atau pendapat tersebut sebaiknya kita tinggalkan, demi kebaikan kita dan orang lain. Sebab cara-cara tersebut bukan menyelesaikan masalah tetapi akan membuat masalah.

Walaupun seorang anak, teman, saudara, istri atau suami yang selalu menimbulkan kemarahan atau dendam, kita harus tetap sabar. Janganlah membalas kemarahan dengan kemarahan atau dendam, karena hal itu tidak benar. Lalu bagaimanakah sikap kita sebagai orangtua dalam menghadapi anak yang nakal? Kita sebagai orangtua tentunya wajib memberikan nasehat dan teguran yang baik. Nasehat yang diberikan tidak menimbulkan sakit hati pada anak itu. Jadi jangan memarahi anak-anak dengan kata-kata yang kasar meskipun anak itu bersalah.

Apabila kita berkata-kata kasar, cara seperti ini bukan mendidik anak yang benar tetapi justru secara tidak langsung kita mengajari anak untuk berkata-kata kasar. Sebab apa yang dikatakan oleh orangtua, disitulah ucapan dan perilaku orangtua akan terekam oleh si anak.

Sebenarnya banyak cara yang benar untuk mengajari anak-anak agar ia menjadi anak yang baik. Jadi tidak perlu harus marah-marah. Demikian juga kepada pekerja, pembantu dan bawahan. Semua diselesaikan dengan teguran yang baik, sehingga terjalin hubungan dan kerjasama yang baik.

Di jaman sekarang ini, mudah sekali orang-orang untuk marah. Sedikit nasehat saja mudah tersinggung, masalah kecil menjadi besar, masalah besar menjadi lebih besar.

Menurut para peneliti dan para periset, bahwa akibat daripada kemarahan yang terjadi pada tubuh dan kesehatan seseorang adalah:
1.    Dapat menimbulkan racun di dalam tubuh.
2.    Tekanan darah tinggi.
3.    Sakit kepala, migren.
4.    Sakit jiwa.
5.    Dapat memperpendek usia.
6.    Mengalami serangan jantung.
7.    Mudah terkena penyakit.
8.    Dapat menyebabkan kematian secara mendadak.

Bila kita melihat orang yang pemarah serta menyadari akibat yang timbul dari kemarahan, ternyata banyak sekali akibat yang ditimbulkan dari kemarahan. Di samping menimbulkan kebencian di dalam batin dan penyakit jasmani, juga akan menimbulkan permusuhan yang tidak ada habis-habisnya.

Kadang-kadang orang yang sedang marah ia tidak terkendali dan lupa daratan. Padahal marah itu tidak baik dan akan mendatangkan kerugian bagi dirinya sendiri dan orang lain. Tetapi ia tetap saja tidak peduli. Dalam kita suci Dhammapada Sang Buddha bersabda: ’Kebencian tak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian. Tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci.’

Inilah satu hukum yang abadi. Jadi apabila kita dibenci orang, janganlah kita membalasnya biarkan saja mereka membenci. Tetapi kita tetap tidak marah dan tidak membenci mereka, namun apabila kita memang bersalah, berusahalah untuk meminta maaf kepadanya dan pancarkanlah cinta kasih. Dengan demikian kemarahan dan kebencian tidak akan terjadi.

Maka dari itu, sebagai umat Buddhis yang baik sudah seharusnya kita mengendalikan kemarahan dengan cinta kasih sehingga tidak menimbulkan pertengkaran dan permusuhan.

Ada seorang ahli kimia ternama dari Perancis, bernama Jiande dan seorang pakar psikolog dari Amerika bernama Almasy. Psikologi ini mengadakan tes pada manusia dengan kesimpulan:
”Bila perasaan seseorang yang sedang mengalami perubahan yang drastis, maka akan ada banyak zat kimia yang diekskresi dari dalam tubuh manusia.” Bahkan nafas yang dikeluarkan dari mulutnya, sudah memiliki kandungan yang tidak sama.

Psikolog ini sendiri pernah mencoba menghembuskan nafasnya di atas tabung kaca yang dingin. Biasanya nafas kita yang membeku tidak berwarna dan transparan. Akan tetapi pada saat kita sedih, marah dan cemburu, warna dari hasil hembusan nafas yang dibekukan akan memiliki kandungan warna yang berbeda.

Dia mengadakan percobaan lagi:
Dengan sampel cairan sekresi yang sudah dibekukan dari orang yang sedang marah, lalu menyuntikkan cairan itu ke orang lain atau binatang. Orang atau binatang yang disuntikkan cairan ini pasti akan menjadi marah atau dengan tiba-tiba bisa menjadi marah-marah atau mengalami perubahan yang drastis dalam perasaannya.

Lalu dia mencoba membekukan lagi cairan yang keluar pada waktu sedang cemburu, dan menyuntikkannya ke dalam tubuh seekor tikus. Hanya beberapa menit saja tikus itu mati keracunan. Bayi yang meninggal karena keracunan air susu ibu, jumlahnya juga tidak sedikit.

Dari penjelasan ini, jelaslah bagi kita semua bahwa: kemarahan itu bukan saja menimbulkan penderitaan di dalam batin dan penyakit di dalam tubuh, tetapi juga akan menimbulkan produksi racun dalam jumlah besar di dalam tubuh kita. Oleh karena itulah mulai sekarang hentikan kemarahan, praktikkanlah cinta kasih dan kasih sayang kepada semua orang dan semua makhluk. Di samping tubuh kita sehat, kitapun dapat terbebas dari kemarahan dan kebencian. Dengan berbuat demikian, dimanapun kita berada akan selalu dicintai dan disenangi oleh setiap orang dan semua makhluk.
Sumber: 
-    Dhammapada (1:5)
-    Buku makanan dan kesehatan (Buddhis Education Center)

Dibaca : 4677 kali