x

Penyebab Keruntuhan

Āratῑ viratῑ pāpā, majjapānā ca saññamo
Appamādo ca dhammesu, etammaṅgalamuttamaṁ

Menjahui, menghindari perbuatan buruk, menahan diri dari minuman keras,
dan tak lengah melaksanakan Dhamma, itulah berkah utama.
(Maṅgala Sutta, Khuddaka Nikāya)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam kehidupan kita ini, kita ingin selalu maju dalam segala hal, apakah itu yang bersifat materi maupun yang bersifat bukan materi. Sebagai umat perumah tangga yang ingin maju dalam hidupnya, ada hal-hal yang perlu diawasi dan dihindari.

Dalam Aṅguttara Nikāya IV.283, Sang Buddha menasehati ada empat hal yang semestinya dihindari oleh umat perumah tangga, karena empat hal ini akan membawa kehancuran/kemunduran bagi perumah tangga. Empat hal ini dikenal dengan istilah Apāyamukha. Apāyamukha memiliki makna hal yang menuju pada kesengsaraan atau ketidak-bahagiaan.

Sebab-sebab yang membawa kesengsaraan/keruntuhan ada empat macam, meliputi: seorang yang menggoda wanita (itthidhutta), seorang pemabuk (surādhutta), seorang penjudi (akkhadhutta), bergaul dan bersahabat dengan orang jahat (pāpamitta).

1.    Seseorang yang suka menggoda wanita (itthidhutta)
Bagi seseorang yang sudah berkeluarga, hal ini sangatlah berbahaya. Menggoda wanita ini, untuk istilah yang trend saat ini yaitu perselingkuhan. 
Banyak pasangan hidup yang mengalami kehancuran karena hal ini. Bukan hanya rumah tangga saja yang hancur dan berantakan, tetapi juga reputasi yang selama ini ia bangun pun ikut hancur dan juga harta yang dimiliki akan ikut berkurang. Bagi seseorang yang belum memiliki pasangan hidup, suka menggoda wanita akan menimbulkan ketamakan dalam diri sebagai akibatnya. Hal ini disebabkan karena merosotnya moral atau sila yang dimiliki seseorang. Dengan merosotnya moral/sila, maka seseorang tidak mampu untuk menghindarkan diri, tidak mampu mengendalikan diri sehingga tidak taat lagi.
Bagi seseorang yang sudah memiliki pasangan hidup, agar terhindar dari sebab kesengsaraan/ketidakbahagiaan ini, maka hendaknya memiliki kepuasan terhadap pasangan hidupnya dan memperkuat kembali sila/moralitasnya.

2.    Seorang pemabuk (surādhutta)
Seseorang yang dalam hidupnya menjadi seorang pemabuk akan mengalami kesengsaraan. Seseorang menjadi pemabuk bukan hanya karena minuman keras saja, tetapi juga dari menggunakan narkoba. Akibat yang diterima oleh seorang pemabuk adalah harta kekayaannya akan cepat berkurang, hilangnya pengendalian diri,  dan mengalami gangguan pada fungsi otak. 
Dalam Aṅguttara Nikāya, Sang Buddha menekankan betapa besar akibat negatif dari pemabukan: ”Duhai para bhikkhu, peminum minuman keras secara berlebihan dan terus-menerus niscaya dapat menyeret seseorang dalam alam neraka, alam binatang, alam setan. Akibat paling ringan yang ditanggung oleh mereka –yang karena kebajikan lain, terlahirkan sebagai manusia yang hilang ingatan/sinting.”
Biasanya orang menjadi pemabuk karena ia memiliki pandangan bahwa dengan melakukan itu ia akan merasa bahagia, tetapi sesungguhnya justru kesengsaraan yang ia dapatkan. Ini adalah faktor ketidaktahuan yang ada dalam diri seseorang. Agar tidak menjadi seorang pemabuk, seseorang hendaknya mencari  tahu dan mengerti tentang bagaimana membuat bahagia yang sebenarnya yang tidak menimbulkan bahaya.

3.    Seorang penjudi (akkhadhutta)
Penyebab kemunduran/ kesengsaraan yang ketiga adalah menjadi penjudi. Orang yang gemar berjudi akibatnya harta yang dimilikinya akan cepat habis, memiliki banyak hutang, orang akan mencelanya sebagai orang yang rendah.
Orang berjudi karena memiliki pikiran bahwa dengan berjudi akan cepat menjadi kaya. Karena faktor ketamakan inilah orang melakukan hal ini. Bagi seseorang yang belum pernah berjudi, milikilah pengertian bahwa itu cara hidup yang tidak benar. Bagi yang suka berjudi, pahamilah bahwa itu akan membawa habisnya kekayaan yang telah ada sehingga memungkinkan membuat kesengsaraan dalam hidup.

4.    Bergaul dan berkawan dengan orang jahat (pāpamitta)
Penyebab kesengsaraan yang keempat adalah bergaul dan bersahabat dengan orang jahat. Orang jahat adalah orang yang memiliki watak atau sikap yang tidak baik/buruk.
Akibatnya jika kita bergaul dan berkawan dengan orang jahat akan ikut terbawa. Sebagai contoh jika berteman dengan seorang pemabuk, kita akan terbawa menjadi pemabuk juga. Seandainya kita tidak ikut mabuk, orang lain akan menganggap bahwa kita sama dengan mereka karena kita sering bergaul dengan mereka. Akibat dari salah dalam bergaul ini kita akan memiliki kebiasaan yang buruk dan harta yang kita miliki akan mengalami kemerosotan. 
Dengan demikian bergaullah dan bersahabatlah dengan orang yang baik. Orang yang baik adalah orang yang bisa mengarahkan kita pada hal yang benar dan patut, serta tidak menjerumuskan pada keburukan.


Dengan menghindari  empat hal ini, maka kehidupan kita utamanya umat perumah tangga akan mengalami kemajuan dan memperoleh kebahagiaan secara lahir dan batin.

Dibaca : 1285 kali