x

Pattidana Vs Cio Ko (Ulambana)

Tatheva katapuññampi, Asmā lokāparaṁ gataṁ
Puññāni paṭigaṇhanti, Piyaṁ ñātiva āgataṁ 

Perbuatan baik yang dilakukan seseorang akan menyambutnya bilamana 
ia meninggal, seperti keluarga menyambut pulang orang yang tercinta.
(Dhammapada  220)

    DOWNLOAD AUDIO

Sering orang salah pengertian bahwa upacara Pattidāna sama dengan upacara Cio Ko atau Cio Sie Kow yang dikenal sebagai sembahyang rebutan yang dilakukan di kelenteng-kelenteng Taois atau Vihara Avalokiteswara.

Upacara Cio Ko atau ”sembahyang rebutan“ berdasarkan kepercayaan dalam cerita See Yu atau perjalanan ke Barat. Upacara ini dilakukan setelah tanggal 15 Imlek bulan ke tujuh (Cit Gwee). Karena sebelum tanggal tersebut keluarga masih melakukan sembahyang leluhur di rumah atau di makam, sehingga disebut sebagai ”sembahyang kubur”. Upacara Cio Ko ditujukan untuk ”arwah” yang mendapat cuti berkunjung ke rumahnya tetapi keluarganya sudah tidak mengingat mereka lagi.

Sedangkan upacara Pattidāna berdasarkan kejadian ketika Raja Bimbisara di Rajagaha mengundang Buddha Gotama dengan para siswa-Nya santap siang. Karena sangat bahagia raja lupa untuk melimpahkan jasa kebajikan kepada para leluhurnya yang terlahir di alam peta, sehingga pada malam hari mendapat gangguan dari peta-peta tersebut. Maka keesokan harinya raja mengundang kembali Guru Agung Buddha dan melimpahkan jasanya kepada leluhurnya.

Jadi upacara Pattidāna dapat dilakukan kapan saja bila kita mendapat kesempatan berbuat baik dan pikiran sedang bahagia. Upacara Pattidāna bukan ”upacara duka”. Paritta Avamaïgala dibaca atau diulangi agar yang mendengar dan setelah tahu artinya bisa berubah pikiran dari bersedih menjadi bijaksana dan rela melepas orang yang dicintai.

Dalam genap usia 25 tahun Sima di Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya, Gedung Uposathaghara telah selesai diberi hiasan ukiran kayu jati dan relief 10 cerita Jataka design dari YM. Sri Paññāvaro, sehingga vihara kita ini menjadi tambah megah. Pada tahap awal Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya juga sudah siap mengajak para umat, para dermawan dan simpatisan untuk mengumpulkan Dana Pembangunan Gedung Wisma Narada 10 lantai di belakang Uposathaghara demi memenuhi fasilitas bagi Umat Buddha. Adalah waktu yang tepat bagi kita bisa menanam bibit kebajikan yang akan berbuah kemajuan dalam saat ini tepat waktu (Kālasampatti).

Guru Agung Buddha Gotama bersabda ”Kusalassa upasampadā” tambah banyak kebajikan, kebajikan akan menjadi teman atau keluarga yang akan menyambut kita ketika meninggal dunia. Pembangunan gedung 10 lantai bukan hal yang mudah, tetapi mengingat untuk menampung fasilitas umat Buddha, maka hal ini perlu dilaksanakan secara bertahap. Saya atas nama Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya mengajak para umat untuk bisa menabung yang nantinya bisa didanakan dalam upacara Kathina puja pada tanggal 20 November 2010. Tentu dana ini sangat bernilai tinggi karena secara tidak langsung merupakan Dhammadana (sabba dana Dhamma danaṁ jinati).

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā

Dibaca : 831 kali