x

Akibat Kamma Buruk Dari Sifat Kikir

Na ve kadariyā devalokaṁ vajanti, bālā have nappassaṁ santi danaṁ
Dhῑro ca dānaṁ anumodamāno, teneva so hoti sukhῑparattha

Sesungguhnya orang kikir tidak dapat pergi ke alam dewa. Orang bodoh tidak memuji 
kemurahan hati. Akan tetapi orang bijaksana senang dalam memberi dan karenanya 
ia akan bergembira di alam berikutnya. 
(Dhammapada 177)

    DOWNLOAD AUDIO

Sifat pelit atau kikir. Orang yang memiliki sifat ini cenderung ingin menyimpan rapat-rapat hartanya untuk dirinya sendiri. Sifat pelit atau kikir berhubungan dengan ketidakinginan pihak lain memiliki atau berhubungan dengan objek-objek dimana ia terkait. Inilah karakteristik sifat kepemilikan yang ekstrim. Ada enam jenis keterikatan atas harta benda yakni: pada tempat tinggal, teman-teman atau sahabat dekat, barang berwujud seperti kendaraan dan lain-lain, makanan dan minuman, pelajaran, dan puji-pujian.

Jenis kikir yang pertama: keterikatan pada tempat tinggal. Umumnya terjadi di lingkungan perumah tangga. Mereka tak ingin melihat orang lain atau saudaranya tinggal di lingkungan rumahnya. Apalagi kalau saudaranya miskin, tidak punya pekerjaan, tentu hal ini akan menjadi ketakutan. Ketakutan ini berhubungan dengan perasaan cemas bila ada orang yang menempati rumahnya. Orang semacam ini akan mengalami banyak penderitaan setelah kematiannya karena keterikatan kepada kehendak jahatnya.

Yang kedua adalah keterikatan pada teman-teman atau sahabat. Misalnya orang yang mempunyai sahabat yang baik, kaya, dan suka memberi. Kadang-kadang ia tidak mau memperkenalkan sahabatnya ini kepada orang lain, apalagi pada orang miskin. Ia takut kalau-kalau sahabatnya ini bisa beralih kepada orang lain. Orang seperti ini dengan berbagai cara selalu menjauhi teman-temannya agar jangan sampai sahabatnya ini kenal teman-temannya.

Yang ketiga adalah keterikatan terhadap barang berwujud seperti perabot rumah tangga, motor, mobil, dan sebagainya. Misalnya kendaraan motor atau mobil. Biasanya orang pelit tidak mau meminjamkan kendaraannya kepada orang lain, bahkan kepada saudaranya sendiri. Dengan berbagai macam alasan ia tidak memberikan kendaraannya, pokoknya bagaimana supaya kendaraannya itu tidak sampai ke tangan orang lain. Orang seperti ini memiliki pikiran yang negatif dengan berpikir takut rusak, takut dibawa kabur, takut digunakan untuk mencuri dan lain-lain. Biasanya orang sepelit ini dijauhi oleh teman-temannya maupun saudaranya, sehingga ia hidup menyendiri, paling-paling hanya mempunyai sedikit teman atau saudara.

Yang keempat; keterikatan pada makanan dan minuman. Ada orang yang senang bergaul dengan orang lain. Ketika temannya mengajak ke rumah makan, ia selalu ikut, tetapi giliran ia pergi ke rumah makan, ia tidak mengajak teman-temannya, karena ia berpikir kalau mengajak temannya ia akan rugi, uangnya akan cepat habis.

Yang kelima; keterikatan kepada pelajaran. Umumnya terjadi di kalangan pelajar, mahasiswa dan mahasiswi. Ia berkeinginan hasil ulangan atau ujiannya lebih bagus daripada teman-temannya. Ia terus berusaha untuk belajar dengan giat dan tekun, walaupun ia pintar ia tidak akan memberitahukan kepada temannya tentang pelajaran apa saja yang ia bisa. Bahkan ketika temannya bertanya kepadanya ia selalu menjawab ’saya pun tidak tahu’. Ia  berpikir, apabila nantinya temannya akan menduduki peringkat pertama, ia berada di peringkat yang paling bawah, maka lebih baik tidak usah diberitahu, karena akan menimbulkan kerugian.

Yang keenam; keterikatan kepada pujian-pujian. Biasanya orang seperti ini jarang sekali memberikan pujian kepada temannya meskipun temannya ini patut untuk dipuji. Orang ini sangat pelit dalam hal memuji teman. Orang ini lebih senang kalau dipuji orang lain, daripada ia memuji temannya sendiri. Orang ini biasanya merasa dirinya lebih pandai, lebih kuat, lebih baik. Oleh karena itulah ia tidak mau memuji teman-temannya.

Secara umum, pelit atau kikir terbagi dua jenis. Yang pertama: hasrat pribadi untuk memiliki kualitas khusus seperti kecantikan fisik yang sangat spesial. Orang semacam ini akan iri kepada orang lain yang memiliki kecantikan sejenis. Bila perasaan buruk ini diteruskan akan mengakibatkan lahir kembali dengan wajah buruk rupa sebagai akibat berbuahnya karma buruk.
Jenis yang kedua: perasaan pelit untuk berbagi pengetahuan. Misalnya ada seseorang yang ingin belajar sesuatu darinya, ia hanya membaginya sangat sedikit. Sebagai contoh adanya praktik monopoli dalam dagang adalah bentuk kikir yang serakah.

Seseorang yang diliputi sikap kikir ingin menjauhkan siapapun dari hal-hal dimana ia terkait. Muncul perasaan, hanya ia sajalah yang berhak menggunakan benda-benda itu. Hanya ia sajalah yang berhak berteman dengan si A atau si B. Lihatlah akhir-akhir ini, terutama di kota-kota besar, kaum pria dan wanita mengancam pasangannya karena dilihatnya pihak terakhir ini lain. Bahkan ada pasangan yang begitu marahnya melihat istri atau suaminya melakukan percakapan persahabatan dengan orang lain yang berbeda jenis kelaminnya.

Singkat kata, kikir memunculkan perasaan hasrat untuk menggenggam erat segala sesuatu. Ia berusaha menutup segala peluang siapapun berhubungan dengan hal-hal berharga miliknya. Apa yang dikatakan sebab-sebab ketidakbahagiaan pada makhluk  yang bersumber pada iri hati dan kikir ini, sangat relevan bagi Sakka. Dari pengalamannya sebagai dewa ia mengakui kebenaran jawaban-jawaban Sang Buddha atas pernyataannya.

Berikut ini adalah sebuah kisah tentang akibat dari sifat pelit. Suatu kali seorang umat mengundang kedua bhikkhu untuk menerima dana makanan di rumahnya. Undangan itu tak disampaikan bhikkhu desa kepada bhikkhu tamu. Jadilah bhikkhu desa memenuhi undangan makan sendirian.

Mengetahui si bhikkhu tamu tak turut hadir di rumahnya, umat awam yang berbakti ini menitipkan dana makanan kepada bhikkhu desa untuk disampaikan kepada si bhikkhu tamu. Tetapi dana makanan tersebut tidak disampaikan, si bhikkhu desa justru membuangnya dalam perjalanan pulang. Waktu berlalu, setelah cukup lama si bhikkhu desa meninggal dunia. Akibat perbuatan buruknya ia terlahir di alam neraka. Di tempat ini ia menderita dalam bilangan kalpa lamanya. Setelah itu ia terlahir kembali di alam binatang. Sebagai hewan dan menderita kelaparan dalam waktu yang sangat lama. Dalam tumimbal lahirnya terakhir ia lahir kembali di sebuah desa nelayan di negeri Kosala, India. Karena perbuatan buruknya di masa lalu, kelahirannya dianggap mendatangkan kesialan bagi orang tua dan penduduk nelayan, dimana sejak bayi ini lahir, pendapatan mereka turun drastis. Tentu saja kepala kampung ingin mengetahui siapa gerangan yang membuat desa ini tertimpa sial. Setelah menyelidiki secara seksama, ia mendapatkan fakta si bayi yang baru dilahirkan oleh seorang perempuan pengemislah yang mendatangkan kesialan. Akhirnya bayi dan ibunya dikucilkan oleh penduduk desa.

Tak lama setelah itu, ibunya meninggalkannya di rumah bila ia pergi untuk mengemis. Ibunya terpaksa melakukan hal ini karena pengalaman buruk yang dialaminya bila bersama si bayi. Jika ibu miskin ini mengemis bersama bayinya, ia tak memperoleh apapun. Tapi, bila ia pergi sendirian, ia mendapat sedikit makanan yang cukup untuk dimakan satu hari.

Suatu ketika Y.M. Sariputta Thera melihat anak yang kelaparan ini tak jauh dari vihara. Setelah cukup umur ia ditahbiskan sebagai bhikkhu. Walaupun sudah menjadi bhikkhu ia selalu tidak beruntung. Seringkali ia tidak memperoleh makanan, dalam suatu pesta besar sekalipun. Kalaupun memperoleh makanan dari pindapata, jumlahnya sangat sedikit. Bahkan diceritakan makanan-makanan yang diperolehnya hanya cukup untuk menyambung hidupnya satu hari itu. Karena ketidakberuntungannya bhikkhu ini diberi nama Losakatissa.

Akibat kamma buruk karena membuang makanan terus dialami oleh Bhikkhu Losakatissa meski ia telah berhasil meraih kearahatan. Singkat kata, menjelang parinibbana, Y.M. Sariputta Thera mengajak Bhikkhu Losakatissa ke kota Savatthi untuk berpindapata. Hari itu adalah hari terakhirnya di dunia. Ia tidak akan terlahir lagi sebagai makhluk apapun. Saat Y.M. Sariputta Thera dan Bhikkhu Losakatissa berpindapata, tak satupun yang berdana makanan. Akhirnya Y.M. Sariputta Thera meminta Bhikkhu Losakatissa menunggu dan istirahat di suatu tempat. Kemudian Y.M. Sariputta Thera berpindapata sendirian memasuki kota Savatthi, maka barulah ada beberapa umat awam yang berdana makanan. Kemudian Beliau meminta tolong seorang umat awam untuk menyampaikan dana makanan yang telah diperolehnya. Namun apa mau dikata, dalam perjalanan menuju tempat Bhikkhu Losakatissa, dana makanan itu malah dimakan oleh umat awam itu sendiri. Sekembalinya berpindapata, Y.M. Sariputta mengetahui apa yang terjadi. Akhirnya Beliau memberi makanan terakhir yang diperolehnya kepada Bhikkhu Losakatissa dengan memegangi mangkok, patta, sambil menungguinya makan. Dengan cara ini Losakatissa memakan makanan terakhirnya, yang ternyata sangat sedikit itu. Pada saat itu juga Bhikkhu Losakatissa mencapai parinibbana.

Cerita ini memberikan gambaran kepada kita betapa menakutkannya akibat kamma buruk dari sifat kikir. Untuk itu jauhkanlah sifat kikir ini agar nantinya tidak menimbulkan celaka.

Dibaca : 7966 kali