x

Berdana, Langkah Awal Di Jalan Pencerahan

”Dānañca Dhammacariyā ca, Etammaṅgalamuttamaṁ”

Berdana sesuai dengan praktik Dhamma, adalah berkah utama. 
(Maṅgala Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Sang Buddha menjelaskan bahwa tanpa adanya dānakathā, seseorang tidak akan mencapai pencerahan. Karena itu, dānakathā selalu dibabarkan lebih dahulu, sebagai langkah awal Sang Buddha menjelaskan faktor-faktor yang mengarah tercapainya pencerahan, terutama ketika Beliau membabarkan Dhamma kepada umat awam, agar para pendengarnya bahagia dalam berdana. Setelah batin para pendengar bahagia, baru dijelaskan tujuan utama dari Dhamma.

Hal ini sama ketika kita menanam bibit, terlebih dahulu disiapkan ladang subur yang diberi pupuk. Meskipun nanti yang dipanen bukan pupuknya, tetapi buah dari bibit yang ditanam, buah tersebut tidak akan ada atau berlimpah bila tidak diberi pupuk yang baik dan tepat. Begitu pula, dānakathā sebagai pupuk yang akan mendukung hasilnya praktik Dhamma, pencerahan. Dalam usaha mencapai pembebasan dari kemelekatan yaitu dukkhanirodha, maka diperlukan pendukung atau landasan yang disebut dānakathā.

Motivasi dalam melaksanakan dana bagi seseorang sangat beragam:
1.    Berdana karena ingin menjatuhkan/menghina.
2.    Berdana karena terpaksa, didorong rasa takut.
3.    Berdana karena untuk balas budi/ terikat.
4.    Berdana mengharap imbalan.
5.    Berdana untuk mendapat reputasi/nama baik.
6.    Berdana demi mempertahankan tradisi keluarga.
7.    Berdana sebagai suatu perbuatan baik saja.
8.    Berdana tanpa mengharapkan apapun (na sapekho danaṁ deti). Motifnya hanya untuk memurnikan pikiran.

Berdana dengan motif 1 sampai dengan 7, masih termasuk hinadāna (dana kecil). Hanya yang ke-8, disebut mahadāna (dana besar), karena motif berdana inilah yang dimaksudkan sebagai cara mengikis kemelekatan. Dana jenis ini akan dapat mengikis iri hati (issā) dan kekikiran (macchariya).

Issā adalah tidak senang bila orang lain mendapat barang, keuntungan, kebahagiaan atau cantik/tampan. Bilamana berkembang akan menumbuhkan niat jahat untuk menghancurkan niat baik.

Macchariya adalah sifat untuk menyembunyikan kekayaannya dan tidak suka memberi sedikitpun. Bahkan kepada saudara/familinya, dia juga bersifat kikir. Bilamana berkembang sangat melekat kepada tempat tinggal (avasa-macchariya), pengetahuan (Dhamma-macchariya), monopoli (lābha-macchariya), umat (kula-macchariya).

Selanjutnya, Dhamma menjelaskan bahwa issā dan macchariya ini menjadi ’musuh’ yang harus dilenyapkan bagi mereka yang praktik meditasi, khususnya vipassanā. Selama issā dan macchariya ini belum tuntas disingkirkan, seseorang tidak akan mencapai pencerahan, bahkan batinnya akan selalu menderita. Betapa dahsyat kekuatan issā dan macchariya dalam proses tumimbal lahir, dapat kita simak dari cerita Losakatissa Thera berikut ini:
”Pada masa hidup Buddha Kassapa, ada seorang bhikkhu yang tinggal di desa. Kebutuhan hidupnya bergantung pada pemberian umat di desa itu. Pada suatu hari datang seorang bhikkhu tamu dan tinggal bersamanya. Sejak kedatangan bhikkhu tamu tersebut, bhikkhu tuan rumah menjadi cemas, takut bila dirinya disaingi. Timbul pikiran jahat untuk mengusir bhikkhu tamu itu.

Suatu waktu ada umat yang mengundang makan kedua bhikkhu itu ke rumahnya. Undangan itu tidak disampaikan kepada bhikkhu tamu, sehingga hanya bhikkhu tuan rumah saja yang hadir sendirian. Karena itu, tuan rumah mengirimkan makanan untuk  bhikkhu yang tidak hadir. Alih-alih disampaikan makanan itu dibuang oleh bhikkhu itu di tengah jalan. Ketika meninggal, bhikkhu tuan rumah terlahir di niraya (neraka) dan menderita satu kalpa lamanya, kemudian terlahir lagi di alam binatang. Karena perbuatan jahatnya, sebagai hewan juga mengalami kelaparan. Terakhir kali ia lahir sebagai seorang anak nelayan di negeri Kosala di Jaman Buddha Gotama. Akibat perbuatan jahatnya belum habis, anak nelayan ini selalu membawa kesialan bagi orang tua dan penduduk nelayan. Akhirnya anak ini dibuang dan hidup sangat kelaparan.

Merasa kasihan melihat anak ini, Y.A. Sariputta membawanya ke vihara, kemudian ia ditahbiskan sebagai samanera (ada karma baik yang muncul). Setelah cukup umur, lalu di-upasampadā menjadi bhikkhu. Tetapi kesialannya masih tersisa, sehingga setiap hari piṇḍapāta, makanan yang diterima sangat sedikit. Bilamana bersama Y.A. Sariputta juga tidak mendapat makanan yang cukup. Kalau mendapat makanan juga untuk hari itu saja, tidak ada lebihnya. Karena itu ia dikenal dengan nama LOSAKATISSA THERA.

Pada hari terakhir menjelang pencerahan, Losakatissa Thera bermeditasi di vihara. Dengan membawa dua mangkuk, Y.A. Sariputta berpiṇḍapāta. Setelah menyelesaikan makannya, Y.A. Sariputta mengutus seorang umat membawakan makanan ke vihara. Tetapi di tengah jalan, makanan itu dimakan habis oleh umat tersebut. Ketika kembali ke vihara, Y.A. Sariputta baru mengetahuinya. Akhirnya Beliau memberikan semangkuk madu kepada Losakatissa Thera dengan memegangi mangkuknya. Kalau tidak, madu itu juga akan kering. Setelah minum madu, Losakatissa Thera mencapai tingkat Arahat dan langsung parinibbāna.”

Betapa dahsyat dan menakutkan kekuatan dari perbuatan jahat yang didorong oleh issā dan macchariya. Sekarang, marilah kita semua bertekad untuk mulai mengikis iri hati dan kikir dengan sering berdana. Terlebih lagi pada saat bulan Kañhina. Selamat berdana di bulan Kañhina.

Dibaca : 4776 kali