x

Prinsip Memberi

Natthi citte pasannamhi appakā nāma dakkhῑna.

Suatu pemberian tidak pernah memiliki nilai yang kecil
bila diberikan dengan kesungguhan hati.
(Khu. Vimāna. Buddhasāsana Subhāsita. 142)

    DOWNLOAD AUDIO

Sejak kita dilahirkan hingga kita nanti menutup mata, kita tidak terlepas dari kebaikan orang lain. Sewaktu kita masih bayi, kita sepenuhnya tergantung pada orangtua kita. Demikian juga ketika kita nanti meninggal dunia, kita sepenuhnya tergantung pada kebaikan orang lain. Hidup kita sekarang ini pun karena kebaikan dari orang lain, bahkan dari makhluk bukan manusia. Oleh karena itu, kita selayaknya juga berbuat kebaikan. Berbuat baik yang paling mudah adalah dengan memberi. Hanya saja banyak orang yang sukar sekali untuk memberi. Mereka lebih senang untuk menerima, mencari, dan mengumpulkan.

Jika kita perhatikan, banyak orang yang ingin kaya, terkenal, dan ingin memperoleh apa yang mereka inginkan. Namun, ternyata mereka tidak selalu bisa mencapai keinginannya, karena mereka tidak pernah memberi. Padahal ada sebuah hukum Dhamma yang menyatakan segala sesuatu yang kita terima berkorelasi dengan apa yang kita berikan.

Perhatikanlah orang-orang besar yang berpengaruh sepanjang sejarah, seperti Sang Buddha Gotama, Mahatma Gandhi, Bunda Theresa dan yang lainnya. Mereka menjadi orang-orang yang berpengaruh dan memiliki banyak pengikut, salah satu sebabnya adalah karena mereka banyak memberi.

PRINSIP MEMBERI
1.    Prinsip pertama adalah ”APA YANG KITA TABUR ITULAH YANG AKAN KITA TUAI”. Seperti yang dikatakan oleh Sang Buddha dalam Saÿyutta Nikāya I.227: ”Sesuai dengan benih yang ditabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebaikan akan memperoleh kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan.” Jika kita tidak pernah memberi, maka kita pun tidak pernah menuai. Di dalam Itivuttaka 26, Sang Buddha bersabda: ”Wahai para bhikkhu, seandainya para makhluk tahu seperti yang aku tahu, buah dari perbuatan memberi serta berbagi, mereka tidak akan makan sebelum memberi serta berbagi, mereka tidak akan membiarkan noda kekikiran menguasai mereka dan mengakar di dalam pikiran. Bahkan seandainya itu adalah makanan terakhir, suapan terakhir, mereka tidak akan menikmatinya tanpa membaginya, seandainya ada orang yang dapat diajak berbagi. Tetapi, para bhikkhu, karena para makhluk tidak tahu seperti yang aku tahu buah dari perbuatan memberi serta berbagi, maka mereka makan tanpa memberi dan noda kekikiran menguasai serta mengakar dalam pikiran mereka.” 
2.    Prinsip kedua adalah ”NILAI PEMBERIAN DIUKUR DARI KETULUSAN DAN NILAI PEMBERIAN ITU BAGI KITA.” Ketulusan dalam memberi merupakan hal yang utama. Di dalam pelaksanaan memberi, kita perlu mendapatkan pengertian yang lebih mendalam berkenaan dengan harapan-harapan yang muncul akibat pikiran yang salah, yang tidak boleh mendasari tindakan kedermawanan yaitu: Seorang pemberi tidak boleh memandang rendah kepada orang lain yang tidak dapat memberikan persembahan seperti itu. Dia juga tidak boleh bersukaria memandang tinggi kedermawanannya sendiri. Dikotori oleh buah pikiran yang tidak baik seperti itu, niatnya memiliki nilai yang rendah. Bila tindakan kedermawanan itu dimotivasi oleh harapan memperoleh hasil kemakmuran dan kebahagiaan langsung, atau harapan terlahir kembali di alam kehidupan yang lebih tinggi, niat yang menyertai itu digolongkan bernilai sedang-sedang saja. Memberi dengan tujuan untuk melenyapkan ego, dan untuk mencapai nibbāna, lenyapnya penderitaan, maka niat yang mendasari tindakan itu dianggap bernilai tinggi.
Ada tiga macam niat di dalam tindakan memberi dana, yakni:
a)    Niat yang dimulai dengan pikiran ”aku harus memberikan persembahan” dan niat itu ada selama periode persiapan untuk memberikan persembahan: pubbe cetanā, niat sebelum tindakan dilakukan.
b)    Niat yang muncul pada saat memberikan persembahan, persis ketika sedang menyerahkan pada si penerima: muñca cetanā, niat pada waktu tindakan dilakukan.
c)    Niat yang menyertai kegembiraan dan keriangan yang berkalikali muncul selama mengingatingat atau merenungkan tindakan memberi itu; apara cetanā, niat setelah tindakan dilakukan.

Pada suatu ketika kelana Vacchagotta bertanya kepada Sang Buddha apakah benar bahwa Sang Buddha berkata dana yang diberikan kepada Sang Buddha dan siswa-siswa Beliau saja yang menghasilkan buah yang besar. Kemudian Sang Buddha menjawab bahwa pernyataan itu tidaklah benar. Selanjutnya Sang Buddha mengatakan bahwa ”seandainya seseorang melempar air bekas cucian mangkuk atau cangkir ke kolam, dengan harapan bahwa makhluk-makhluk hidup di sana bisa memperoleh makanan dari itu – maka perbuatan itupun akan menjadi sumber perbuatan jasa, apalagi memberikan sesuatu kepada manusia. Tetapi Sang Buddha memang menyatakan bahwa persembahan yang diberikan kepada mereka yang luhur akan memberikan buah yang besar dibandingkan mereka yang tidak luhur. (AN. III-57).

AWAN TANPA HUJAN
Di dalam Itivuttaka 75, Sang Buddha bersabda: ”Wahai para bhikkhu, ada tiga macam orang yang ada di dunia ini.”
1.    Tidak kepada para petapa maupun brahmana, tidak juga kepada yang miskin dan terlantar dia membagikan simpanan, makanan, minuman dan barang-barangnya; orang yang dasarnya seperti itu disebut ’Orang yang bagaikan awan tanpa hujan’.
2.    Kepada beberapa orang dia tidak memberi. Kepada beberapa orang dia menawarkan dana makanan; oleh para bijaksana orang itu disebut ‘Orang yang bagaikan hujan lokal’.
3.    Orang yang dikenal karena kebesaran hatinya, yang mengasihi semua makhluk, membagikan dana dengan senang hati. ”Beri! Beri!” katanya. Bagaikan awan tebal yang menggelegar mencurahkan hujan mengisi bagian yang rata dan cekung membasahi bumi dengan air. Seperti itulah orang ini. Setelah mengumpulkan kekayaan dengan benar, yang diperoleh dengan usaha sendiri. Dia memberikan makanan dan minuman pada makhluk apapun yang membutuhkannya.

Marilah kita berusaha menjadi orang yang ketiga yang hanya memberi tak harap kembali bagaikan hujan lebat yang membasahi seluruh bumi.

Dibaca : 2036 kali