x

Jadilah Pribadi Yang Baik

Yo ca vassasataṁ jive, dussῑlo asamāhito
Ekā haṁ jῑvitaṁ seyyo, sῑlavantassa jhāyino

Daripada hidup seratus tahun yang penuh dengan perbuatan 
jahat dan pikiran tidak terkendali, lebih baik hidup satu hari yang 
penuh dengan perbuatan baik dan pikiran terkendali.
(Dhammapada VIII:11)

    DOWNLOAD AUDIO

Tanpa terasa kita sudah ada di penghujung tahun 2010, dan tanpa kita sadari usia kita bertambah satu tahun, sekaligus juga berkurang satu tahun. Ketika kita ingat hal ini, cobalah bertanya pada diri kita masing-masing: “Sudahkah saya menjadi pribadi yang baik?”

Menjadi pribadi yang baik adalah dambaan bagi setiap orang. Tetapi di tengah kehidupan yang penuh dengan kesibukan, kita terkadang lupa akan hal ini. Pribadi yang baik, kita anggap sebagai yang ke dua setelah harta. Memang semua orang perlu harta, tetapi jangan lupakan pribadi yang baik. Utamanya di masa sekarang ini, yang hampir pada umumnya lupa akan sisi positif dari pribadi yang baik.

Dinyatakan bahwa dunia akan bertahan lama, diperlukan adanya pribadi yang baik. Indikasi dari pribadi yang baik adalah memiliki sikap Hiri dan Ottappa. Hiri memiliki makna malu untuk berbuat jahat dan Ottappa memiliki makna takut akan akibat dari perbuatan jahat. Ketika memiliki dua sikap ini, maka akan muncul kepedulian pada diri sendiri dan juga peduli akan orang lain, karena pada dasarnya semua orang saling berkaitan. Secara philosofis dikatakan ‘Aku ada karena engkau ada’. Tidak ada satu pun di dunia ini, yang tidak saling berhubungan, semua akan saling berhubungan. Oleh karena itu kita perlu menjadi pribadi yang baik agar tercipta perubahan yang lebih baik.

Untuk menjadi pribadi yang baik, tidak bisa diminta, tetapi dari usaha sendiri. Lalu apa yang perlu kita usahakan agar menjadi pribadi yang baik? Yang kita usahakan adalah:
1.    Saddhā (keyakinan) 
Adanya keyakinan yang benar akan mendorong menjadi pribadi yang baik. Sebagai umat Buddha, keyakinan yang harus dimengerti adalah hukum kamma. Hukum kamma menjelaskan bahwa apa yang kita perbuat itulah yang akan kita petik. Jika kita berbuat baik akan berbuah kebahagiaan, jika berbuat jahat berakibat penderitaan.

Keyakinan adalah pondasi awal dalam membentuk pribadi yang baik, karena keyakinan ini, di dalamnya mengajarkan konsep-konsep dan dasar-dasar pengertian. Jika konsep/dasar pengertiannya benar, maka akan menjadi pribadi yang baik. Tanpa adanya keyakinan yang benar, tidak  mungkin untuk menjadi pribadi yang baik. Jadi yang perlu kita kembangkan adalah milikilah keyakinan yang benar.

2.    Sῑla (moralitas)
Untuk menjadi pribadi yang baik, yang perlu dimiliki adalah Sῑla/moralitas. Sebagai umat Buddha, adalah mempraktikkan Pañcasῑla Buddhis. Dengan melatih menghindari pembunuhan makhluk hidup, menghindari pencurian, menghindari tindakan asusila, menghindari ucapan tidak benar, dan menghindari penggunaan minum-minuman keras (narkoba) yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran. Hasil positif yang akan muncul adalah sikap cinta kasih, mata pencaharian benar, kesetiaan dan kepuasan, kejujuran, dan kewaspadaan.

Moralitas adalah pelindung dari pribadi yang baik. Setiap pribadi yang baik selalu berusaha menjalankan moralitas secara optimal, sebab moralitas ini akan menjadi cermin dari pribadi yang baik dan sila ini akan tampak di dalam keseharian.

3.    Cāga (kemurahan hati)
Kemurahan hati merupakan wujud dari pribadi yang baik. Sebagai pribadi yang baik, ia gemar membantu siapa pun. Membantu tidak hanya materi, tetapi juga non materi. Contoh non materi antara lain mau memberi maaf, menghibur orang yang sedang duka, dan memberi nasehat. Dalam berperilaku, ia akan memberikan apa yang bisa ia berikan dan tidak pernah berharap akan balasan. Ia selalu berupaya untuk membuat orang lain bahagia. Agar kita bisa menjadi pribadi yang baik, dari sekarang kita berlatih untuk memberi yang didasari kasih sayang.

4.    Paññā (kebijaksanaan)
Pribadi yang baik adalah ia yang memiliki kebijaksanaan, bijak artinya mempunyai pengetahuan yang luas, pandai menyesuaikan diri, bisa membedakan antara benar dan yang salah. Dalam Dhamma dinyatakan bahwa orang yang bijak adalah ia yang mampu melihat dan memahami muncul dan lenyapnya pañcakhanda (lima kelompok kehidupan). Untuk menjadi bijak diperlukan pengalaman yang relatif lama. Karena kebijaksanaan yang sebenarnya adalah hasil dari pengalaman yang dialami, bukan hanya dari apa yang dipelajari.

Agar kita menjadi pribadi yang baik yang memiliki kebijaksanaan, maka kita harus menyadari apa yang kita kerjakan saat ini, sehingga pengalaman yang kita alami tidak terbuang begitu saja.

Dengan mengembangkan empat hal ini, maka kita akan menjadi pribadi yang baik.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Dibaca : 4419 kali