x

Antara Pernyataan Dengan Kenyataan

Tumhehi Kiccamātappaṁ, Akkhātāro Tathāgatā’ti

Engkau sendirilah yang harus berusaha, Para Tathāgatā hanya menunjukkan Jalan.
(Dhammapada 276)

    DOWNLOAD AUDIO

Manusia bikin pernyataan tentang dirinya sendiri atau mungkin diri orang lain siapapun adalah merupakan pernyataan yang belum tentu terkait dengan apa kenyataan yang sebenarnya. Dari kalimat Dhammapada kutipan tersebut di atas, hubungan manusia dengan kekuatan lain di luar diri manusia sendiri adalah jelas sepenuhnya tergantung pada kekuatan yang ada di dalam diri sendiri. Karena kekuatan lain di luar hanya menjadi pengkondisi dan bukan penentu. Apakah hal ini benar demikian? Marilah kita ikuti penjabaran berikut ini dengan sebaik-baiknya.
Pemikiran Penuh Harapan Semata-mata

Manusia umumnya berpikir penuh harapan apa yang diinginkan semestinya tercapai atau terwujud. Hanya berpikir ataupun hanya sampai pada pengucapan bahwa diri seseorang menjadi kaya raya secara materi namun tanpa usaha dan perjuangan dalam sikap, maka hal ini dapat disebut hanya sebatas pernyataan tanpa ada kenyataannya.

Harapan Menikmati Buah yang Tidak Jelas

Keinginan dan harapan yang timbul dari pikiran terlalu cepat membayangkan buah atau hasil terlebih dahulu tanpa memikirkan langkah tindakan yang dapat mendatangkan buah atau hasil seperti yang diharapkan.

Dalam prinsip hukum alam langkah yang benar dalam prosesnya suatu hasil atau buah itu akan datang setelah melalui perbuatan menanam benih yang sesuai dengan yang diharapkan. Bahkan, meskipun tidak diharapkan sekalipun, apa yang ditanam dan tentunya juga dirawat dengan baik pasti akan membuahkan hasil sesuai dengan benih yang ditanam. Jadi, bukan sesuatu yang tidak jelas, tiba-tiba bisa mendapatkan hasil tanpa perlu berusaha dan berjuang. Dalam hal ini, tidak terlalu perlu membuat pernyataan bahwa kita akan mendapatkan hasil yang seperti apa yang pada kenyataannya belum tentu bahkan yang nyata justru kenyataan itu tidak ada. Padahal dalam hukum Dhamma diajarkan, segala sesuatu di dunia ini tanpa perkecualian, semuanya harus dalam proses yang jelas bagaimana buah yang diharapkan itu bisa diperoleh harus bahkan wajib ditempuh cara-caranya dengan sebaik mungkin.

Menanam Perbuatan yang Negatif

Apabila mengajukan suatu pernyataan yang ternyata tidak demikian kenyataannya, maka hal ini akan jelas-jelas salah dan akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Tindakan demikian adalah negatif bagi semua pihak karena tidak ada keberuntungan apapun melainkan hanya kerugian.

Harus Segera Mengubah Pola Pikir

Berdasarkan pengalaman yang nyata-nyata pernah dialami sebelum-sebelumnya, kegagalan adalah guru yang paling baik untuk dijadikan pedoman. Mungkin ada yang perlu diubah dalam usaha dan tindakan yang ditempuh sebagai proses mencapai hasil. Mengubah suatu proses tentu harus dimulai dari cara berpikir. Mungkinkah pola pikir kita selama ini salah? Seharusnya kita perbaiki, seharusnya kita ubah, kita ganti dengan jalan berpikir yang baru.

Jika tadinya kita banyak berpikir tentang buah atau hasil terlalu dini tanpa memikirkan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk meraih kesuksesan itu, dan cara itu adalah salah. Kita perlu berpikir berulang-ulang kali bagaimana langkah kita selanjutnya untuk tidak terus-menerus kegagalan itu berulang-ulang kali berdatangan kepada kita. Perlukah alur pikir kita yang harus diubah?

Apabila alur pikir diubah, yang tadinya terus-menerus memikirkan hasil dan kurang memikirkan cara kerja untuk mendapatkannya, diubah menjadi pemikiran yang benar bahwa bagaimana sebaik mungkin cara kerja dengan alur yang benar bisa ditempuh maka akan mendatangkan hasil yang sesuai.

Terlepas Dari Ikatan Kesengsaraan Pikiran

Sebenarnya ketegangan dalam pikiran sendiri adalah yang menyebabkan penderitaan menyengsarakan diri sendiri. Bagaimanapun juga, apabila pikiran dalam keadaan tegang, lalu ada masalah yang harus dihadapi, dapat dipastikan bahwa sikap yang cenderung ditunjukkan akan menyengsarakan diri sendiri dan sekitarnya. Akan tetapi, jika kekuatan kesadaran dalam diri sedang stabil, maka keadaan pikiran yang sedang tegang akan cepat berubah. Hal ini bisa diselidiki dengan cara melakukan pengamatan terhadap pikiran sendiri di saat-saat timbulnya kekesalan sampai kekesalan itu berlalu terasa terlepas dari beban yang berat terbawa dalam pikiran menjadi enteng/ringan.

Kekuatan kesadaran dalam diri sendiri bukan kekuatan dari luar yang membuat itu semua berubah. Dalam Dhammapada ayat 160 dikatakan sebagai berikut: ‘Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, siapa lagi yang bisa melindungi? Dengan diri sendiri sesungguhnya seseorang memperoleh perlindungan yang sangat sukar didapat (Attā hi attano nātho, Ko hi nātho paro siyā, Attanā hi sudantena, nāthaṁ labhati dullabhan’ti).’

Terlepas dari ikatan kesengsaraan yang diciptakan oleh pikiran sendiri, tentu akan merasa lega dan tenang sehingga kebahagiaanpun dirasakan. Inilah yang harus terjadi dalam usaha dan perjuangan melepaskan diri dari ikatan yang timbul dari pikiran sendiri membawa kesengsaraan dan berlabuh di pantai kedamaian. Inilah pula yang dirasakan sebagai rasa perlindungan dalam mengarungi kehidupan. Dan hal ini sangat jelas bahwa terciptanya dari diri sendiri bukan dari mana pun di luar diri sendiri, bahkan dari Sang Buddha pun bukan apalagi dari kekuatan lain.

Bukan Janji Tapi Motivasi

Sebagaimana maksud dari isi Dhammapada tersebut di atas, dalam mengajarkan Dhamma kepada kita semua, Sang Tathagata (Buddha) tidak dengan mengumbar janji tetapi justru dengan memberikan pengertian dan motivasi yang benar bahwa setiap individu manusia (bahkan semua makhluk) harus berjuang sendiri masing-masing untuk menggali dan mencari kenyataan dari segala bentuk pernyataan, bahkan ajaran Sang Buddha sekalipun tidak dianjurkan supaya percaya begitu saja. Apa pun jalan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha, Beliau hanya menunjukkan dan kita sendiri yang harus menempuh jalan itu sampai tiba di tujuan.

Sang Buddha membuat pernyataan dan juga menunjukkan kenyataannya, bagaimana kenyataan yang ada demikian pula dibuat sebagai pernyataan (yatha vadi tatha kari, yatha kari tatha vadi). Akan tetapi, Sang Buddha jelas tidak pernah mengatakan janji-janji dalam bentuk pernyataan apa pun bahwa Beliau adalah juru selamat, akan menjadi juru selamat bagi siapapun. Beliau justru menunjukkan dan memotivasi kepada setiap individu supaya berjuang sendiri untuk mencapai apa yang diharapkan sebagai kenyataan.

Dibaca : 755 kali