x

Manusia Yang Sesungguhnya

Yathāpi puppharāsimhā, kayirā mālāgune bahu
Evaṁ jātena maccena, kattabbaṁ kusalaṁ bahuṁ

Seperti bunga-bunga dapat dirangkai menjadi banyak karangan bunga
Demikian pula dalam suatu kelahiran seseorang dapat
membuat banyak perbuatan baik
(Dhammapada 53)

    DOWNLOAD AUDIO

Pada kondisi sekarang ini, sebagian manusia sudah mulai melupakan sesamanya. Sedih rasanya, ketika melihat tayangan media elektronik ataupun media cetak, di mana banyak sesama manusia saling melancarkan kebencian dan kemarahan. Bahkan saling membunuh, baik dilakukan perorangan, seperti saat ini, banyak ditemukan korban mutilasi, manusia mengakhiri hidup sesamanya, dan dengan bengis memotong-motong tubuhnya, yang lebih menakutkann adalah bom bunuh diri yang bisa membunuh puluhan manusia dalam sekejap saja. Saat ini seolah sesama manusia sudah kehilangan cinta kasihnya.

Begitu juga kelompok dalam skala besar seperti perang satu negara melawan negara lain, satu bangsa melawan bangsa lain, bahkan antarsuku, antaragama, seolah semua nafsu membenci tidak pernah surut, siapa yang dianggap tidak menyenangkan, siapa yang berbeda pandangan, dan siapa yang dianggap lawan, maka pantas 'dihabisi'.

Padahal semua manusia memiliki keinginan yang sama yaitu sama-sama ingin bahagia dan takut menderita. Tetapi hal ini sudah mulai dilupakan seolah-olah manusia semacam ’mangsanya’ bukan temannya atau saudaranya lagi.

Kenapa manusia bisa berbuat semacam itu? Inilah pertanyaan yang sering orang katakan.

Menurut Dhamma, manusia digolongkan menjadi empat macam:

1. Manussa-naraka

Manusia-naraka adalah manusia yang diselimuti kebencian di dalam dirinya. Mudah emosi dan sulit mengendalikan diri di saat ia sedang emosi. Dia juga sulit melihat orang lain bahagia, mudah iri hati dan dengki. Dengan dorongan kebencian itulah yang membuat manusia sulit mengetahui sesamanya. Ia bisa melukai bahkan bisa membunuh sesamanya sendiri. Ada kemungkinan manusia semacam ini setelah meninggal bisa terlahir di alam neraka.

2. Manussa-peta

Manusia-peta adalah manusia yang tidak memiliki kepuasan/ serakah. Di dalam pikirannya selalu merasa kurang dan cenderung berpikir ‘mendapat’. Seperti halnya makhluk peta yang selalu kelaparan dan kehausan. Manusia semacam ini ketika kematian tiba bisa terlahir di alam peta (setan).

3. Manussa-tiracchana

Manusia-tiracchana adalah manusia yang memiliki watak seperti binatang. Ia hanya mengikuti kemauannya/ keinginannya sendiri, tanpa diimbangi kebijaksanaan terlebih dahulu sebelum bertindak. Ia bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan. Karena kegelapan batin sehingga ia semacam kehilangan hati nuraninya, apa yang ia rasa benar ia lakukan. Jika ini sering dilakukan semasa hidupnya, setelah kematian tiba bisa terlahir di alam binatang.

4. Manussa-manussa

Manusia-manussa adalah manusia yang benar-benar manusia, ia memiliki budi pekerti dan mengerti apa yang pantas untuk dilakukan. Manusia bisa menjadi manusia ‘sungguhan’ asal ia menjaga moralitas dalam hidup, dengan menjalankan lima latihan kemoralan sehingga mencegah hal yang tidak pantas dilakukan seperti membunuh, mencuri, dll. Dengan praktik sila, manusia akan memiliki kasih sayang, kepedulian, kepuasan, dan kewaspadaan.

Dengan demikian kita mengetahui bahwa manusia yang sesungguhnya tidak sekedar dilihat dari bentuknya, tetapi dilihat dari perbuatannya.

Dibaca : 3467 kali