x

Rekonsiliasi Atau Sekadar Memaafkan

Yassa pāpaṁ kataṁ kammaṁ, Kusalena piṭhῑyati
So imaṁ lokaṁ pabhāseti, Abbhā mutto va candimā’ti

Barangsiapa meninggalkan perbuatan jahat
yang pernah dilakukan dengan jalan berbuat kebajikan,
maka ia akan menerangi dunia ini bagaikan bulan yang bebas dari awan.
(Dhammapada 173)

    DOWNLOAD AUDIO

Jika dalam sebuah perselisihan dapat diselesaikan secara baik dan damai, tentu hal itu menjadi contoh dan sangat baik untuk ditiru. Akan tetapi memang ada juga banyak kasus pertengkaran yang tidak terselesaikan, bahkan semakin bertambah parah menjadi permusuhan yang tidak terhenti. Kita sebagai umat Buddha harus belajar dari ajaran Dhamma yang diberikan oleh Guru Agung kita, Buddha Gotama. Marilah kita ikuti penjabaran berikut ini.

Saling Memaafkan Satu Sama Lain

Ada kalanya suatu perselisihan atau pun pertengkaran dapat diselesaikan melalui saling memaafkan satu sama lain. Tetapi ada juga yang sulit diselesaikan jika hanya saling memaafkan semata-mata.

Dalam Ambalatthikarahulovada Sutta, Majjhima Nikāya dikatakan bahwa untuk mendorong si pelaku kejahatan dapat melihat rekonsiliasi sebagai sebuah proposisi kemenangan daripada sebuah proposisi kekalahan. Sang Buddha memuji penerimaan secara jujur sebuah celaan sebagai penghormatan daripada sebuah tindakan yang salah. Seperti Sang Buddha katakan kepada Rahula, kemampuan seseorang bisa mengetahui dan menyadari kesalahannya sendiri lalu mengakuinya di hadapan orang lain adalah faktor yang esensi untuk pembersihan pikiran, ucapan, dan perbuatan jasmani. Atau seperti yang Sang Buddha katakan dalam Dhammapada ayat 173; ’orang yang mengetahui kesalahan-kesalahannya sendiri dan mengubah jalan mereka akan menerangi dunia bagaikan bulan yang terbebas dari awan’.

Para sosiologis modern sudah mengenal lima strategi mendasar yang orang gunakan untuk menghindari menerima celaan bilamana mereka pernah berbuat yang membahayakan, dan diketahui bahwa ajaran Buddhadhamma tentang tanggung jawab moral memotong kelima hal itu. Kelima strategi yang dimaksud adalah:

1. Menolak tanggung jawab;

2. Menolak bahwa tindakan berbahaya telah dilakukan;

3. Menolak kepatutan korban;

4. Menentang si penuduh;

5. Mengklaim bahwa mereka dalam pelayanan yang lebih tinggi.

Ajaran dalam kitab Suci Pali menanggapi strategi-strategi tersebut:

1. Kita selalu bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kita secara sadar;

2. Kita harus selalu meletakkan diri kita pada posisi orang lain;

3. Semua makhluk patut dihormati;

4. Kita harus menganggap mereka yang menunjukkan kesalahan-kesalahan seperti kalau mereka menunjukkan harta karun kita;

5. Tidak ada, tidak ada tujuan-tujuan yang lebih tinggi yang memaafkan pelanggaran sila-sila mendasar dari sikap etika.

Dalam pengolahan standar-standar itu, Sang Buddha menciptakan sebuah kontek nilai-nilai yang dapat mendorong kedua belah pihak untuk masuk ke dalam sebuah rekonsiliasi menggunakan penyampaian secara benar dan terlibat dalam refleksi secara jujur dan bertanggung jawab kepada semua pratisi Dhamma. Dengan cara seperti ini, standar sikap benar dan salah, sebagai ganti dari perlakuan keras atau perlakuan yang tidak terlalu penting, menimbulkan kepercayaan yang dalam dan bertahan lama. Untuk membuat kondusif hubungan harmonis keluar ke praktisi Dhamma, proses rekonsiliasi dengan demikian menjadi suatu peluang perkembangan internal.


Lebih Baik Rekonsiliasi

Sang Buddha mengakui bahwa tidak semua perselisihan dapat diselesaikan melalui rekonsiliasi. Ada juga masa-masa tertentu kedua pihak yang berselisih tidak mau melatih kejujuran dan mencegah bahwa rekonsiliasi yang benar diperlukan. Meskipun demikian, kadang-kadang melalui pemaafan masih diperlukan sebagai pilihan. Oleh karena itu, perbedaan antara rekonsiliasi dan pemaafan menjadi penting. Hal itu mendorong kita untuk menyelesaikan masalah tidak hanya melalui pemaafan bilamana penyelesaian secara rekonsiliasi yang benar lebih memungkinkan terjadi. Hal itu membuat kita menjadi tulus dengan pemaafan kita meskipun mungkin justru tidak terpakai.

Sebuah sutta yang terkenal di dalam Dῑgha Nikāya, yaitu Samaññāphala Sutta menceritakan: ”Merupakan penyebab tumbuhnya Dhammavinaya Ajaran para Ariya, Jika seseorang menyadari kesalahannya dan mengakuinya dengan semestinya demi perbaikan di masa depan.” (DN 2 Samaññāphala Sutta, halaman 56).

Dalam Kassapasaṁyutta, Saṁyutta Nikāya dikisahkan mengenai dua murid, satu murid Bhante Ananda bernama Bhanda dan satu murid Bhante Anuruddha bernama Abhinjika. Dalam kasus dua orang itu, yang saling bersaing dalam pembelajaran mereka, bahwa siapa di antara mereka yang dapat berbicara lebih banyak, lebih baik dan lebih panjang. Sang Buddha justru menegur mereka bahwa itu salah. Karena mereka mengakui kesalahan mereka, maka Sang Buddha memaafkan mereka. (Saṁyutta Nikāya 4 halaman 1322)


Sumber:

1. http://www.accesstoinsight.org: Reconciliation, Right & Wrong – Thanisaro

2. Dῑgha Nikāya –Maurice Walshe, DhammaCitta, 2009

3. Saṁyutta Nikāya 4, Klaten, Juni 2009

Dibaca : 4685 kali