x

Harta Yang Terbaik

Yassa dānena sῑlena saññamena damena ca
Niddhi sunihito hoti itthiyā purisassa vā.

Gemar berdana dan memiliki moral yang baik, dapat menahan nafsu serta mempunyai pengendalian diri, adalah timbunan “Harta” yang terbaik, bagi seorang wanita maupun pria.
(Nidhikhaṇḍa Sutta, Gāthā 6)

    DOWNLOAD AUDIO

Memiliki harta kekayaan adalah keinginan setiap orang. Sang Buddha menjelaskan dalam Pattakamma Sutta, Saṁyutta Nikāya bahwa ada empat keinginan yang diinginkan oleh setiap orang. Salah satu dari empat keinginan itu adalah memiliki harta kekayaan di samping menjadi orang terpandang, umur panjang dan kesehatan, serta kebahagiaan surgawi kelak setelah meninggal. Dhamma menilai semua keinginan itu adalah keinginan yang wajar, keinginan yang normal.

Jenis Harta

Dalam Kitab Paramatthajotika, Kitab Komentar dari Khuddakapāṭha dijelaskan ada empat jenis harta, yaitu: harta tak bergerak, harta bergerak, harta bagai kaki tangan, harta bagai pengikut.

Harta tak bergerak adalah harta yang berupa harta benda {emas, tanah, ladang, atau lainnya yang sejenis (kekayaan materi)}. Harta bergerak adalah harta yang berupa para pegawai dan hewan ternak peliharaan atau apapun yang sejenis. Harta bagai kaki tangan adalah ilmu pengetahuan dan keterampilan atau apapun yang sejenis yang diperoleh dari pelatihan dan menyatu pada diri seseorang (selalu dibawa) seolah-olah seperti kaki-tangan. Harta bagaikan pengikut adalah harta yang berupa jasa kebajikan (berdana, memiliki sila, bermeditasi) atau jasa kebajikan apapun yang sejenis yang memberikan buah yang diinginkan di sana-sini seolah-olah mengikuti orangnya.

Orang kebanyakan memiliki kecenderungan mengejar harta yang bersifat materi, karena memang tak dapat dipungkiri bagi perumah tangga bahwa memiliki harta kekayaan adalah penyebab kebahagiaan (atthi sukha). Bagi seorang bhikkhu mengejar kekayaan materi adalah sesuatu yang harus dihindari. Dalam Catuma Sutta, Majjhima Nikāya dijelaskan bahwa ada empat macam bahaya bagi seorang bhikkhu dengan simbolisasi ombak, buaya, pusaran air, dan ikan buas.

Ombak adalah simbolisasi dari diombang-ambingnya seorang bhikkhu dalam kemarahan. Buaya adalah simbolisasi termakannya seorang bhikkhu dalam kerakusan materi. Pusaran air adalah simbolisasi dari terseretnya seorang bhikkhu dalam lima kesenangan indera, dan ikan buas (hiu) adalah simbolisasi termangsanya seorang bhikkhu oleh wanita.

 

Sifat dari Harta Kekayaan Materi

Dalam agama Buddha, kita diajarkan tentang adanya hukum konsekuensi atau hukum sebab-akibat. Apapun yang kita lakukan dengan dilandasi niat, apapun yang kita miliki, akan ada konsekuensi yang muncul dari tindakan dan kepemilikan itu.

Demikian pula dari adanya kepemilikan harta kekayaan. Dalam Aṅguttara Nikāya, III, 259, Sang Buddha menjelaskan konsekuesi kerugian dan keuntungan memiliki harta kekayaan materi.

Kerugian memiliki kekayaan materi:

1. Terancam bahaya kebakaran,

2. Terancam bahaya banjir,

3. Terancam disita pemerintah (jika mendapatkannya dengan cara yang melanggar hukum),

4. Terancam bahaya perampokan,

5. Terancam penghamburan oleh ahli waris yang boros.

Keuntungan memiliki kekayaan materi:

1. Dengan adanya harta seseorang dapat membuat dirinya senang,

2. Ia dapat membuat orang tuanya senang,

3. Ia dapat membuat isteri, anak-anak, pelayan dan pegawainya senang, serta,

4. Ia dapat membuat teman-teman dan sahabat-sahabatnya senang, dan

5. Kepada para pertapa dan brahmana orang yang memiliki harta kekayaan itu dapat melakukan persembahan dengan tujuan mulia, untuk kebahagiaan di alam mendatang, serta agar terlahir di alam surga.

Inilah realita yang ada dari adanya kepemilikan.

 

Orang Buta, Bermata Satu, dan Bermata Sehat.

Andha Sutta, Puggala Vagga-Tika Nipāta, Aṅguttara Nikāya menjelaskan perumpamaan tentang tiga kualitas orang yang mencari dan memiliki harta.
Orang yang tidak tahu cara mengumpulkan kekayaan dan juga tidak tahu cara menggunakannya diibaratkan sebagai orang buta (andha), orang yang hanya tahu cara mengumpulkan kekayaan, tetapi tidak tahu cara menggunakannya diibaratkan sebagai orang yang mempunyai mata satu (ekacakkhu) dan seseorang yang mengetahui cara mengumpulkan dan menggunakan kekayaan yang telah didapatkannya dengan jalan yang benar diibaratkan sebagai orang yang bisa melihat dengan kedua matanya (dvecakkhu).
 

Harta yang Terbaik

Nidhikhaṇḍa Sutta, Khuddaka Nikāya berisikan khotbah Sang Buddha yang menjelaskan tentang harta yang terbaik bagi seorang wanita ataupun pria. Harta itu meliputi empat hal, yang berupa berdana (dānena), memiliki moralitas yang baik (sῑlena), dapat menahan nafsu (saññamena), dan mempunyai pengendalian diri (damena).


Sumber:
- Buddhavacana, Penerbit Karaniya, 1993.
- Khuddakapāṭha 3, Wisma Sambodhi, Klaten, 2006

Dibaca : 2014 kali