x

Memahami Perubahan Menemukan Kebahagiaan

Uttiṭṭhe nappamajjeyya, dhammaṁ sucaritaṁ care
Dhammacārῑ sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi ca

Sadarlah akan kenyataan, jangan tertipu, hiduplah sesuai dengan Dhamma.
Seseorang yang hidup sesuai Dhamma, akan hidup berbahagia
dalam kehidupan saat ini dan kehidupan yang akan datang.
(Dhammapada Loka Vagga 168)

    DOWNLOAD AUDIO

Sore itu, pukul 17:16 orang tidak pernah berpikir suasana akan berubah seketika. Guncangan gempa di Padang banyak mengakibatkan bangunan roboh, terbakar, bahkan tidak sedikit korban yang meninggal. Kita sendiri juga telah mengalami guncangan gempa yang cukup kuat. Gempa tidak pernah dapat diprediksi dengan tepat kapan akan terjadi, sama tidak jelasnya dengan kehidupan ini. Dari kejadian gempa di Padang, kita dapat belajar bahwa hidup ini begitu rentan, kegembiraan seketika dapat tergantikan dengan kesedihan, keuntungan tergantikan dengan kerugian, sehat tergantikan dengan sakit, nama baik dan pujian tergantikan dengan hinaan dan cacian, semuanya berubah... dan orang tidak pernah suka dengan perubahan ini.

Perubahan ingin menyadarkan kita tentang ketidaksempurnaan dari kehidupan. Tidak semua harapan sesuai dengan kenyataan; ada kegelisahan, ketakutan, sakit, kesedihan, kekecewaan, kehilangan dan semua ketidakpuasan yang dapat dirangkum dalam satu kata, ’dukkha’. Tidak mudah dan tidak akan pernah mudah ketika harus berhadapan dengan kenyataan tentang dukkha. Pikiran kita cenderung berpikir “seharusnya” pada apa yang terjadi. Sulit menerima apa yang terjadi inilah salah satu beban yang kerap dipanggul kemana-mana. Menerima dan memaafkan adalah langkah awal untuk meletakkan beban. Sulit..., memang! Tetapi bukan berarti tidak bisa! Belajar untuk menerima tanpa ’tapi’, menerima berarti tidak menyesali, menerima berarti mau bangkit kembali!

Tak dapat dipungkiri ada segenap dukkha dalam kehidupan ini, tetapi itu semua tidak mengurangi keindahan dari kehidupan. Hidup ini tetap saja indah walau tidak sempurna. Hanya karena dibutakan oleh kebodohan (moha), maka keindahan itu tidak tampak. Benar ada dukkha dalam kehidupan kita tetapi itu bukan milik kita, mereka hanya bagian dari kita. Sudah sangat lama pikiran kita tersesat, kita begitu percaya pada apa yang kita lihat, dengar dan rasakan. Kita anggap semua adalah milik kita. Yang mana milik kita yang sesungguhnya? Semua datang dan pergi dengan sendirinya sesuai dengan kondisi yang ada.

Ketidakmampuan untuk memahami perubahanlah yang mengakibatkan harus adanya dukkha yang tidak perlu. Kerentaan, sakit, kematian dan perpisahan dengan yang dicintai, disenangi adalah wujud dari perubahan yang sulit untuk dihadapi. Karena sulit, maka Sang Buddha menganjurkan untuk kita merenungkan kerap kali semua itu sebagai suatu kewajaran. Ketika kita mampu melihat perubahan yang terjadi sebagai suatu kewajaran, maka berangsur-angsur dukkha itu akan sirna, kegelisahan akan lenyap dan keindahan hidup akan nampak. Inilah kekuatan Dhamma yang mampu membuat hidup yang tidak sempuna ini menjadi tetap indah.

Pada masa lampau, ketika Guru Agung kita Sang Buddha menyadarkan seorang ibu yang bernama Kisagotami tentang kewajaran suatu perpisahan dari yang dicintai, disayangi, kewajaran dari kematian. Ketika Kisagotami mampu melihat kewajaran tersebut, maka kegelisahan dan kesedihannya sirna. Pada saat ini pun demikian, ada sebuah keluarga suatu ketika mendapati bahwa balitanya ada perbedaan dari bayi lucu yang lain. Mereka mendapati kuku-kuku putra kesayangannya berwarna sedikit kebiru-biruan, setelah diperiksa keberapa dokter ahli, ternyata putra mereka mengalami kelainan jantung, dokter mengatakan jantungnya “bocor.” Betapa terkejutnya mereka mendengar hal itu, kepala mereka terisi penuh tentang hal-hal yang tidak diharapkan yang akan terjadi di kemudian hari, kebahagiaan perlahan berubah; batin menjadi sedih, gelisah, takut dan apalah…., tetapi, lambat laun ketika mereka sering berkunjung ke tempat dimana putranya dirawat, mereka mulai melihat sekitar, mulai benar-benar memperhatikan sekitar dan ternyata…, apa yang mereka alami juga dialami oleh orang tua lain, oleh banyak orang tua lain, ternyata mereka tidak sendiri ada banyak yang mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah. Kesedihan mereka mulai mereda, kekhawatiran dan ketakutan berangsur-angsur pergi. Mereka mampu melihat kewajaran, sambil tetap berjuang tanpa lagi memanggul beban kesedihan.

Jadi, masalah tidak terletak pada perubahan yang terjadi, tetapi lebih pada bagaimana kita menyikapi perubahan tersebut. Bila kita mampu memandang perubahan sebagai suatu kewajaran, maka kita mempunyai kekuatan lebih untuk menghadapinya. Bila kita mampu memandang setiap perubahan yang tidak menyenangkan sebagai bayar hutang, inilah sikap batin yang lebih membahagiakan karena tidak perlu ada yang dipersalahkan. Sang Buddha telah menyadarkan bahwa kita adalah pewaris kamma kita sendiri.

Hiduplah sesuai Dhamma karena Dhamma mampu menyembuhkan segala dukkha dahulu, kini, maupun akan datang karena Dhamma tak lapuk oleh waktu. Pahamilah perubahan…, sadarlah akan kenyataan, jangan tertipu.

Semogga semua makhluk hidup berbahagia.

Dibaca : 3276 kali