x

Belenggu

Na ve kadariyā devalokaṁ vajanti bālā have ṭappasaṁ santidaṁ
Dhῑro ca dānaṁ anumodamāno teneva so hoti sukhῑparattha

Sesungguhnya orang kikir tidak dapat pergi ke alam dewa, orang bodoh tidak memuji kemurahan hati, akan tetapi orang bijaksana senang dalam memberi, dan karenanya ia akan bergembira di alam berikutnya.
(Dhammapada 177)

    DOWNLOAD AUDIO

Sejatinya di dalam benak setiap makhluk, seperti para dewa, manusia dan makhluk hidup lainnya, muncul keinginan untuk selalu berada dalam situasi nyaman dan menikmati suatu kehidupan yang penuh dengan kedamaian. Mereka tidak berharap menjadi musuh, seteru atau pecundang bagi yang lainnya. Tidak juga mereka berharap untuk menjadi makhluk yang gemar menyakiti makhluk hidup lain, berlaku kasar, kejam atau mengerahkan kekuatan jahat atas dorongan materi.
Semua makhluk hidup menghendaki rasa aman, damai, terbebas dari rasa takut dan merasa berbahagia dalam jangka waktu lama, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, para makhluk tersebut selalu dalam bahaya, seperti larut dalam kesedihan berkepanjangan dan didera penderitaan. Apakah hal-hal yang menjadi sebab munculnya situasi ini?
Saat ini kita mendengar suara-suara ramai dari berbagai belahan dunia, hiruk pikuk masyarakat luas tentang keinginan untuk membentuk dunia yang damai serta adanya kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Dunia kita akhirnya akan menjadi suatu tempat tinggal yang nyaman dan berbahagia jika kita bisa merealisasi impian tersebut, tetapi faktanya, impian untuk mengangkat harkat hidup manusia tersebut masih jauh dari harapan. Jikalau keadaannya selalu demikian, kemudian muncul pertanyaan, apa yang menyebabkan sulitnya keluar dari rasa frustasi itu?
Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah Issā dan Macchariya sebagai dua belenggu yang menjadi sebab utama ketidakbahagiaan semua makhluk.
Issā adalah perasaan cemburu atau irihati, perasaan irihati inilah yang menjadi sebab munculnya kehendak jahat kepada seseorang atau suatu makhluk yang berseberangan dengan kita. Siapapun juga, jikalau selalu dipenuhi perasaan irihati, maka hidupnya tidak akan menjadi tenang meskipun ia selalu berkata ingin hidup damai dan bahagia. Ketidakbahagiaan dari orang yang selalu irihati atas keberhasilan orang lain timbul karena hatinya dipenuhi kehendak jahat. Rasa irihatinya melihat kesuksesan pihak lain membakar dirinya dari dalam. Banyak orang hidup menderita karena dipenuhi perasaan irihati, tidak kurang dan tidak lebih yang ingin dikatakan adalah obyek rasa irinya benar-benar telah menjadi musuhnya.
Karakteristik irihati adalah munculnya keengganan untuk melihat kekayaan dan kemajuan orang lain. Irihati bersifat merusak ke dalam diri, karena akan memunculkan perasaan dengki dan nafsu jahat, perasaan irihati mengakibatkan penderitaan, jikalau belenggu ini tidak diputuskan, ia akan terbawa sampai ke kehidupan mendatang.
Orang yang irihati merasa benci melihat kemajuan dan kebahagiaan pihak lain. Jadi, karakteristik irihati adalah munculnya perasaan tidak suka melihat kesejahteraan orang lain. Ia tidak suka melihat orang lain lebih maju, dipromosikan pada kedudukan yang lebih tinggi, tampan atau cantik serta lebih sukses. Otomatis orang yang dipenuhi perasaan irihati lebih dulu menderita dibanding obyeknya.
Macchariya adalah pikiran picik yang membuat enggan melihak pihak lain lebih baik dibanding dirinya. Jikalau dihubungkan dengan sesuatu yang bersifat materi macchariya berarti sifat kikir.
Timbulnya sifat kikir pada umumnya disebabkan adanya anggapan bahwa mereka berhak seutuhnya atas harta kepemilikan yang didapatkan dari hasil jerih payahnya sendiri. Anggapan seperti itu tidak sepenuhnya salah, kendati tidak sepenuhnya tepat, sebab di dalam realitas kehidupan manusia memiliki kemampuan berpikir, fisik dan kesempatan yang tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Ada yang lemah, ada yang kuat, ada yang bodoh, ada yang jenius, ada yang mujur dan ada yang kurang beruntung.
Konsekuensinya perbedaan yang timbul akan menimbulkan hasil yang berbeda, termasuk pendapatan dan kesuksesan materi. Pada waktu yang sama diperlukan keseimbangan relatif untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil, sejahtera dan harmonis. Pada poin inilah, perlu adanya orang yang berlebihan materi untuk berbuat baik dengan cara mau berbagi.
Karakteristik kepemilikan sifat macchariya yang ekstrim adalah kecenderungan menyimpan rapat-rapat harta kepemilikannya untuk kepentingan dirinya, berhubungan dengan ketidakinginan pihak lain memilikinya atau berhubungan dengan obyek di mana ia terikat.
Ada enam jenis keterikatan atas harta benda sehubungan dengan sifat kikir ini, yakni:
1. Tempat tinggal,
2. Teman-teman atau sahabat dekat,
3. Barang berwujud seperti perabot rumah tangga dan lainnya,
4. Makanan dan minuman,
5. Pelajaran, dan
6. Puji-pujian.
Dua belenggu, Issā dan Macchariya membuat kita frustasi karena akan mendatangkan kesedihan, bahaya, pertentangan, permusuhan dan perkelahian. Yang perlu direnungkan lebih jauh adalah apa yang menyebabkan timbulnya perasaan irihati dan sifat kikir ini? Akar dari dua bentuk belenggu ini adalah rasa suka dan tidak suka.
Meskipun demikian, ada obat untuk menyingkirkan kedua bentuk perasaan negatif tersebut. Obat yang dimaksud adalah melihat, menyadari semua fenomena yang muncul dari keenam indrawi sebagaimana adanya. Setelah itu pada tahap awal lepaskan, uraikan bentuk-bentuk perasaan buruk tersebut serta perbanyak munculnya bentuk-bentuk pikiran yang baik.
Sumber:
Sakka Pañha Sutta

Dibaca : 3787 kali