x

Membebaskan Diri Dari Masalah Bukan Lari Dari Masalah

Sabbe saṅkhara anicca, Appamadena sampadetha

Segala yang terkondisi akan selalu berubah, berjuanglah 
dengan sungguh-sungguh untuk mencapai akhir dukkha 
(Mahaparinibbana Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Kehidupan manusia, makhluk menderita, para dewa ataupun para brahma, yang intinya bahwa makhluk yang masih berdiam di tiga puluh satu alam kehidupan ini pasti akan mengalami masalah. Buddha Gotama menguraikan Dhamma yang pertama yang dikenal dengan Dhammacakkappavattana Sutta (khotbah pemutaran roda Dhamma) yang intinya menguraikan tentang empat kebenaran mulia.  Kebenaran mulia yang pertama adalah tentang dukkha ariya sacca (tentang adanya penderitaan/ketidakpuasan). Dari kebenaran yang pertama ini bahwa Buddha Gotama sudah menjelaskan yang begitu realistis tentang sifat kehidupan ini. 

Kehidupan manusia dipenuhi oleh problim kehidupan. Dimulai dari masalah yang muncul dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan sekitar, dll. Masalah sangatlah kompleks, sehingga tidak salah orang-orang mengatakan yang kaya juga bisa  stres, bagaimana orang yang miskin. Mungkin tidak hanya stres yang dihadapi tetapi juga bisa menimbulkan depresi akibat tidak mau menerima keadaan yang ada. Maka sangat dibutuhkan kecerdasan, kecakapan, keahlian, keterampilan, dan adu kebolehan dengan tujuan yang sama yaitu mencerdaskan dan mencetak generasi muda yang berintelektual dan berperilaku baik dan benar sehingga mampu menghadapi masalah dalam situasi pekerjaan apapun yang dilakukan.

Tips-tips untuk membebaskan dari masalah?
Gunakan latihan setiap saat berikut ini sebagai jalan praktik Dhamma yang mana seyogianya sebagai umat Buddha yang mengerti jalan kebebasan, jalan tersebut disingkat menjadi KTBSRL (DALAM BAHASA INGGRIS: RADICL, RECOGNIZE IT, ACCEPT IT, DEPERSONALIZE IT, INVESTIGATE IT, CONTEMPLATE IMPERMANENCE, LET IT GO).

K - KENALILAH
Kenyataan alamiah yang terjadi pada manusia terdiri dari dualisme kehidupan yang bertolak belakang. Dalam ajaran Buddha Gotama dikenal dengan istilah Atthaloka Dhamma. Ada senang dan menderita, untung dan kurang beruntung, ada  orang yang terkenal dan ada orang yang kurang populer, ada orang yang baik dan buruk. 

Jika tidak memahami keadaan dualisme kehidupan ini, orang-orang akan merasakan kebingungan, bimbang, mudah goyah batinnya. Belajarlah dari sebuah pengalaman sehari-hari karena di dunia ini tidak ada yang disebut rahasia (Natthi loke raho nāma), kehidupan di dunia tidak ada yang perlu disembunyikan, apa yang kita inginkan akan bisa terlaksana, jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh.

T - TERIMALAH
Terimalah apapun keadaan atau kondisi sebagaimana adanya. Jika menolak keadaan yang tidak disukai akan mengakibatkan kilesa (kekotoran batin) berkembang. Kecenderungan sifat manusia pada umumnya menginginkan kebahagiaan. Sifat kebahagiaan biasanya ‘menikmati’. Segala sesuatu yang menyenangkan, yang membuat kita happy kecenderungan tidak mau berpisah alias lengket. Karena kehidupan ini berubah, sifat kebahagiaan pun berubah menjadi ketidaksenangan, akibatnya tidak menerima perubahan dan melekat pada kebahagiaan itu, inilah yang disebut kecenderungan manusia yang pertama. Kecenderungan manusia yang kedua adalah ‘menolak’ penderitaan yang ada. Tidak seorang pun yang mau kehidupannya diombang-ambing oleh masalah tapi kenyataannya pasti akan mengalami masalah.

Letak kebahagiaan seseorang bukan karena ia berstatus lebih tinggi atau rendah, bukan karena gelarnya doktor, profesor, bukan karena bhikkhu thera, mahathera, bukan pula karena dia kaum terkucil, akan tetapi karena mau menerima kenyataan yang ada. Dalam Sutta Pitaka, Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Uraggavagga, Vassala Sutta, Buddha mengatakan bahwa orang yang dikatakan manusia sampah ataupun tidak, bukan karena berstatus tinggi atau rendah tetapi karena perilaku, ucapan dan pikirannya yang menjadikan itu semua. 

B - BUKAN DIRI
Hukum kebenaran yang sifatnya universal, tidak akan bisa dibantah oleh siapapun, tidak terhalang oleh status sosial, ras, suku, budaya, agama, dll. Salah satu contoh ajaran Sang Buddha tentang Anattalakkhana Sutta, yang isinya mengenai ”ini bukan aku, ini bukan diriku dan ini bukan milikku”. Begitu juga dengan permasalahan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, tidak akan mampu dipertahankan karena sifatnya Anatta, tanpa inti yang kekal. Demikian pula aktivitas sehari-hari yang kita kerjakan, yang sifatnya menyenangkan atau tidak menyenangkan, ada kalanya kondisi batin selalu menentang keadaan yang ada dengan tujuan agar hidup dan kehidupan kita bahagia. Sesungguhnya kehidupan ini hanyalah proses daripada upada, thiti, bhanga (timbul/muncul, berproses, dan lenyap). Menyadari sifat kehidupan ini, anatta (tanpa inti yang kekal) seyogianya merenungkan kehidupan ini sebagaimana apa adanya. Orang yang mau menyadari perbuatan sehari-harinya, menggunakan kebijaksanaannya,bisa mengenal mana yang baik dan yang buruk (Yoniso-manasikāra).

S - SELIDIKILAH
Segala sesuatu yang muncul pasti ada sebabnya, sumber yang ada bukan dari satu sebab tunggal. Ada faktor-faktor yang mendukung hal tersebut. Buddha Gotama menginstruksikan kepada siswa-Nya baik para dewa dan manusia sebab terdekat munculnya konflik yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Janganlah kita malas untuk mencari tahu, jangan kita percaya pada siapapun tanpa ada pembuktian dari diri kita sendiri. Gunakan prinsip Dhamma yaitu ehipassiko (datang dan buktikan sendiri).

R - RENUNGKANLAH KETIDAK-KEKALAN
Renungkanlah ketidak-kekalan ini. Mulailah melihat ke dalam diri, lihatlah pribadi kita masing-masing. Amati kondisi gerak gerik tubuh jasmani dan batin ini. Selidiki dengan penuh perhatian proses yang ada. Ketakutan, kekecewaan, rasa tidak aman, stres akan kita temukan dalam proses tersebut. Namun, apakah bentuk perasaan, kesan-kesan, bentuk pikiran yang kita alami kekal? Sifat dari proses itu adalah muncul, berproses, dan lenyap maka disitulah kita mendapatkan pengetahuan (nana) tentang anicca (tidak kekal/berubah-ubah). Demikian pula formasi-formasi yang dikenal di luar kendali seseorang, maka seseorang mengalami apa yang dikatakan sebagai, “apapun yang muncul adalah munculnya penderitaan; apapun yang lenyap adalah lenyapnya penderitaan,” (SN 12:15).

L - LEPASKANLAH
Secara umum, datangnya dukkha (penderitaan) yang kita alami karena ulah perbuatan kita. Konsekuensi yang kita alami  saat ini, yang melalui enam landasan indera (salayatana) adalah akibat kamma masa lampau dan saat ini. 

Datangnya kebahagiaan dan penderitaan yang kita alami adalah sebuah pengalaman yang sifatnya alamiah, tidak dibuat-buat, terkondisi sesuai dengan bidangnya. Janganlah pernah melekat akan sesuatu yang kita alami, baik suka dan duka karena sifatnya berubah. Sifat perubahan yang terjadi dan kita tidak mau menerima perubahan itu maka itulah disebut sebagai “kelekatan (upadana)”. Belajarlah untuk rela melepas, mulai dari yang kecil dan hal yang mudah, lihat dari pengalaman sehari-hari dengan jelas sehingga kita mampu menerima perubahan kenyataan yang ada.

Sebagai kesimpulan bahwa sebagai perumahtangga atau sebagai bhikkhu mempunyai tujuan yang sama yaitu membebaskan diri dari penderitaan. Gunakan tips-tips di atas sebagai solusi menghadapi kehidupan untuk menuju sebuah kedamaian hidup. 

Pustaka: 
1.    Susila Sayalay. 2012. Unravelling The Mysteries Of Mind and body through Abhidhamma. Jakarta Barat: 2005 INWARD PATH PUBLISHER
2.    Sutta Nipata. Diterbitkan oleh: Vihara Bodhivamsa, Klaten
3.    Kitab Suci Digha Nikaya, Dhammacitta Press

Dibaca : 419 kali