x

Hal Yang Disarankan Oleh Orang Bijaksana

Tīṇīmāni, bhikkhave, paṇḍitapaññattāni sappurisapaññattāni

Para bhikkhu, tiga hal ini disarankan oleh para bijaksana,
disarankan oleh orang-orang yang agung. 
(Aṅguttara Nikāya 3.45-Paṇḍita Sutta)

 

    DOWNLOAD AUDIO

Setiap orang tentu menginginkan diri-nya menjadi orang baik. Selain dirinya menjadi baik, juga mengharapkan orang-orang di sekitarnya seperti pasangan hidup, anak, keluarga, sahabat, kerabat, sama dengan dirinya yaitu sama-sama baik. Karena memang orang yang baik selalu disenangi oleh setiap orang. Orang yang baik selalu senang berkumpul dengan orang yang baik pula. Demikian sebaliknya, orang yang jahat senang berkumpul dengan orang-orang yang sama dengan dirinya.

Cara agar bisa menjadi orang yang baik tentu dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Jika apa yang kita lakukan hanya menguntungkan diri sendiri namun merugikan pihak lain, maka itu belum dikatakan hal yang baik. Demikian pula sebaliknya, jika perbuatan yang kita lakukan hanya menguntungkan pihak lain namun membawa kerugian pada diri sendiri, ini juga belum dapat dikatakan baik, karena kriteria baik dalam Dhamma adalah hal yang tidak membawa kerugian bagi diri sendiri juga bagi pihak lain namun membawa manfaat bagi kedua belah pihak. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berusaha untuk melakukan hal-hal yang membawa manfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi makhluk lain. Dengan demikian apa yang kita lakukan akan dapat menjadikan diri kita baik, karena tidak ada cara lain untuk menjadi orang baik selain dengan berbuat baik.

Untuk melatih diri kita menjadi orang baik tentu banyak cara yang bisa dilakukan, mulai dari hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang besar. Namun selain hal-hal seperti itu, kita juga mesti mengerti apa saja perbuatan yang dilakukan oleh orang baik, atau ciri orang baik itu seperti apa? Dengan mengetahui ciri-ciri dari orang yang baik tersebut, kita akan bisa lebih mudah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Aṅguttara Nikāya 3.45-Paṇḍita Sutta, Sang Buddha menjelaskan ada tiga Dhamma sepatutnya dilakukan, yang merupakan ciri dari orang bajik. Dalam bahasa Pāli disebut Sappurisa Paññati. Sappurisa Paññati ini merupakan tiga hal yang disarankan oleh para bijaksana, disarankan oleh orang-orang yang agung. Tiga Dhamma tersebut yaitu:

1. Dāna

Dāna berasal dari Bahasa Pāli yang bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia kurang lebih berarti dana, amal, sedekah, pemberian, atau hadiah. Sedangkan kegiatan berkaitan dengan pemberian dana disebut berdana.

Dāna dalam ajaran Sang Buddha berperan sebagai landasan yang paling dasar dan mempunyai peranan yang sangat penting. Beberapa pengulas mengatakan bahwa makna dāna bisa bermacam-macam, tergantung dari pokok Dhamma di mana istilah itu terdapat. Makna dāna dalam empat Saṅgaha-dhamma ialah saling menunjang, mendukung atau tolong-menolong. Sebab, kata Saṅgaha-dhamma atau Saṅgaha-vatthu berarti sesuatu yang menjalin perhubungan, sesuatu yang mengikat persahabatan, atau sesuatu yang memberi manfaat bagi orang lain tanpa imbalan berupa materi apapun. Dalam lima tahap ajaran Anupubbikathā, istilah dana berarti memberikan sumbangan dengan pikiran yang murni, tulus, dan ikhlas. Dalam tiga dasar perbuatan bajik (Puñña kiriya-vatthu) istilah dāna mengacu pada perbuatan kebajikan yang menjurus pada penimbunan jasa dalam kehidupan sekarang maupun mendatang. Sementara itu, dāna dalam sepuluh kesempurnaan Dasaparamita merupakan prasarana penghancuran kekotoran batin demi pencapaian Pencerahan Agung.

Mengapa praktik berdana ini berada pada posisi pertama? Hal ini disebabkan; praktik ini telah dikenal secara umum oleh semua orang, merupakan praktik yang paling mudah, dan praktik yang memberikan hasil terkecil. Oleh karena itu, janganlah merasa puas bila telah mempraktikkannya. Pertahankanlah dan bila mungkin ditingkatkan lagi, sehingga akan menjadi landasan yang kuat untuk melaksanakan praktik yang lebih tinggi, seperti praktik moralitas dan meditasi.

2. Pabbajjā

Sāmaññaphala Sutta, Dīgha Nikāya merupakan salah satu sutta yang memaparkan perihal kehidupan pabbajjitā beserta manfaat yang diperoleh apabila mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh. Manfaat yang akan diperoleh dimulai dari yang bersifat biasa sampai yang bersifat luhur. Sang Buddha menjabarkan manfaat-manfaat dari melaksanakan pabbajjā antara lain; dihormati oleh orang lain tanpa memandang status sosial seperti kasta. Lebih dari itu, seseorang yang memasuki kehidupan pabbajjitā pun akan diperhatikan dan dicukupi kebutuhan hidupnya, bahkan akan mendapat perlindungan yang menjamin keselamatan hidupnya. Selain itu, manfaat yang lebih luhur dari praktik pabbajjitā yaitu mengurangi kelekatan terhadap jasmani, melatih diri untuk merasa puas dengan apa yang dimiliki seperti jubah yang dimiliki cukup dua setel, makan maksimal dua kali sehari (melatih diri dalam kesederhanaan). Dapat melatih diri untuk mengendalikan pintu-pintu indria dengan melaksanakan moralitas dari yang mendasar sampai yang tinggi, melatih konsentrasi atau meditasi, hingga pencapaian tingkatan-tingkatan batin.

3. Mātāpitū-upaṭṭhānaṁ

Mātāpitū-upaṭṭhānaṁ dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan membantu ibu dan ayah. Sang Buddha menyatakan bahwa orangtua sebagai guru awal (pubbācariya), dewa awal (pubbadevata), sebagai orang-orang yang pantas mendapatkan penghormatan (ahuneyya) dan bila menghormati serta menghargai mereka sama seperti hidup dengan Dewa Brahma. Beliau menempatkan orangtua sama luhurnya dengan para dewa. Dalam Aṅguttara Nikāya dapat kita jumpai pernyataan Sang Buddha tentang keluhuran orangtua: "Kunyatakan, O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang dua itu? Ibu dan ayah. Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana, bahkan itu pun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya saja dia mengangkat orangtuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka. Apakah alasan untuk hal ini? Orangtua telah berbuat banyak untuk anak mereka; mereka membesarkannya, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini. Tetapi, O para bhikkhu, seseorang yang mendorong orangtuanya yang tadinya belum percaya, membiasakan dan mengukuh-kan mereka dalam keyakinan (saddhā); yang mendorong orangtuanya yang tadinya belum bermoral, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam moralitas (sīla); yang mendorong orangtuanya yang sebelumnya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kedermawanan (cagā); yang mendorong orangtuanya yang sebelumnya gelap batin, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan (paññā), orang seperti itu, O para bhikkhu, telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya: dia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan" (Aṅguttara Nikāya I, 61). Bagi Sang Buddha, jasa kebajikan orangtua terhadap anaknya sangat berharga. Hampir-hampir tidak mungkin untuk mengukur nilai dari jasa-jasanya. Selain penjelasan tentang keluhuran orangtua, Sang Buddha juga memberikan petunjuk agar kita dapat membalas budi mereka sehingga kita pantas disebut anak yang berbakti.

Inilah tiga Dhamma yang patut kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari di mana hal ini disarankan oleh para bijaksana yang juga merupakan ciri dari orang bajik. Semoga dengan mengerti tiga hal ini, dapat kita melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita semua menjadi orang yang baik. Semoga semua makhluk berbahagia.

 

Sumber:

• Bhikkhu Sikkhānanda. Dana (Penjelasan di sertai cerita).

• Petikan Aṅguttara  Nikāya. Klaten: Wisma Meditasi dan Pelatihan Dhammaguna

• Jan Sañjīvaputta. Maṅgala Berkah Utama. Tanpa Kota: Lembaga Pelestari Dhamma.

• Walshe, Maurice. 2009. Dīgha Nikāya. Jakarta: Dhammacitta Press.

• http://suttacentral.net

Dibaca : 7239 kali