x

Aborsi Menurut Pandangan Agama Buddha

Idha tappati pecca tappati, pāpakāri ubhayattha tappati 
Pāpaṁ me katanti tappati, bhiyyo tappati duggatiṁ gato 

Di dunia ini ia menderita, di dunia sana ia menderita; pelaku kejahatan menderita di kedua dunia itu. Ia akan meratap ketika berpikir, aku telah berbuat jahat, dan ia akan lebih menderita lagi ketika berada di alam sengsara.
(Dhammapada syair 17)

    DOWNLOAD AUDIO

Pengertian Aborsi adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Apabila janin selamat sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran prematur. 
Dalam ilmu kedokteran, istilah-istilah ini digunakan untuk membedakan Aborsi:
1.    Gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan atau sebab-sebab alamiah;
2.    Pengguguran kandungan yang disengaja;
Termasuk di dalamnya adalah
1.    Pengguguran yang dilakukan karena kehamilan tersebut mengancam kesehatan jasmani dan rohani sang ibu. Kadang-kadang dilakukan sesudah pemerkosaan;
2.    Pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat;
3.    Pengguguran yang dilakukan untuk alasan-alasan lain;
Saat ini aborsi masih merupakan masalah kontroversial di masyarakat Indonesia, namun terlepas dari hal tersebut, aborsi diindikasikan sebagai masalah kesehatan masyarakat karena memberikan dampak pada kesakitan dan kematian ibu. Sebagaimana diketahui penyebab utama kematian ibu hamil dan melahirkan adalah pendarahan, infeksi dan eklampsia. Namun sebenarnya aborsi juga merupakan penyebab kematian ibu, hanya saja muncul dalam bentuk komplikasi pendarahan dan sepsis. Akan tetapi, kematian ibu yang disebabkan komplikasi aborsi sering tidak muncul dalam laporan kematian. Namun dilaporkan sebagai pendarahan atau sepsis. Hal itu terjadi karena hingga saat ini aborsi masih merupakan masalah kontroversial di masyarakat.
Di negara-negara yang tidak mengijinkan aborsi seperti di Indonesia, banyak perempuan terpaksa mencari pelayanan aborsi tidak aman. Aborsi yang tidak aman adalah penghentian kehamilan yang tidak diinginkan yang dilakukan oleh tenaga yang tidak terlatih. Definisi WHO dari 46 juta aborsi/tahun, 20 juta dilakukan dengan tidak aman, 800 wanita diantaranya meninggal karena komplikasi aborsi tidak aman. WHO juga memperkirakan ada 4,2 juta aborsi dilakukan pertahun, 750.000 – 1,5 juta dilakukan di Indonesia. 2500 orang diantaranya meninggal dunia. 
Apa yang menyebabkan seorang ibu atau wanita tega melakukan aborsi?
1.    Keluarga yang tidak siap karena me-miliki ekonomi paspasan sehingga cenderung bersikap menolak kelahiran anak;
2.    Masyarakat cenderung menyisihkan dan menyudutkan wanita yang hamil di luar nikah. Wanita disalahkan. Tidak ditolong tetapi malah ditekan;
3.    Ada aturan perusahaan yang tidak memperbolehkan karyawannya hamil (meskipun punya suami) selama dalam kontrak dan kalau ketahuan hamil akan diberhentikan dari pekerjaannya;
4.    Karena dari pergaulan bebas para remaja;
5.    Dari segi medis diketahui umur reproduksi wanita sehat 20-30 tahun. Bila seorang wanita hamil di luar batasan umur itu akan masuk dalam kriteria resiko tinggi.
Menurut pandangan agama Buddha apakah melakukan aborsi berarti melakukan pembunuhan? Dalam pandangan agama Buddha aborsi adalah suatu tindakan pengguguran kandungan atau membunuh makhluk hidup yang sudah ada dalam kandungan seorang ibu.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi terjadinya makhluk hidup:
1.    Adanya ayah dan ibu (ibu masa subur);
2.    Terjadinya pertemuan sel telur dan sperma;
3.    Adanya gandarwa, kesadaran penerusan dalam siklus kehidupan baru (patisandhi citta) kelanjutan dari kesadaran ajal, yang memiliki energi kamma.
Dari penjelasan di atas, agama Buddha menentang dan tidak menyetujui adanya tindakan aborsi karena telah melanggar Pañcasīla Buddhis, khususnya sīla pertama. Suatu pembunuhan telah terjadi bila terdapat lima faktor sebagai berikut: 
1.    Adanya makhluk hidup;
2.    Menyadari ada makhluk hidup;
3.    Adanya kehendak;
4.    Melakukan pembunuhan;
5.    Matinya makhluk hidup.
Dalam Majjhima Nikāya 135, Sang Buddha bersabda “Seorang pria dan wanita yang membunuh makhluk hidup kejam dan gemar memukul serta membunuh tanpa belas kasihan kepada makhluk hidup, akibat perbuatan yang telah dilakukan itu akan dilahirkan kembali sebagai manusia dimana saja ia akan tumimbal lahir, umurnya tidak panjang.”

Dimanakah korban aborsi dilahirkan?
Menurut pandangan agama Buddha seorang anak yang meninggal dunia akan dilahirkan sesuai dengan perbuatannya. Ada pandangan salah dengan mengatakan bahwa apabila bayi itu meninggal dunia ia akan dilahirkan di surga, dengan alasan karena bayi itu belum berbuat jahat.

Mengapa seorang anak memiliki umur yang pendek? 
Karena anak ini mempunyai kamma yang berat seperti suka melaku-kan pembunuhan makhluk hidup di kehidupan yang lampau. Jadi tidak selamanya apabila seorang anak meninggal di usia muda (baik keguguran ataupun aborsi/digugurkan secara sengaja) akan dilahirkan di alam sengsara. Semua ini tergantung dari kamma si anak itu sendiri.

Sebuah kisah nyata akibat dari aborsi
Pada suatu hari ada seorang wanita mendatangi orang pintar. Wanita ini ingin berkonsultasi ketika ia bertemu dengan orang pintar ini. Ia bertanya, ’saya sudah berhari-hari tidak bisa tidur dengan nyenyak sepanjang malam. Saya selalu terbangun dan tertidur lagi. Ketika saya tertidur lagi saya bermimpi buruk, dan ini sudah berhari-hari. Tolong saya supaya bisa tidur dengan nyenyak, tanpa bermimpi buruk lagi. Saya sudah coba pakai obat penenang tetapi belum bisa tidur juga, hanya sementara saja. Mimpi yang saya alami didatangi anak laki-laki menyerang saya, ia mencekik, memotong lengan dan kaki saya, kadang mencongkel mata saya. Sangat mengerikan.’ Orang pintar itu melihat dengan kemampuan batinnya, ternyata wanita ini baru melakukan aborsi. Anak yang diaborsi ini menyimpan dendam dan akan membunuhnya. Mimpi buruk dan susah tidur akibat dari kammanya yang berbuah langsung. Menurut orang pintar ini anak laki-laki ini ingin membunuh si wanita ini, karena dia telah melakukan aborsi. Sebenarnya dia ingin melahirkan anak ini, tetapi karena sang pria tidak mau bertanggung jawab maka ia terpaksa melakukan aborsi. Orang pintar ini menyarankan agar ia datang ke vihara dan berlatih meditasi, tetapi wanita itu tidak bisa, karena ia kerja. Walaupun sudah diberi nasehat berkali-kali, ia tetap tidak mau, tak lama kemudian wanita itu menjadi gila.

Demikianlah cerita singkat ini, untuk menjadi renungan bagi kita semua. Oleh karena itu kita sebagai umat Buddha, hindarilah perbuatan aborsi ini. Karena apabila kita lakukan, akan memberikan akibat, baik di dunia ini maupun di kehidupan yang akan datang.

Dibaca : 5867 kali