x

Mengenal Hukum Kamma


    DOWNLOAD AUDIO

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat atau menyaksikan perbedaan-perbedaan yang sangat mencolok atau ’ketidakadilan’ yang terjadi di dalam masyarakat. Ada orang-orang yang sangat kaya, sedang yang lainnya sangat miskin, ada orang-orang yang terlahir dalam keadaan cacat fisik atau mental, buta, tuli, bisu, tidak mempunyai tangan dan kaki; sedangkan yang lainnya terlahir dengan fisik yang sempurna.

Ada orang yang lahir dengan wajah atau rupa yang buruk, sedangkan yang lainnya terlahir dengan wajah atau rupa yang elok. Ada orang-orang yang berumur panjang, sedangkan yang lainnya berumur pendek. Mengapa sampai terjadi perbedaan-perbedaan demikian? Apakah perbedaan tersebut terjadi secara kebetulan? Di dunia ini tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan.

Apakah perbedaan tersebut terjadi karena adanya suatu makhluk maha kuasa atau pencipta? Kalau memang ada makhluk demikian, tentunya makhluk tersebut sangat tidak adil dan sangat tidak berperikemanusiaan karena menyebabkan terjadinya perbedaan tersebut. Lalu mengapa?

Di dalam Cūḷakammavibhaṅga Sutta, Majjhima Nikāya, Sutta Pitaka, Sang Buddha menjelaskan bahwa:

”Semua makhluk adalah pemilik perbuatannya sendiri, pewaris dari perbuatannya sendiri, lahir dari perbuatannya sendiri, berhubungan dengan perbuatannya sendiri, dan tergantung pada perbuatannya sendiri. Perbuatanlah yang menentu-kan apakah seseorang menjadi hina atau mulia.”

Pengertian tentang Kamma

Kamma atau karma artinya perbuatan, dalam hal ini adalah perbuatan yang disertai dengan kehendak/niat/kemauan (cetana), jika tanpa kehendak, maka bukan merupakan kamma. Sesudah berkehendak, orang lalu berbuat dengan badan jasmani, perkataan, atau pikiran. Kamma ini akan berakibat atau memberikan akibat. Akibat yang timbul karena suatu perbuatan disebut kamma vipāka. Perbuatan baik akan mendatangkan kebahagiaan, sedangkan perbuatan buruk atau jahat akan mendatangkan penderitaan. Semua perbuatan pada umumnya menimbulkan akibat dan akibat ini juga merupakan sebab lain yang menghasilkan akibat yang lain, dan begitu seterusnya. Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati sekali dengan perbuatan kita supaya akibatnya senantiasa akan bersifat baik bagi kita.

Memang penyebab utama terjadinya perbedaan-perbedaan dari adanya berbagai macam keadaan di dunia ini adalah kamma, tetapi kamma ini bukanlah satu-satunya faktor tunggal. Hukum kamma hanya merupakan satu dari dua puluh empat sebab atau salah satu dari lima niyāma (hukum tertib) yang bekerja di alam semesta ini dan yang masing-masing merupakan hukum-hukum tersendiri. Kamma bukanlah suatu ajaran yang membuat manusia lekas putus asa, juga bukan ajaran tentang adanya nasib yang ditakdirkan, bukanlah fatalisme (menyerah pada keadaan dan berputus asa atau menyerah pada satu nasib tertentu yang sudah digariskan untuk seseorang). Perbuatan seseorang pada saat tertentu dapat pula mempengaruhi, meringankan akibat dari perbuatannya yang telah lalu. Sebab, andaikata tidak demikian halnya, maka mustahillah orang dapat terlepas sama sekali dari akibat kamma untuk selama-lamanya.

Hukum kamma ini bersifat adil, benar, tidak memihak dan berlaku bagi semua makhluk hidup tanpa kecuali; apakah mereka percaya atau tidak terhadap hukum kamma. Setiap makhluk bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing dan tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan oleh makhluk lain.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

 

Dibaca : 3754 kali