x

Sudahkah Membalas Budi Orangtua?

Mātāpitu upaṭṭhānaṁ, Etammaṅgalamuttamaṁ'ti

Membantu ayah dan ibu, Itulah berkah utama. 
(Maṅgala Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Kunjungilah orangtuamu. Ini perintah! Begitulah kira-kira perintah sebuah undang-undang di China yang diamandemen, Jumat, 28 Desember 2012. Undang-undang ini mewajibkan warganya untuk "sering" mengunjungi orangtua mereka. Jika tidak, siap-siaplah mereka diseret ke meja hijau. Namun, amandemen ini tak merinci seberapa sering seseorang harus mengunjungi orangtuanya. Media Pemerintah China mengatakan, ketentuan ini memungkinkan para orangtua yang merasa ditinggalkan oleh anak-anaknya mengajukan tuntutan ke pengadilan. Amandemen ini dilakukan menyusul meningkatnya laporan soal anak-anak yang menyia-nyiakan orangtua mereka. Pertumbuhan pesat di China menimbulkan masalah baru, yakni minimnya perhatian para warganya terhadap orangtua. Reformasi pasar selama tiga dekade ini mempercepat putusnya ikatan keluarga besar tradisional di China. Terkait hal ini, hanya ada beberapa alternatif, seperti panti jompo atau rumah pensiun bagi para orangtua yang tak dapat hidup sendiri. Media lokal di China juga melaporkan soal seorang nenek berusia 90 tahun yang terpaksa tinggal di kandang babi karena ditinggalkan anak laki-lakinya. Nenek ini tinggal di Jiangsu, provinsi makmur yang terletak di Timur China. Media-media memang kerap melaporkan berbagai kisah soal orangtua yang disia-siakan oleh anaknya. Ada pula kisah soal anak-anak yang berupaya mengambil kepemilikan aset orangtua secara ilegal. (Sumber: Koran Kompas)

Dalam pandangan Buddhis, jauh sebelum masa sekarang ini, Sang Buddha sudah mengajarkan kewajiban anak kepada orangtua yang terdapat dalam Sigalovada Sutta. Kalau dulu dari masih dalam kandungan sampai seorang anak menjadi besar, orangtua telah merawat, mencukupi kebutuhan makanan, memberikan pendidikan, hingga anak bisa hidup mandiri dan tidak tergantung kepada mereka. Maka sebagai seorang anak mempunyai kewajiban kepada orangtuanya. Kewajiban-kewajiban itu adalah:

1. Merawat orangtua
Ketika orangtua sakit atau sudah jompo anak punya kewajiban untuk merawatnya. Sebagai seorang anak harus sabar melayani dan merawat dengan cinta kasih dan kasih sayang kepada orangtua yang sedang sakit atau sudah tua renta, seperti yang orangtua lakukan terhadap anaknya,  ketika anak masih dalam kandungan seorang ibu, sang ibu menjaganya dengan hati-hati agar tidak terjadi sesuatu yang menyebabkan bayi dalam kandungannya celaka dan lahir tidak normal. Dan ketika ibu melahirkan, beliau mempertaruhkan jiwa dan raganya, ibu rela meninggal demi keselamatan bayinya, sungguh suatu pengorbanan yang sangat luar biasa. Orangtua begitu perhatian kepada anak. Maka ketika mereka sakit atau sudah renta, anak harus menjalankan kewajiban yaitu merawatnya.

2.  Menanggung beban kewajiban orangtua
Kewajiban yang kedua adalah menanggung segala kebutuhan-kebutuhan orangtua. Bila orangtua sudah tidak mampu lagi untuk bekerja dan sudah tidak bisa lagi mencukupi kebutuhan hidupnya, maka seorang anak mempunyai kewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Sebagaimana sewaktu anak masih kecil, semua kebutuhannya dipenuhi oleh orangtua dari makanan, pakaian, obat-obatan sampai dengan biaya pendidikan, semua itu dilakukan oleh orangtua sampai anak mampu hidup mandiri. Setelah anak sudah dewasa dan mampu hidup mandiri, maka anak wajib untuk menyokong kebutuhan orangtua.

3.    Mempertahankan nama baik keluarga
Anak harus mampu mempertahankan nama baik keluarga yang selama ini telah dijaga oleh orangtuanya. Jangan melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan buruknya nama keluarga. Jangan melakukan tindakan-tindakan kejahatan sehingga nama keluarga menjadi tercoreng, lakukanlah perbuatan-perbuatan baik yang membuat nama keluarga menjadi harum. Dalam Itivuttaka, dijelaskan ada tiga macam anak yaitu:
a.    Anak yang berkualitas tinggi dari pada orangtua, artinya sang anak lebih tinggi kualitas keyakinannya kepada Tiratana, lebih tinggi kualitas pelaksanaan silanya, serta lebih tinggi kualitas berdana/kedermawanannya.
b.    Anak yang berkualitas sama atau sebanding dengan orangtua, artinya kualitas keyakinan, kemoralan dan kedermawanan sang anak sama dengan orangtuanya.
c.    Anak yang berkualitas rendah dari-pada orangtua, artinya kualitas anak tentang keyakinan, kemoralan dan kedermawanan lebih rendah daripada orangtuanya. Tentunya dalam hal ini bila seorang anak ingin mempertahankan nama baik keluarga,  ia harus berkualitas lebih tinggi dari pada orangtuanya, minimal sebanding kualitasnya dengan orangtua, bukannya lebih rendah.

4.    Menjadikan diri pantas menerima warisan
Jagalah warisan yang telah diberikan orangtua, warisan terbagi dua, yaitu berbentuk materi dan tidak berbentuk materi. Yang berbentuk materi harus pertahankan jangan dihambur-hamburkan, diboros-boroskan untuk bersenang-senang, untuk berfoya-foya, gunakanlah warisan yang berbentuk materi itu dengan baik. Dan hendaknya anak harus mampu menambah warisan materi yang diberikan oleh orangtua bukan malah menghabiskannya. Warisan yang tidak berbentuk materipun harus dijaga, yaitu segala kebiasaan-kebiasaan baik yang sesuai dengan Dhamma yang sering dilakukan oleh orangtua, anak harus juga menjalankannya, dan meneruskan pada keturunannya. Seperti warisan yang diberikan oleh orangtua berupa ajaran dan pandangan benar (Dhamma) maka anakpun harus mewarisi dan berpedoman pada Dhamma.

5.    Melakukan pelimpahan jasa setelah orangtua meninggal
Sebagai kewajiban anak yang kelima adalah melakukan pelimpahan jasa bila orangtua telah meninggal. Di sini seorang anak tetap mempunyai kewajiban kepada orangtua walaupun orangtuanya telah tiada. Yaitu dengan melakukan jasa-jasa kebajikan, dan setelah melakukan kebajikan, kemudian dilimpahkan jasanya kepada orangtua yang telah meninggal, sehingga orangtuanya turut merasakan kebahagiaan atas jasa kebajikan yang dilakukan oleh anaknya.

Meskipun seorang anak telah melakukan lima kewajiban kepada orangtuanya, namun ini belum bisa dikatakan telah membalas Budi orangtua. Dalam Aṅguttara Nikāya kelompok dua dijelaskan bahwa, ada dua orang yang sangat sulit untuk dapat dibalas budinya oleh seseorang. Siapakah yang dua itu? Ibu dan Ayah. Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana bahkan perbuatan itupun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya saja dia mengangkat orangtuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka. Apakah alasan untuk hal ini? Orangtua berbuat banyak untuk anak mereka: mereka membesarkannya, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini. Tetapi bila seseorang yang mendorong orangtuanya yang tadinya tidak percaya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam keyakinan; yang mendorong orangtuanya yang tadinya tidak bermoral, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam moralitas; yang mendorong orangtuanya yang tadinya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kedermawanan; yang mendorong orangtuanya yang bodoh batinnya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan, orang seperti itu, barulah dikatakan telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya, dia telah membalas budi mereka. Lakukanlah kewajiban kita sebagai anak kepada orangtua! balaslah budi orangtua! Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari.

Dibaca : 521 kali