x

Dhammapada I, 16

Idha modati pecca modati - katapuñño ubhayattha modati
So modati so pamodati - disvā kammavisuddhamattano.

Di dunia ini ia bergembira, di dunia sana ia bergembira; 
pelaku kebajikan bergembira di kedua dunia itu. Ia bergembira dan bersuka cita,
karena melihat perbuatannya sendiri yang bersih.
(Dhammapada I, 16)

    DOWNLOAD AUDIO

Ajaran Sammāsambuddha adalah:
-    Indah pada awalnya, yaitu dana dan sila. Dengan melaksanakan dana dan sila akan mendapat pahala kelahiran kembali di alam dewa yang bahagia. Terdapat 6 alam dewa: Catummaharajika deva-loka; Tavatimsa deva-loka; Yama deva-loka; Tusita deva-loka; Nimmanarati deva-loka; Paranimittavassavati deva-loka.
-    Indah pada pertengahannya, yaitu samadhi (konsentrasi pikiran). Dengan melaksanakan Samatha Bhavana atau Samadhi sehingga pikiran terkonsentrasi sangat mendalam (yang disebut jhana), maka pahalanya adalah kelahiran kembali di alam dewa brahma yang jauh lebih berbahagia daripada 6 alam dewa tersebut di atas.
-    Indah pada akhirnya, yaitu Paññā (kebijaksanaan). Dengan melaksanakan Vipassana Bhavana akan memperoleh kebijaksanaan yang dapat mengikis tiga akar kejahatan (keserakahan/lobha, kemarahan/dosa, kegelapan batin/moha) sehingga dapat mencapai tingkat-tingkat kesucian Sotapanna, Sakadagami, Anagami dan Arahat. Tingkat kesucian ini adalah pahala terbesar/tertinggi dan adalah tujuan akhir dari ajaran Sammāsambuddha, yaitu mengakhiri tumimbal lahir (dukkha). Dana, sila dan samadhi tidak dapat mengakhiri tumimbal lahir (dukkha).

Berikut ini diceritakan kisah seorang upasaka bernama Dhammika yang terdapat dalam Kitab Dhammapada Atthakatha. Ia seorang umat yang gemar berdana dan melaksanakan sila. Setelah kematian, ia terlahir kembali di alam surga Tusita. Di dunia ia berbahagia, di alam surga Tusita ia lebih berbahagia lagi.

Kisah Upasaka Dhammika
Di Savatthi ada seseorang yang bernama Dhammika. Ia seorang umat yang berbudi luhur dan sangat gemar memberikan dana. Selain sering memberikan dana makanan serta kebutuhan lain kepada para bhikkhu secara tetap, juga sering berdana pada waktu-waktu yang istimewa. Pada kenyataannya, ia merupakan pemimpin dari lima ratus umat Buddha yang berbudi luhur dan tinggal di dekat Savatthi.

Dhammika mempunyai tujuh orang putra dan tujuh orang putri. Sama seperti ayahnya, mereka semuanya berbudi dan tekun berdana. Ketika Dhammika jatuh sakit, dan berbaring di tempat tidurnya ia membuat permohonan kepada Sangha untuk datang kepadanya untuk membacakan paritta-paritta suci di samping pembaringannya.

Guru Agung Buddha Gotama mengutus sejumlah bhikkhu pergi ke rumah Dhammika. Ketika para bhikkhu membacakan ”Mahasatipatthana Sutta”, enam kereta berkuda yang penuh hiasan dari enam alam surga datang mengundangnya pergi ke masing-masing alam. Dhammika berkata kepada mereka untuk menunggu sebentar, kuatir kalau mengganggu pembacaan sutta. Bhikkhu-bhikkhu itu mendengar Dhammika berkata demikian, maka mereka berpikir bahwa mereka diminta untuk berhenti, lalu mereka berhenti dan kemudian meninggalkan tempat itu.

Sesaat kemudian, Dhammika tersadar kembali dan tidak melihat para bhikkhu, ia bertanya kepada anak-anaknya mengapa mereka pergi. Anak-anaknya mengatakan bahwa ketika para bhikkhu sedang membaca sutta, ayahnya mengucapkan kata “tunggu” sehingga para bhikkhu menghentikan pembacaan sutta kemudian kembali ke vihara. Dhammika menjelaskan bahwa ia bukan berbicara kepada para bhikkhu, tetapi ia berbicara kepada enam utusan yang datang menjemput dari enam alam surga. Ia  memberitahu anak-anaknya tentang enam kereta kuda yang penuh hiasan sedang menunggunya di udara. Ia bertanya kepada anak-anaknya alam surga mana yang paling baik. Mereka mengatakan bahwa alam surga Tusita yang paling baik karena tempat berdiamnya bodhisatta (calon Buddha yang akan datang). Ia memutuskan untuk memilih kereta kuda dari surga Tusita dan meminta salah satu dari anaknya melemparkan karangan bunga pada kereta kuda tersebut. Kemudian ia meninggal dunia, dan terlahir kembali di surga Tusita.

Ketika para bhikkhu sudah tiba kembali di vihara, Guru Agung bertanya kepada mereka apakah upasaka Dhammika mendengarkan pembacaan sutta. Mereka menjawab bahwa pada awalnya upasaka mendengarkan pembacaan sutta, tetapi pada pertengahannya ia berkata “tunggu” sehingga mereka menghentikan pembacaan paritta dan kemudian kembali ke vihara. Guru Agung menjelaskan bahwa upasaka tidak berbicara kepada mereka, tetapi ia berbicara kepada enam utusan dari enam alam surga untuk tunggu karena ia tidak ingin pembacaan sutta terganggu. Ia sudah terlahir kembali di alam surga Tusita. Kemudian Guru Agung mengucapkan Dhammapada syair 16 berikut ini:        
Idha modati pecca modati,
katapuñño ubhayattha modati.
So modati so pamodati,
disvā kammavisuddhamattano.
Di dunia ini ia bergembira, di dunia sana ia bergembira; pelaku kebajikan bergembira di kedua dunia itu. Ia bergembira dan bersuka cita karena melihat perbuatannya sendiri yang bersih.

Demikianlah orang berbudi luhur berbahagia di dunia ini sama seperti di alam berikutnya.

Dibaca : 2960 kali