x

Banjir Nafsu Inderawi

Na kahāpaṇa vassena Titti kāmesu vijjati
Appasādā dukhā kāmā Iti viññāya paṇḍito

Nafsu keinginan tidak pernah terpuaskan, meskipun oleh hujan emas,
Orang bijaksana memahami bahwa nafsu keinginan memang membawa sedikit kepuasan, namun akan lebih banyak membawa penderitan.
(Dhammapada 14:8)

    DOWNLOAD AUDIO

Hujan yang mengguyur kota Jakarta beberapa hari ini menyebabkan banjir di mana-mana. Banyak orang yang merasa dirugikan dari peristiwa, yang merupakan fenomena alam ini. Para usahawan menjadi terganggu karena terhambatnya sarana transportasi, harta benda yang kita kumpulkan di rumah seperti alat-alat elektronik, karpet, meja, kursi juga ikut terendam oleh banjir ini. Tetapi ada sebagian orang yang mendapat keuntungan dari banjir kali ini. Para pemilik gerobak sampah dapat membantu menyebrangkan orang dan mendapat uang dari jasa menyebrangkan itu. Akan tetapi antara yang mendapat keuntungan dengan yang mengalami kerugian tentu lebih banyak yang merasa dirugikan. Inilah dampak dari banjir yang menimpa ibu kota beberapa hari terakhir ini.

Dalam Dīgha Nikāya Sangīti Sutta, Sang Buddha mengelompokkan ada empat macam banjir (ogha): banjir nafsu inderawi (kāmaogha), banjir penjelmaan (Bhavaogha), banjir pandangan (diṭṭhogha), banjir kebodohan (avijjogha).

Banjir nafsu indriawi
Nafsu indria ini terdiri dari dua:
1. Kilesa kāma (nafsu yang rendah yang disebabkan kilesa). Kilesa merupakan kekotoran batin seperti ketamakan, kebencian, kebodohan batin, kesombongan, kekeliruan, keraguan, kemalasan, kegelisahan, tidak tahu malu untuk berbuat jahat dan tidak takut akan akibatnya. Ini merupakan banjir yang ada dalam diri kita yang dapat menenggelamkan kita, menghanyutkan diri kita menuju pada penderitaan. 
2.  Vatthukāma yaitu nafsu indera terhadap obyek luar, yaitu bentuk, suara, bau, rasa, dan sentuhan yang disebabkan kāma guna. Ini merupakan hal yang sering kita alami, kita selalu terpikat oleh nafsu indera, oleh kesenangan indera: kita hanyut dan tenggelam dalam bentuk yang indah, bunyi yang merdu, bau yang wangi, rasa yang enak, dan sensasi jasmani yang menyenangkan. Tenggelam karena kita hanya memperhatikan apa yang tampak dari luar, sisi lahiriah saja, tidak melihat secara keseluruhan, tidak melihat ke dalam batin. 
Sebagai contoh, seorang pria yang melihat seorang wanita yang sangat cantik. Apa yang terjadi pada pria tersebut? Segera setelah pria itu melihat wajahnya, pria itu melihat semua yang lainnya. Apakah saudara mengerti? Bayangkan saja dalam pikiran saudara seorang pria yang melihat seorang wanita? Segera setelah matanya melihat sedikit, pikirannya melihat semua sisanya. Mengapa demikian cepat? Sebab pria itu tenggelam dalam ‘air’, air hayalan. Pria itu tenggelam, pria itu memikirkannya, berkhayal, dan terpaku di dalamnya. Artinya orang ini sudah mulai hanyut terbawa banjir kesenangan inderawi.

Banjir yang ada dalam diri kita ini dapat kita atasi dengan mempraktikkan sîla, samādhi dan paññā.

Sīla (moralitas)
Moralitas merupakan dasar awal yang merupakan pondasi bagi ia yang berusaha menyeberangi banjir nafsu ini. Tanpa sila orang akan hanyut pada banjir nafsu dan berakhir pada penderitaan. Sebagai umat Buddha, adalah dengan mempraktikkan Pañcasῑla Buddhis.

Samādhi (konsentrasi)
Mengarahkan pikiran pada obyek meditasi, tujuannya agar pikiran menjadi tenang dan memiliki kualitas pikiran yang luhur sehingga menekan kekotoran batin. sehingga batin memiliki kewaspadaan dan keseimbangan batin (upekkhā).

Paññā (kebijaksanaan)
Dengan vipassanā melihat muncul dan tengelamnya pañcakkhandā sehingga mengetahui dengan benar sebagaimana adanya. Samādhi yang dilandasi dengan pengembangan sîla, akan menghasilkan keuntungan besar. Paññā, yang dilandasi dengan samādhi akan memberi hasil besar dan keuntungan besar. Dengan sîla, samādhi dan paññā yang sempurna kita akan terbebas dari segala kekotoran batin dan akhirnya bebaslah diri kita dari segala jeratan.

Dibaca : 851 kali