x

Māgha Puja

-

    DOWNLOAD AUDIO

Māgha adalah nama sebuah bulan dalam penanggalan India kuno. Māghapūjā berarti pūjā yang dilakukan berkaitan dengan bulan Māgha. Dalam tradisi Buddhis, bulan Māgha memiliki arti yang penting karena pada bulan itu, suatu kejadian penting terjadi di masa kehidupan Sang Buddha. Peristiwa penting itu dikenal dengan istilah Cāturaṅgasannipāta, yakni pertemuan Sang Buddha dengan para bhikkhu yang memiliki ciri-ciri istimewa empat hal, yaitu:

1. Para bhikkhu yang hadir berjumlah 1250 bhikkhu.

2. Kesemua bhikkhu tersebut telah mencapai tingkat Arahatta yang ditahbiskan oleh Sang Buddha dengan cara Ehibhikkhu-upasampadā.

3. Mereka berkumpul tanpa ada undangan.

4.     Dalam pertemuan itu, Sang Buddha membabarkan Ovādapāṭimokkha atau Nasihat tentang Kemoralan Luhur.

Ovādapāṭimokkha ini berbentuk gubahan syair sebagai berikut:

Khantī paramaṁ tapo tītikkhā

Nibbānaṁ paramaṁ vadanti buddhā

Na hi pabbajito parūpaghātī

Samaõo hoti paraṁ viheṭhayanto.


Sabbapāpassa akaraṇaṁ

Kusalassūpasampadā

Sacittapariyodapanaṁ

Etaṁ buddhāna sāsanaṁ.


Anūpavādo anūpaghāto

Pāṭimokkhe ca saṁvaro

Mattaññutā ca bhattasmiṁ

Pantañca sayanāsanaṁ

Adhicitte ca āyogo

Etaṁ buddhāna sāsananti.


Arti syair di atas adalah:

Kesabaran, ketabahan adalah cara bertapa terbaik. Para Buddha bersabda: ’Nibbāna adalah yang tertinggi’. Seseorang yang melukai orang lain, menyakiti orang lain, bukanlah seorang petapa, bukan seorang samana.


Tak berbuat segala keburukan, mengembangkan kebajikan, menyucikan pikiran sendiri, adalah ajaran para Buddha.


Tak menghujat, tak menyakiti, terkendali dalam tata susila, tahu ukuran dalam hal makan, hidup di tempat yang tenang, berusaha mengembangkan pikiran luhur, adalah ajaran para Buddha.

Dalam syair di atas, Sang Buddha meletakkan kesabaran sebagai kebajikan utama dalam bertapa. Maksud bertapa di sini adalah usaha-usaha membakar hangus keburukan-keburukan dalam batin. Jadi dalam hal menggunakan nilai-nilai luhur untuk membakar hangus keburukan-keburukan, kesabaran adalah yang utama. Kesabaran di sini yang dimaksudkan adalah kemampuan dalam meredam hal-hal yang tidak menyenangkan, baik secara fisik seperti tahan terhadap panas, dingin, letih, lapar, dan sebagainya; maupun secara batin seperti tabah terhadap cercaan, hinaan, dan lain-lain.

Nibbāna atau kepadaman dikatakan sebagai yang tertinggi oleh karena tidak ada satu hal pun yang mampu memberi kebahagiaan lebih selain keberadaan padamnya kotoran-kotoran batin. Batin yang terbebas dari kotoran batin berarti terbebas pula dari derita yang diakibatkan olehnya.

Selanjutnya, Sang Buddha bersabda tentang kriteria seorang petapa. Menjadi petapa bukan sekadar karena melewati proses upacara penahbisan, atau bukan karena berpakaian tidak pada umumnya perumah tangga, melainkan karena usaha-usaha meredam hal-hal yang buruk yang muncul lewat pikiran, ucapan, dan perbuatan serta mengembangkan hal-hal yang mulia lewat pikiran, ucapan, dan perbuatan. Ini adalah kriteria seorang petapa menurut Sang Buddha, menurut para Buddha.

Dari peristiwa agung inilah kita kemudian mengetahui dan menyadari makna kesucian, makna kebahagiaan, menjadi muncul rasa salut terhadapnya, terdorong untuk mendapatkannya. Apabila seseorang sadar akan tanggung jawab terhadap tugas diri sendiri, bagaimana menciptakan kebahagiaan yang sejati bagi diri sendiri, ia akan dengan segera menapakkan langkah mengikuti jejak para suciwan. Ini adalah bagiamana seseorang dapat mengarahkan pikirannya ke hal-hal yang baik, yang benar, dan yang bermanfaat. Pengarahan pikiran pada hal-hal tersebut memberikan kebahagiaan yang lebih daripada kebahagiaan yang bisa diberikan oleh siapapun. Ini seperti tercantum dalam Dhammapada, Cittavagga:

Na taṁ mātā pitā kayirā

aṭṭe vāpi ca ṭātakā

sammāpaṇihitaṁ cittaṁ

seyyaso naṁ tato kare.


Artinya:

Bukan bunda, ayah, atau kerabat lainnya yang menjadikan seseorang luhur, namun pikiran yang ditegakkan dengan benar menjadikan dia luhur, lebih luhur daripada hal di atas.

Dibaca : 7713 kali