x

Meneladani Perjuangan Sang Buddha

Vayo dhamma saṅkhārā apamadena sampadetha

Segala yang terbentuk tidak kekal adanya,
berjuanglah dengan sungguh-sungguh
(Mahāparinibbāna Sutta - Dīgha Nikāya)

    DOWNLOAD AUDIO

Sebagai siswa Sang Buddha, kita harus mampu meneladani perjuangan Guru Agung kita, Buddha Gotama, di mana Beliau telah berjuang dengan penuh ketekunan dan keuletan. Tanpa adanya semangat tidak mungkin Beliau dapat mencapai Pencerahan. Kita dapat melihat sejarah perjuangan Beliau, di mana usaha perjuangan Beliau untuk menjadi Sammāsambuddha membutuhkan waktu yang sangat lama, yakni empat asaṅkheyya kappa dan seratus ribu kappa.
Seorang Bodhisatta dalam usaha untuk menjadi Sammāsambuddha juga telah memenuhi syarat-syarat, yaitu: ia adalah laki-laki, ia adalah manusia, telah memenuhi semua kondisi seperti kesempurnaan yang diperlukan untuk mencapai kesucian Arahatta dalam kehidupan itu, pernah bertemu dengan Sammāsambuddha pada masa yang lampau, ia adalah seorang petapa yang percaya hukum kamma atau pernah menjadi anggota Saïgha dalam masa kehidupan seorang Sammāsambuddha sebelumnya, telah mencapai jhāna, berusaha keras untuk mengembangkan kesempurnaan tanpa mempedulikan hidupnya, keinginan baik yang sangat kuat untuk mencapai ke-Buddha-an. Selain terpenuhinya syarat-syarat tersebut, Beliau juga telah menyempurnakan sepuluh parami. Tidak hanya itu saja perjuangan Beliau, tetapi dalam kelahiran-Nya yang terakhir, Beliau harus berjuang selama enam tahun untuk menjadi Sammāsambuddha.

Usaha untuk menjadi Sammāsambuddha tidak semudah yang kita bayangkan. Beliau berguru kepada para petapa yang terkenal di masa itu, seperti Āḷāra Kālāma dan Uddaka Rāmaputta, tetapi apa yang diajarkan oleh mereka tersebut tidak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan Beliau ketika masih berada di istana yaitu ’mengapa manusia bisa sakit, tua, dan mati’. Empat pemandangan tersebut menyebabkan Beliau meninggalkan istana untuk mencari obat supaya orang tidak tua, sakit, dan mati. Akhirnya Beliau melakukan pertapaan menyiksa diri di hutan Uruvela bersama lima petapa. Walaupun Beliau telah menyiksa diri, namun usaha Beliau untuk menemukan obat belum juga berhasil. Petapa Gotama mengubah kembali sistem bertapa, Beliau meninggalkan kelima teman-Nya dan pergi menuju ke arah Bodhgaya dan kemudian duduk bersila di bawah Pohon Bodhi dengan menghadap ke timur sambil bertekad ”Walaupun hanya kulit, urat, daging, dan tulang-Ku yang tertinggal, biarpun seluruh tubuh, daging, dan darah-Ku mengering, Aku tak akan bangkit dari meditasi-Ku sebelum Aku mencapai Penerangan Sempurna.” Akhirnya tepat pada saat bulan purnama, Beliau mencapai Penerangan Sempurna pada usia 35 tahun.

Perjuangan Setelah Menjadi Buddha

Setelah menjadi Sammāsambuddha, Beliau masih memiliki banyak rintangan, karena apa yang telah ditemukan oleh Beliau tidak secara mudah diterima oleh masyarakat yang ada pada saat itu. Walaupun banyak rintangan dalam mengajarkan Dhamma, Sang Buddha tidak putus asa. Tantangan paling berat adalah datang dari kaum Brahmana dan guru-guru agama yang ada pada waktu itu. Beliau sangat ditentang karena ajaran Beliau sangat bertentangan dengan konsep ajaran yang mereka ajarkan.

Dalam Brahmajāla Sutta, Dīgha Nikāya dijelaskan bahwa pada waktu itu terdapat enam puluh dua pandangan salah yang telah berkembang di India. Selama Beliau membabarkan Dhamma, sering mendapat fitnahan dan cacian, misalnya Cinca yang memfitnah Sang Buddha telah menghamilinya. Beliau juga pernah dicacimaki oleh seorang brahmana yang tidak senang karena adiknya masuk menjadi anggota Saïgha. Sang Buddha menghadapinya dengan penuh kesabaran tanpa membalas ucapan-ucapan kasar dari brahmana itu.

Selain itu, masih banyak lagi orang-orang yang tidak senang kepada Beliau, seperti Devadatta. Devadatta merupakan siswa yang rajin bermeditasi. Setelah mempraktikkan meditasi dan memperoleh abhiññā, Devadatta menjadi sombong, dan akhirnya ia memiliki keinginan untuk menjadi pengganti Sang Buddha. Ia juga pernah mencoba untuk membunuh Sang Buddha, namun tidak pernah berhasil, sampai akhirnya dia terjerumus ke dalam Neraka Avici karena perbuatannya itu. Tidak hanya manusia yang menghalangi perkembangan Dhamma tetapi juga makhluk sejenis Yakkha yang bernama Āḷavaka yang mengganggu Sang Buddha ketika dalam perjalanan membabarkan Dhamma dan pada akhirnya ia ditaklukkan. Beliau mampu menaklukkan Yakkha tersebut serta mengajaknya untuk belajar Dhamma. Walaupun mendapat banyak tantangan, Beliau tetap berjuang tanpa kenal lelah.

Apa yang harus kita lakukan sebagai siswa Sang Buddha? Karena saat sekarang ini kita telah mengenal ajaran Sang Buddha, hendaknya kita berjuang untuk meneladani sifat-sifat luhur Sang Buddha dan berjuang untuk mempraktikkan ajaran-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita sebagai siswa Sang Buddha mendapatkan manfaat dari apa yang telah diajarkan oleh Sang Buddha. Kita hendaknya juga merasa bangga bisa bertemu dengan ajaran yang telah diajarkan oleh seorang yang agung dan luhur, di mana sebagai akibatnya adalah timbulnya pengetahuan, pengertian benar, kebijaksanaan, dan keyakinan.

Sumber: Dīgha Nikāya dan Saṁyutta Nikāya

Dibaca : 5485 kali