x

Antara Selera Dan Kenyataan

-

    DOWNLOAD AUDIO

Banyak umat Buddha yang tidak menyadari ajaran-ajaran yang baik dari guru agung kita ”Sang Buddha”. Jika seseorang berniat mengikuti agama Buddha secara sungguh-sungguh dan ingin disebut umat Buddha yang baik, ia harus mempelajari cara hidup yang sesuai dengan ajaran-ajaran Sang Buddha.
Apabila seseorang mempelajari agama Buddha dengan sungguh-sungguh, maka ia akan mudah mengatasi semua masalah sulit yang timbul dalam kehidupan ini dengan mudah. Sang Buddha menerangkan masalah ini dengan ilmiah dan jelas sehingga mudah dimengerti.
Sang Buddha tidak pernah menyembunyikan pengetahuannya untuk diri sendiri dan mengharuskan pengikutnya hanya mendengar ajaran-ajaran-Nya saja. Beliau tidak pernah menjanjikan membawa seseorang ke surga hanya karena orang itu adalah pengikut-Nya. Jika Beliau berbuat demikian, ini merupakan janji yang salah, karena tidak ada seorangpun yang dapat membawa orang lain ke surga atau neraka. Seseorang dapat masuk surga atau terhindar dari neraka hanya karena perbuatannya sendiri. Seseorang yang tersesat hanya dapat ditolong dengan membimbingnya ke jalan yang benar.
Oleh karena itu, Sang Buddha menasihatkan murid-murid-Nya untuk mengikuti ajaran-ajaran dari contoh-contoh murni-Nya. Beliau membuktikan bahwa apa yang dikhotbahkan adalah benar, sehingga mereka dapat menikmati jasa (akibat) dari perbuatan-perbuatan baik. Fakta yang telah terbukti ini bertahan hingga kini dan tetap akan bertahan di kemudian hari.
Lalu apakah yang sebenarnya diajarkan oleh Sang Buddha kepada dunia ini terutama manusia? Sebenarnya Sang Buddha mengajarkan Dhamma tidak di luar dari persoalan kehidupan kita sehari-harinya dan bagaimana pula kita dapat keluar dari persoalan itu. Biasanya persoalan yang sering kita hadapi adalah pada saat kita berhadapan dengan perubahan yang tidak menyenangkan. Ketika kita berhadapan langsung dengan kenyataan yang tidak kita inginkan itu, kita biasanya terlalu memaksakan kehendak sehingga akibatnya terjadilah pertentangan antara selera dan kenyataan yang pada ujungnya menimbulkan berbagai macam ketegangan, kegelisahan, keluh-kesah, ratap tangis dan penderitaan yang berkepanjangan. Hal inilah yang sering terjadi dengan siswa yang tidak pernah belajar. Bagaimana dengan siswa yang belajar? Siswa Sang Buddha yang belajar akan berlatih melihat perubahan sebagaimana apa adanya. Mereka berjuang melatih diri sesuai petunjuk Sang Buddha, sehingga begitu mereka berhadapan dengan perubahan-perubahan dunia yang selalu mengombang-ambing perasaannya, mereka tidak terlalu bergembira apabila sedang mengalami kebahagiaan, keuntungan, pujian dan nama baik, ataupun terlalu bersedih apabila sedang mengalami penderitaan, kerugian, cacian, tersisih, dan sebagainya. Mereka datang silih berganti dengan tidak memberi tahu kita sebelumnya. Itulah ketidakpastian dalam hidup kita, ”jivita×aniyata×”. Mereka bukanlah hadiah ataupun hukuman yang harus diterima oleh setiap orang, melainkan hanya perubahan.
Untuk tujuan itulah kita harus mempelajari hidup dan kehidupan ini sampai kita mengerti dengan jelas. Seperti yang Sang Buddha nyatakan, bahwa Dukkha itu muncul sederhana saja yaitu kemelekatan dan kehausan (terikat). Selain perubahan-perubahan yang sudah disampaikan di atas, sering pula disampaikan himbauan, meskipun salah atau kurang tepat, yaitu kelahiran adalah Dukkha, mengalami usia tua adalah Dukkha, kematian adalah Dukkha.
Tetapi sesungguhnya kelahiran adalah bukan Dukkha, usia tua bukan Dukkha, kematian juga bukan Dukkha, bilamana di situ tidak ada kemelekatan kepada; kelahiran saya, usia tua saya, kematian saya. Pada saat kita melekat pada kelahiran, usia tua, sakit dan kematian sebagai ”milik saya” maka muncullah Dukkha. Bila kita tidak melekat, hal itu tidak akan mendatangkan Dukkha, karena itu hanyalah suatu proses perubahan badan jasmani. Badan jasmani berubah, kita sebut sebagai kelahiran, jasmani berubah dan kita sebut usia tua, jasmani berubah dan kita sebut kematian. Kita gagal melihat proses itu sebagai perubahan badan jasmani. Kita hanya melihat hal itu sebagai kelahiran, bahkan lebih jauh lagi kita berpikir sebagai ”kelahiran saya”, ”usia tua saya”, dan ”kematian saya”. Hal ini jelas tidak lain dari perwujudan yang muncul dari ”aku” yang merupakan sumber ketidaktahuan (avijja). Jadi, menerima perubahan sebagai ”kelahiran saya”, ”usia tua saya” dan ”kematian saya” adalah ketidaktahuan yang menyertai banyak orang.
Pada saat kita mengerti hal itu, (proses jasmani), maka kelahiran, usia tua dan kematian menjadi lenyap, maka konsep ”aku” juga lenyap pada saat yang sama. Bila tidak ada lagi yang disebut ”aku”, kondisi Dukkha juga tidak ada lagi.
Sang Buddha bersabda; ”Kelahiran adalah Dukkha, usia tua adalah Dukkha, kematian adalah Dukkha.” Banyak orang yang hampir semuanya salah mengerti akan hal ini. Mereka maksudkan keadaan kelahiran, keadaan usia tua, keadaan mati sebagai suatu Dukkha. Sebagian tidak dapat menjelaskannya. Sebagian lagi bersikap acuh, menjelaskan hal itu pada mereka sia-sia saja. Hal ini terjadi karena mereka melupakan apa yang Sang Buddha katakan; ”Saṅkhittena pañcupadanakkhandha Dukkha”, lima kelompok kemelekatan yang membentuk nāma-rūpa, bilamana disertai dengan ”melekat” akan muncul Dukkha. Lima kelompok kemelekatan adalah daya pikir dan zat fisik yang membentuk manusia. Bila di situ disertai adanya kemelekatan kepadanya sebagai ”aku” atau “milik-Ku”, maka lima kemelekatan itu adalah Dukkha. Jadi, lima kemelekatan itu adalah suatu beban yang berat, sumbernya dari Dukkha. Di dalamnya berisi ”api” dan ”batu bara”, yang bilamana disertai dengan adanya kemelekatan atau kehausan adalah sumbernya Dukkha. Sekarang misalnya, lima kemelekatan itu berada dalam keadaan mengalami usia tua. Bilamana pikiran tidak terikat kepadanya sebagai ”usia tua saya”, maka hal itu tidak akan menimbulkan Dukkha. Kita seharusnya mengerti bahwa sebenarnya badan adalah ”kosong” (anatta), perasaan adalah ”kosong”, ingatan adalah ”kosong”, bentuk pikiran adalah ”kosong”, dan kesadaran (viññāṇa) adalah ”kosong”. Kita harus mengerti bahwa semua yang mengalir dan berubah adalah ”kosong”. Tanpa adanya kemelekatan, hal itu tidak akan menimbulkan Dukkha.
Sama seperti mencabut rumput harus pada akarnya, agar tidak tumbuh lagi. Begitu juga mereka yang menginginkan Dukkha menjadi lenyap, maka Dukkha harus dicabut dari akarnya, yaitu kemelekatan kepada nāma-rūpa. Oleh karena itu kita harus melakukan pengamatan ke dalam (introspeksi) dan menyelidiki di mana Dukkha itu muncul tiap hari, dari mana asalnya, baru kemudian kita mencabut akarnya dengan tepat. Bilamana melekat pada lima kelompok kemelekatan (nāma-rūpa), maka timbullah Dukkha. Sama seperti mencabut rumput harus pada akarnya, agar tidak tumbuh lagi, begitu juga mereka yang menginginkan Dukkha menjadi lenyap, maka Dukkha harus dicabut dari akarnya yaitu kemelekatan kepada nāma-rūpa dan objek-objek paṭca indria. Oleh karena itu kita harus melakukan pengamatan ke dalam (introspeksi) dan menyelidiki di mana Dukkha itu muncul tiap hari, dari mana asalnya, baru kemudian kita mencabut akarnya dengan tepat. Jadi, di mana kita harus mengakhiri Dukkha? Melenyapkan Dukkha harus pada akarnya yaitu kemelekatan atau keterikatan pada sesuatu. Jadi, yang harus kita lakukan adalah menghentikan kemelekatan atau keterikatan. Begitu pula kekayaan, kekuasaan dan pangkat tidak akan menimbulkan Dukkha, bila tidak adanya kemelekatan atau keterikatan kepadanya.

Dibaca : 5362 kali