x

Meghiya

-

    DOWNLOAD AUDIO

Pada suatu ketika Yang Terberkahi berdiam di Calika, di Bukit Calika. Di sana, Y.M. Meghiya -yang pada waktu itu adalah pendamping Yang Terberkahi- menghampiri Yang Terberkahi, memberi hormat kepada Beliau, dan berkata sambil berdiri di satu sisi:

”Bhante, saya ingin pergi ke Jantugama untuk mengumpulkan dana makanan.”

”Engkau boleh melakukan apa yang kau pikir tepat, Meghiya.”

Maka Y.M. Meghiya setelah berpakaian di pagi hari, mengambil jubah serta mangkuknya -pergi ke Jantugama untuk mengumpulkan dana makanan. Setelah berkeliling mengumpulkan dana dan kemudian makan, dia pergi ke tepi Sungai Kimikala.

Di sana, ketika berjalan berkeliling untuk meregangkan kaki, dia melihat hutan mangga yang menyenangkan dan indah. Pada saat melihat hutan itu, dia berpikir, ”Sungguh menyenangkan hutan mangga ini, sungguh indah. Benar-benar tempat ini cocok bagi orang yang ingin berjuang dalam meditasi. Jika Yang Terberkahi mengizinkan, aku akan kembali ke hutan mangga ini untuk berjuang dalam meditasi.”

Kemudian Y.M. Meghiya menemui Yang Terberkahi dan berkata, ”Bhante, setelah mengumpulkan dana makanan dan makan di Jantugama, saya pergi ke tepi Sungai Kimikala. Ketika berjalan di sana, saya melihat hutan mangga yang menyenangkan dan indah, yang saya pikir cocok bagi orang yang ingin berjuang dalam meditasi. Jika Yang Terberkahi mengizinkan, saya akan pergi ke sana dan berjuang dalam meditasi."

”Tunggu sebentar Meghiya. Kita sedang sendirian di sini. Biarlah bhikkhu lain datang dahulu.”

Tetapi Y.M. Meghiya mengulangi permohonannya, ”Bhante, bagi Yang Terberkahi memang tidak ada lagi yang harus dicapai dan Beliau tidak perlu lagi menguatkan apa yang telah dicapai. Namun bagi saya, Bhante, masih ada yang harus dicapai dan saya perlu menguatkan apa yang telah saya capai. Jika Yang Terberkahi mengizinkan, saya akan pergi ke hutan mangga itu dan berjuang.”

Sekali lagi Yang Terberkahi memintanya untuk menunggu, dan sekali lagi Y.M. Meghiya mengajukan permohonannya untuk ketiga kalinya. Kemudian Yang Terberkahi berkata, ”Karena kamu bicara tentang berjuang, Meghiya, apa yang bisa kukatakan? Engkau boleh melakukan apa yang kau pikir tepat.”

Y.M. Meghiya kemudian berdiri dari tempat duduknya dan menghormat Yang Terberkahi. Sambil tetap menjaga Beliau berada di sebelah kanannya, Y.M. Meghiya pergi ke hutan mangga itu. Setelah tiba di sana, dia masuk ke dalam hutan dan duduk di bawah sebuah pohon untuk menghabiskan harinya di sana. Tetapi sementara berdiam di hutan mangga itu, tiga pemikiran yang jahat dan takbajik terus-menerus mengganggunya, yaitu: pemikiran sensual, pemikiran niat jahat, dan pemikiran kekerasan.

Maka dia berpikir, ”Benar-benar aneh, sungguh mengherankan! Aku telah meninggalkan rumah untuk masuk ke dalam kehidupan tak-berumah karena keyakinanku. Namun masih saja aku diganggu oleh tiga pemikiran yang jahat dan tak-bajik ini, yaitu: pemikiran sensual, pemikiran niat jahat dan pemikiran kekerasan.”

Kemudian Y.M. Meghiya kembali kepada Yang Terberkahi, dan setelah memberi hormat pada Beliau, dia menceritakan apa yang terjadi, ”Benar-benar aneh, sungguh mengherankan! Saya telah meninggalkan rumah untuk masuk ke dalam kehidupan tak-berumah karena keyakinan saya. Namun masih saja saya diganggu oleh tiga pemikiran yang jahat dan tak-bajik ini.”

”Meghiya, jika pikiran masih kurang matang untuk pembebasan, ada lima kondisi yang mendukung untuk membuatnya matang. Apakah yang lima itu?

”Meghiya, hal pertama yang membuat pikiran yang tidak matang menjadi matang untuk pembebasan adalah memiliki teman yang mulia, sahabat yang mulia, kawan yang mulia.”

”Kemudian, Meghiya, seorang bhikkhu harus bermoral, mengendalikan diri dengan peraturan Patimokkha, sempurna di dalam tindakan dan usaha, melihat bahaya di dalam kesalahan terkecil sekalipun. Setelah mengambil peraturan-peraturan latihan, dia harus berlatih diri di dalamnya. Inilah hal kedua yang membuat pikiran yang tidak matang menjadi matang untuk pembebasan.”

”Kemudian, Meghiya, pembicaraan di mana bhikkhu itu terlibat harus cocok dengan kehidupan yang sederhana dan membantu kejernihan mental; ini berarti pembicaraan tentang sedikitnya keinginan, tentang kepuasan, tentang kesendirian, tentang ketenangan, tentang pengerahan semangat, tentang moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan, pembebasan, dan tentang pengetahuan serta pandangan pembebasan. Jika seorang bhikkhu memperoleh kesempatan untuk terlibat di dalam pembicaraan tentang hal-hal itu dengan mudah dan tanpa kesulitan, inilah hal ketiga yang membuat pikiran yang tidak matang menjadi matang untuk pembebasan.”

”Kemudian, Meghiya, seorang bhikkhu hidup dengan semangat yang ditujukan untuk melepaskan semua yang tak-bajik dan mengumpulkan semua yang bajik, maka dia kokoh dan kuat di dalam usahanya, tidak melalaikan tugas-tugasnya sehubungan dengan kualitas-kualitas yang bajik. Inilah hal keempat yang membuat pikiran yang tidak matang menjadi matang untuk pembebasan.”

”Kemudian, Meghiya, seorang bhikkhu memiliki kebijaksanaan; dia dilengkapi dengan kebijaksanaan yang melihat muncul dan lenyapnya fenomena, yang agung dan menembus, yang menuju pada hancurnya penderitaan secara total. Inilah hal kelima yang membuat pikiran yang tidak matang menjadi matang untuk pembebasan.”

”Meghiya, bila seorang bhikkhu memiliki teman yang mulia, sahabat dan kawan yang mulia, dapat diharapkan bahwa dia akan menjadi bermoral ... bahwa dia akan terlibat di dalam pembicaraan yang cocok dengan kehidupan yang sederhana dan bermanfaat untuk kejernihan mental ... bahwa energinya akan dikerahkan untuk meninggalkan semua yang tak-bajik dan mengumpulkan semua yang bajik ... bahwa dia akan dilengkapi dengan kebijaksanaan yang membawa pada hancurnya penderitaan secara total.”

”Kemudian, Meghiya, bila seorang bhikkhu telah mantap dalam lima hal ini, dia harus mengembangkan empat hal lain: dia harus mengembangkan meditasi tentang kekotoran (tubuh) untuk menghilangkan nafsu; dia harus mengembangkan cinta kasih untuk meninggalkan niat jahat; dia harus mengembangkan kewaspadaan terhadap pernafasan untuk memotong pemikiran yang mengganggu; dia harus mengembangkan pengertian tentang ketidakkekalan untuk menghilangkan kesombongan tentang ’Aku’. Di dalam diri orang yang memahami ketidakkekalan, pemahaman tentang tanpa diri akan tertanam dengan mantap; dan orang yang memahami tanpa diri akan mencapai hapusnya kesombongan tentang ’Aku’ dan mencapai Nibbāna di dalam kehidupan ini juga.”

Sumber: Aṅguttara Nikāya IX, 3

Dibaca : 6031 kali