x

Berjuang Untuk Merdeka

Yo sahassaṁ sahassena, saṅgame mānuse jine
Ekañ ca jeyyam’attānaṁ, sa ve saṅgamajuttamo’ti

Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu-ribu pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri.
(Dhammapada 103)

    DOWNLOAD AUDIO

Hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi kita sekalian, karena kegiatan rutin kita bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 2008 hari kemerdekaan ke-63 negeri kita tercinta bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia Berjuang untuk Merdeka

Para pejuang yang lebih dikenal dengan istilah pahlawan bangsa Indonesia, telah bekerja keras membela tanah air Indonesia dengan melawan dan memerangi para penjajah dari bangsa lain. Para pahlawan berhasil mengusir penjajah, merebut kemerdekaan bangsa dan merayakannya secara resmi pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia. Merdeka! Bangsa Indonesia terbebas dari cengkraman penjajah yang merupakan musuh dari luar lingkungan bangsa dan negara.

Apakah dengan meraih kemerdekaan, bangsa Indonesia menjadi benar-benar terbebas dari cengkraman penjajah? Mari kita ikuti uraian lebih lanjut berikut ini.

Masalah Bangsa Secara Internal

Bangsa lain yang menjajah negara dan bangsa Indonesia seperti zaman penjajahan Belanda dan Jepang dahulu sudah tidak ada, akan tetapi bangsa kita masih ada masalah internal bangsa sendiri, berupa kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan di Indonesia sendiri masih banyak. Masalah-masalah itu sebenarnya menyangkut pribadi manusianya, tidak asing bagi kita seperti masalah pendidikan, pengangguran, kemiskinan materi, kemiskinan mental, dan sebagainya. Setelah kemiskinan mental, ancaman perpecahan bangsa.

Sebagai Individu Masih Punya Ikatan

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, individu-individu manusia Indonesia sendiri mempunyai adat dan budaya yang beraneka ragam dan masih kuat terkait ikatan pribadi dalam keluarga. Artinya, bagi seorang individu ada kesulitan dalam usaha melepaskan diri dari masalah ekonomi, pendidikan dan bekerja mencari nafkah, karena ikatan keluarga. Diri pribadi yang tidak mau pergi jauh dari keluarga, sulit meninggalkan keluarga, adalah masalah-masalah yang menjadi kendala pribadi terlihat sebagai ikatan. Diri pribadilah yang membuat itu terjadi, sebagaimana kita ketahui dalam konsep hukum kamma, tergantung pada si pelaku sendiri.

Kekuatan Kamma Individu Membuat Ikatan

Sebagaimana dikatakan dalam brahmaviharapharana bahwa semua makhluk adalah pemilik kamma (perbuatan) mereka sendiri, terwarisi oleh perbuatan mereka sendiri, lahir dari perbuatan mereka sendiri, berkerabat dengan perbuatan mereka sendiri, tergantung pada perbuatan mereka sendiri. Perbuatan apa pun yang akan mereka lakukan, baik atau pun buruk, perbuatan itulah yang akan mereka warisi.

Jadi, kamma masing-masing individu tetap tak akan bisa terpisah dengan si pemilik sebagai pelaku kamma itu sendiri, baik atau pun buruk.

Dalam Ariyamagga Sutta, Aṅguttara Nikāya 4.235 Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu, ada empat tipe kamma telah secara langsung terealisasi, terverifikasi, dan tertembus oleh-Ku. Apakah empat itu? 1). Ada kamma gelap dengan hasil yang gelap. 2). Ada kamma terang dengan hasil yang terang. 3). Ada kamma gelap dan terang dengan hasil yang gelap dan terang. 4). Ada kamma bukan gelap pun bukan terang dengan hasil yang bukan gelap pun bukan terang, menuju hancurnya kamma.

Dalam Ariyamagga Sutta, Aṅguttara Nikāya 4.235 lebih lanjut diuraikan bahwa Sang Buddha berkata, ”Ada kamma gelap dengan hasil yang gelap. Apakah kamma gelap dengan hasil yang gelap itu? Ada seseorang membangkitkan bentukan niat jasmani, niat berucap atau niat berpikir yang menyebabkan penderitaan. Setelah melakukannya, ia terlahir kembali di alam menderita. Ketika dia terlahir kembali di alam menderita, kontak-kontak yang menyebabkan penderitaan menyentuhnya. Karena disentuh oleh kontak-kontak yang menyebabkan penderitaan, dia mengalami perasaan-perasaan yang menderita, yang amat menyakitkan, seperti yang dialami para makhluk di alam neraka. Inilah yang disebut kamma gelap dengan hasil yang gelap.”

Dari uraian tersebut di atas, si pelaku membuat ikatan yang akan mencengkram dirinya sendiri, dengan berbuat buruk melalui jasmani, ucapan dan pikiran, sehingga ia tidak bisa bebas dari akibat perbuatan buruk itu, artinya dia sulit bisa merdeka.

Penjabaran berikutnya dalam Ariyamagga Sutta, Aṅguttara Nikāya 4.235 Sang Buddha berkata, ”Ada kamma terang dengan hasil yang terang. Apakah kamma terang dengan hasil yang terang itu? Ada seseorang membangkitkan bentukan niat jasmani, niat berucap atau niat berpikir yang tidak menyebabkan penderitaan. Setelah melakukannya, ia terlahir kembali di alam bahagia. Ketika dia terlahir kembali di alam bahagia, kontak-kontak yang tidak menyebabkan penderitaan menyentuhnya. Karena disentuh oleh kontak-kontak yang tidak menyebabkan penderitaan, dia mengalami perasaan-perasaan tidak menderita, yang amat menyenangkan, seperti yang dialami para dewa di Keagungan yang Cemerlang. Inilah yang disebut kamma terang dengan hasil yang terang.”

Dari penjelasan di atas, si pelaku berbuat baik melalui jasmani, ucapan dan pikiran, yang bisa memperpanjang proses kehidupan karena adanya ikatan dengan tumpukan buah dari perbuatan baik itu, artinya dia harus terus mengikuti dan menerima buah kamma baik yang masak, memperpanjang ikatan kamma baik sehingga belum bisa terbebas dari ikatan kamma itu sendiri.

Diceritakan juga dalam Ariyamagga Sutta, Aṅguttara Nikāya 4.235 bahwa Sang Buddha berkata, ”Ada kamma gelap dan terang dengan hasil yang gelap dan terang. Apakah kamma gelap dan terang dengan hasil yang gelap dan terang itu? Ada seseorang membangkitkan bentukan niat jasmani, niat berucap atau niat berpikir yang menyebabkan penderitaan dan juga yang tidak menyebabkan penderitaan. Setelah melakukannya, ia terlahir kembali di alam yang ia bisa menderita dan juga bisa bahagia. Ketika dia terlahir kembali di alam di mana ia bisa menderita dan bahagia, kontak-kontak yang menyebabkan penderitaan dan yang tidak menyebabkan penderitaan menyentuhnya. Karena disentuh oleh kontak-kontak yang menyebabkan penderitaan dan yang tidak menyebabkan penderitaan, dia mengalami perasaan-perasaan menderita dan perasaan-perasaan tidak menderita, seolah-olah bercampur antara yang amat menyakitkan dan yang amat menyenangkan, seperti yang terjadi di alam manusia, para dewa dan sebagian di alam-alam rendah. Inilah yang disebut kamma gelap dan terang dengan hasil yang gelap dan terang.”

Dalam hal seperti tersebut di atas, si pelaku berbuat buruk dan juga berbuat baik melalui jasmani, ucapan dan pikiran, yang tentunya bisa memperpanjang proses kehidupan juga, dengan adanya variasi antara tumpukan buah dari perbuatan buruk dan perbuatan baik itu. Oleh sebab itu, dia harus terus mengikuti dan menerima secara bervariasi pula masaknya buah kamma buruk dan kamma baik, tidak bisa juga bebas meskipun dari ikatan buah kamma baik, apalagi buah kamma buruk.

Merdeka, Melepas Ikatan Kamma

Dalam Ariyamagga Sutta, Aṅguttara Nikāya 4.235 Sang Buddha berkata, Apakah kamma bukan gelap pun bukan terang dengan hasil yang bukan gelap pun bukan terang, menuju hancurnya kamma itu? Pengertian Benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar. Inilah yang disebut kamma bukan gelap pun bukan terang dengan hasil yang bukan gelap pun bukan terang, menuju berakhirnya kamma, menurut Aṅguttara Nikāya 4.235. Sedangkan menurut Aṅguttara Nikāya 4.232, yang disebut kamma bukan gelap pun bukan terang dengan hasil yang bukan gelap pun bukan terang, yang menuju pada hancurnya kamma adalah niat untuk meninggalkan kamma gelap dengan hasil yang gelap, dan untuk meninggalkan kamma terang dengan hasil yang terang, dan untuk meninggalkan kamma gelap dan terang dengan hasil yang gelap dan terang.

Dalam perjuangan bukan dengan mengejar dan menyerang musuh keluar tetapi kebebasan/ kemerdekaan itu dapat diraih dengan memerangi musuh yang ada di dalam diri sendiri.

Sesuai dengan Dhammapada 103 tersebut di atas, penakluk yang sejati adalah orang yang berhasil menaklukkan dirinya sendiri, bukan dengan menaklukkan beribu-ribu musuh di medan pertempuran. Bukankah begitu? Oleh karena itu berbahagialah kita yang bisa melakukan suatu perjuangan melawan musuh berupa keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha) yang ada dalam diri sendiri.

Sumber:
- http://www.accesstoinsight.org/canon/sutta
- Petikan Aṅguttara Nikāya 2, Klaten

Dibaca : 3033 kali