x

Gaya Hidup Dan Perkembangan Mental

-

    DOWNLOAD AUDIO

Telah Sang Buddha tunjukkan kepada kita adanya model hidup atau cara hidup umat manusia yang terjadi pada saat itu. Bahkan bisa dikatakan mungkin sampai sekarang juga masih terjadi. Gaya yang pertama, banyak orang yang menjalani hidup dengan cara hidup yang berlebih-lebihan, mengikuti atau menuruti keinginan-keinginannya. Tampaknya keinginan-keinginan atau dorongan-dorongan hidup ini bagi sementara orang atau orang-orang tertentu dilihatnya sebagai sesuatu hal yang sangat penting sekali. Bahkan bisa dikatakan keinginan-keinginan itulah hidup. Sementara yang lain beranggapan bahwa, hidup kita ini hanya sekali oleh karena itu adalah kesempatan baik bagi setiap orang untuk menikmati segala kesenangan duniawi.
Orang-orang yang tidak mewaspadai terhadap kekuasaan dari keinginan-keinginan itu tentu saja akan larut. Dorongan-dorongan, tarikan-tarikan dari keinginan itu yang kalau diikuti tidak ada habis-habisnya. Keinginan-keinginan itu tentu enak, menyenangkan. Keinginan-keinginan ini memberikan hasil yang membahagiakan. Kalau kita ikuti terus-menerus terjadilah model hidup atau cara hidup yang berlebih-lebihan di dalam mengikuti nafsu-nafsu keinginan.

Keinginan-keinginan ini tentu saja bermacam-macam. Ada keinginan yang tampak atau bisa dilihat oleh mata, yaitu keinginan-keinginan akan benda atau barang-barang. Ada pula keinginan-keinginan yang tidak tampak mata, yaitu keinginan terhadap status, pangkat, atau jabatan. Inilah sebagai model hidup yang pertama.

Komentar Sang Buddha, model hidup yang pertama ini, rendah, tidak berguna, tidak bisa meningkatkan hidup kita, tidak bermanfaat, dan lain-lainnya. Sebenarnya Sang Buddha ingin menunjukkan kepada kita bahwa kalau orang dikuasai oleh nafsu-nafsu keinginan, pikiran atau batin menjadi lemah. Pikiran dan batin yang tidak berdaya itu memang menjadikan mental tidak sehat dan rapuh, karena tidak jarang orang-orang yang mungkin bahagia, gembira, senang hidupnya karena menuruti apa yang diinginkan justru hidupnya menjadi stres. Mentalnya itu menjadi was-was, takut, cemas, khawatir, bahkan mentalnya ini menjadi rapuh, tidak berkembang. Malah mentalnya ini menjadi tidak sehat, sakit, lalu gampang marah, gampang ngamuk, dan lain-lainnya. Itulah keadaan kehidupan atau model hidup pertama yang Sang Buddha tunjukkan.

Agar kita dapat lebih memahami hidup ini sebenarnya bagaimana, kemudian Sang Buddha menunjukkan gaya hidup kedua yang juga banyak dilakukan oleh manusia-manusia ini. Model hidup yang sebaliknya dari model hidup pertama, yaitu model hidup yang sama sekali menolak, menindas, menekan keinginan-keinginannya itu. Model hidup orang yang kedua ini tentu saja dia akan melakukan praktik-praktik hidup, mengisi hidupnya ini dengan laku-laku yang bercorak penekanan-penekanan, penindasan-penindasan terhadap keinginan-keinginannya, puasa yang berlebih-lebihan, secara singkat penyiksaan diri.

Kita mengetahui bahwa sebelum Petapa Gotama mencapai Pencerahan Sempurna, selama 6 tahun berada di hutan melakukan praktik penyiksaan diri. Inilah praktik menyiksa diri yang dilakukan oleh Petapa Gotama. Kemudian Petapa Gotama menyadari bahwa praktik itu juga tidak bermanfaat, rendah, tidak berguna, tidak bisa membuat kemajuan bagi kehidupan kita. Karena praktik itu akan membuat batin, pikiran atau mental kita menjadi lemah. Coba saja bayangkan kalau kita tidak makan berhari-hari, tidak minum berhari-hari, tidak tidur dalam waktu yang lama, apa yang terjadi? Tentu saja badan dan pikiran kita menjadi lemah, tidak bertenaga. Jasmani dan mental kita tidak bisa berfungsi dengan normal.

Untuk menghindari gaya hidup yang tidak bermanfaat itu, maka solusi yang ditawarkan oleh Sang Buddha, adalah melalui praktik jalan tengah. Jalan tengah ini adalah jalan yang khusus, spesifik, ditunjukkan oleh Sang Buddha untuk menghindari dua jalan yang berlebih-lebihan (ekstrim). Sang Buddha memberikan jaminan bahwa jalan tengah ini akan membuat hidup kita maju, berkembang dengan sehat, membawa hidup kita kepada kebahagiaan yang sehat. Bukan kebahagiaan dari hasil mengumbar hawa nafsu ataupun kebahagiaan dari menyiksa diri.

Dari tiga jalan ini, sebenarnya pokok tinjauannya adalah sejauh mana jalan ini bisa meningkatkan, mengembangkan, atau memajukan mental, batin atau pikiran kita. Jangan ditinjau dari bahagianya, tetapi yang harus dijadikan perhatian apakah jalan-jalan itu dapat membawa kemajuan batin. Ini sangat penting dalam ajaran agama Buddha.

Kebahagiaan yang sejati adalah bagaimana perkembangan batin kita. Kalau batin dan mental kita berkembang, maka perubahan yang terjadi tidak akan menjadi gejolak dalam hidup kita, sehingga pikiran tidak menjadi kacau. Kita dapat mengikuti semuanya, karena kita memang hidup di tengah-tengah perubahan tersebut. Kita memang hidup di tengah suasana yang terus-menerus mengalami perubahan, tetapi kita harus mengikuti keadaan itu dengan mental yang kuat untuk mencapai kebahagiaan.

Sang Buddha telah menunjukkan Jalan Tengah yang disebut Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Aṭṭhangika Magga). Kita harus menerapkan jalan itu dalam kehidupan sehari-hari, dalam setiap kegiatan apapun yang kita lakukan, meskipun kita belum mencapai kesucian. Kita harus terus berusaha menerapkan Jalan Mulia Berunsur Delapan dalam kehidupan kita, sehingga batin menjadi berkembang.

Semua kemajuan peradaban umat manusia di muka bumi ini merupakan hasil dari perkembangan mentalnya. Bagi Sang Buddha, memang lebih tepat membawa peradaban umat manusia ini kepada peradaban yang sangat luhur, sangat mulia sekali. Tentu peradaban yang maju dan luhur akan menjadikan hidup kita menjadi lebih tenang, tenteram, dan betul-betul membahagiakan. Sedangkan kalau peradaban kita tidak berkembang, kita akan hidup dalam keadaan-keadaan yang sangat menderita dan banyak masalah dalam hidup ini.

Usahakan apapun yang kita lakukan jangan sampai membuat kemerosotan batin kita. Tetapi malah membuat atau menjadikan batin kita berkembang. Berkembang menjadi lebih baik dan cerah. Itulah tugas kita yang harus kita perhatikan dalam setiap langkah kehidupan karena yang penting adalah perkembangan batin, peningkatan batin. Itu sangat penting dan mahal harganya, sangat baik buat kehidupan kita. Itulah yang diharapkan dalam Dhamma. Semoga kita semakin maju di dalam Dhamma.

Dibaca : 4512 kali