x

Sikap Mental Dalam Menghadapi Fakta

Sabbe bhāyanti maccuno’ti.

Setiap orang takut terhadap kematian. 
(Dhammapada 129)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam situasi pergantian tahun 2006 ke 2007 ini, kita dihadapkan dengan aneka bencana dan kecelakaan yang menimpa saudara-saudara kita. Ada yang meninggal, luka-luka, dan ada juga yang tidak ditemukan keberadaan orangnya alias hilang. Betapa menderitanya keluarga mereka atas kejadian yang menimpanya.

Mengapa penderitaan begitu bertubi-tubi menimpa bangsa kita yang luas ini? Apa gerangan yang menyebabkan derita itu sedemikian silih berganti dalam bulan-bulan terakhir ini? Apakah segala bentuk peristiwa dan kejadian-kejadian itu yang benar-benar menjadi andil kemunculan semua derita ini?  Alangkah sia-sianya hidup ini apabila tidak menemukan kunci bagaimana persoalan-persoalan itu bisa terungkap rahasianya.   

Pemahaman Tidak Menyentuh Fakta

Suatu hal yang sudah umum di kalangan masyarakat bahwa setiap orang takut terhadap kematian. Kita takut terhadap kematian karena kita melekat terhadap kehidupan dengan segala bentuk harapan kita sendiri, dan tidak memahami hal itu secara benar. Orang lain hanya menyebut kematian saja, kita sudah takut lebih dulu, sehingga penderitaan juga tentu sudah lebih dulu mengganggu ketenangan batin kita.
Kematian adalah satu peristiwa yang paling menakutkan bagi banyak pihak. Tetapi selain kematian masih ada hal-hal lain yang ditakuti oleh manusia, seperti penyakit, kehilangan sesuatu yang dicintai, dan lain sebagainya. Mengapa semua itu ditakuti? Padahal itu adalah kenyataan.
Ada Kenyataan sebagai Fakta
Segala bentuk persoalan yang ada di dunia, yang dihadapi manusia penuh dengan fakta-fakta yang tak terbantahkan oleh pihak manapun juga.
Dalam Dhammacakkappavattana Sutta, Saÿyutta Nikàya sangat jelas dikatakan mengenai keadaan nyata hidup ini adalah penderitaan. Namun, karena faktor penghambat dalam batin kita sangat kuat, maka pemahaman kita terhadap hal itu bisa tidak sesuai dengan faktanya. Dalam Sutta tersebut dikatakan: ”Kelahiran adalah penderitaan, usia tua adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan, ketidakpuasan, sedih, sakit, derita yang mendalam, dan tidak punya harapan adalah penderitaan, bertemu dengan yang tidak disukai adalah penderitaan, berpisah dengan yang dicintai adalah penderitaan, tidak tercapai apa yang dicita-citakan adalah penderitaan. Singkatnya, gugusan lima unsur penyebab kemelekatan adalah penderitaan.” (SN. 56.11) Kita dituntut untuk memamahi hal tersebut secara benar.
Memahami Fakta secara Benar
Dalam Nibbedhika Sutta, Aṅguttara Nikàya VI.63, dikatakan bahwa penderitaan itu harus diketahui. Sebab penderitaan harus diketahui. Variasi dalam penderitaan harus diketahui. Dampak dari penderitaan harus diketahui. Akhir dari penderitaan harus diketahui. Jalan untuk mengakhiri penderitaan harus diketahui.
Apakah yang dimaksud dengan variasi dari penderitaan? Ada penderitaan yang serius dan ada penderitaan yang kecil, ada penderitaan yang lambat pelenyapannya dan ada penderitaan yang cepat pelenyapannya. Itulah yang disebut variasi dalam penderitaan. (A.N. VI.63)
Yang Ariya Sariputta pernah berkata kepada para bhikkhu, sebagai-mana dikatakan dalam Saccavibhaṅga Sutta, Majjhima Nikàya, seperti dalam Dhammacakkappavattana Sutta (SN. 56.11) tersebut di atas.  
”Apakah kelahiran itu? Kelahiran dalam segala hal, kelahiran terjadi, ke-turunan, akan terlahirkan, segera terlahirkan, penampakan dari gugusan, pengakuan sebagai bagian dari berbagai makhluk dalam kelompok ini atau kelompok itu. Itulah yang disebut kelahiran.”
”Apakah usia tua itu? Tua dalam segala hal, menjadi lemah karena usia, merosot, pudar, keriput, kekuatan tenaga melemah, melemahnya kekuatan indria dari berbagai makhluk dalam kelompok ini atau kelompok itu. Itulah yang disebut tua.”  
”Apakah kematian itu? Kematian dalam segala hal, wafat, berakhir, lenyap, mati, kematian, berakhirnya waktu, terpencarnya bagian-bagian tubuh, tercerai-berainya unsur-unsur kehidupan dari berbagai makhluk dalam kelompok ini atau kelompok itu. Itulah yang disebut kematian. 
”Apakah kesengsaraan itu? Kesengsaraan dalam segala hal, menjadi menderita, sedih, penderitaan dari dalam, kesedihan dari dalam bagi seseorang yang menderita kemalangan, tertimpa sesuatu yang menyakitkan. Itulah yang disebut kesengsaraan.”
”Apakah kepedihan itu? Dalam segala hal menangis, merasa sengsara yang mendalam, merasa pedih, terisak-isak, kepedihan seseorang yang menderita kemalangan, tertimpa sesuatu yang menyakitkan. Itulah yang disebut kepedihan.”
”Apakah sakit jasmani itu? Dalam segala hal badan terasa sakit, badan terasa tidak nyaman, sakit atau tidak nyaman timbul dari sentuhan badan. Itulah yang disebut sakit.”
”Apakah derita batin itu? Dalam segala hal dalam pikiran terasa sakit, terasa tidak nyaman, sakit dan tidak nyaman timbul dari kontak pikiran. Itulah yang disebut derita batin.”
”Apakah penderitaan bertemu dengan yang tidak disukai itu? Ada hal-hal tertentu terjadi pada diri seseorang, seperti yang tidak diinginkan, tidak menyenangkan, penglihatan yang tidak menarik, pendengaran yang tidak menarik, penciuman yang tidak menarik, aroma yang tidak menarik, atau ada hubungan, kontak, relasi, dan interaksi dengan orang lain yang mengharapkan agar sakit, ada bahaya, tidak nyaman, atau mengharapkan supaya ia tidak selamat. Itulah yang disebut penderitaan bertemu dengan yang tidak disukai.”
”Apakah penderitaan berpisah dengan yang dicintai itu? Ada hal-hal tertentu yang hilang dari diri seseorang, seperti yang diinginkan, menyenangkan, penglihatan yang menarik, pendengaran yang menarik, penciuman yang menarik, aroma yang menarik, atau putusnya hubungan, kontak, relasi, dan interaksi dengan orang lain yang mengharapkan agar baik-baik, bahagia, nyaman, atau mengharapkan supaya ia selamat. Itulah yang disebut penderitaan berpisah dengan yang dicintai.” (MN. 141)
Dari Pemahaman Timbul Sikap
Karena pemahaman yang tidak sesuai terhadap hal tersebutlah yang membawa pengaruh kuat sehingga penderitaan yang menghantam diri kita tidak kunjung redam. Hal itu juga terpengaruh oleh faktor kuatnya kebodohan batin kita yang nyata-nyata ada, namun tidak kita sadari akan fakta itu. Akan tetapi dengan pemahaman yang benar sesuai dengan yang semestinya terhadap fakta yang ada di sekitar kita, dan batin kita memiliki kekuatan dan kemantapan, maka sikap mental tidak akan mudah terpengaruh oleh keadaan fakta itu. Benarkah demikian?
Sesulit apa pun kenyataan hidup ini, karena memang selalu ada masalah yang menimpa kita, maka sebetulnya tugas kita adalah tidak hanya semata-mata mampu melihat dan memahami kejadiannya saja, akan tetapi yang lebih penting adalah sedapat mungkin kita berusaha menata kesiapan mental kita untuk menghadapi kenyataan itu. Batin kita akan bisa menerima fakta yang terjadi jika kesiapan diri kita secara mental dalam menghadapi sekaligus menerima kenyataan yang ada.
Sumber:http://www.accesstoinsight.org/canon/sutta

Dibaca : 3838 kali