x

Cinta Kasih Kepada Semua Makhluk

Mātā yathā niyaṁ puttaṁ, āyusā ekaputtamanurakkhe.
Evampi sabbabhūtesu, mānasambhāvaye aparimāṇaṁ.

Sebagaimana seorang ibu mempertaruhkan jiwanya, melindungi putra tunggalnya. Demikianlah terhadap semua makhluk, kembangkan pikiran cinta kasih tanpa batas.
(Mettā Sutta, Khuddakapāṭha, Khuddaka Nikāya)

    DOWNLOAD AUDIO

Tindak-tanduk, tingkah laku seseorang, belum tentu sesuai dengan apa yang dikatakannya. Sebagian orang memang dapat berteori tentang kebaikan, tetapi tindak-tanduk dan tingkah lakunya terkadang kurang baik, bahkan tidak baik. Tidak jarang orang yang pandai berkata manis, tetapi sesungguhnya batinnya dipenuhi dengan rasa benci dan permusuhan. Tidak jarang orang yang pura-pura bersahabat, padahal batinnya dipenuhi dengan rasa dengki, dendam, dan iri hati, ataupun niat jahat. Sikap seperti itu sering disebut sebagai ’NATO; No Action Talk Only’ maksudnya ada-lah ’hanya berbicara saja tanpa adanya praktik’.

Salah satu hal yang mudah dikatakan tetapi sulit dipraktikkan adalah ’Cinta Kasih’. Tetapi jangan pesimis karena sulit bukan berarti tidak bisa. Sesungguhnya, cinta kasih bukan hanya sekadar kata-kata. Ketika seorang suami mengatakan cinta kepada istrinya, maka hal itu kita katakan sebagai cinta kasih. Sesungguhnya bukan demikian. Memang, kata-kata cinta seperti itu akan membawa kebahagiaan bagi istrinya, tetapi apabila tidak disertai dengan tingkah laku yang baik, maka kata cinta tersebut bagaikan tong kosong yang nyaring bunyinya, yaitu kata-kata kosong yang tidak ada maknanya. Cinta kasih yang diajarkan oleh Sang Buddha sesungguhnya sangat mulia. Mengapa? Karena cinta kasih yang diajarkan bukan hanya kepada orang-orang terdekat kita, seperti orangtua, saudara, ataupun sahabat, tetapi cinta kasih kepada semua makhluk di alam semesta. Dijelaskan dalam Mettā Sutta, Khuddakapāñha, Khuddaka Nikāya yaitu bahwa cinta kasih adalah bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya, melindungi putra tunggalnya. Demikianlah terhadap semua makhluk, dikembangkannya pikiran cinta kasih tanpa batas, ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling, tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan. Apabila cinta kasihnya terhadap semua makhluk, maka cinta kasih yang kita pancarkan seyogyanya dipancarkan kepada makhluk-makhluk di 31 alam kehidupan, bukan hanya alam manusia dan binatang saja.

Untuk mempraktikkan cinta kasih, perlu sekali dimengerti apa manfaat dari melaksanakan cinta kasih. Apabila tidak mengerti, maka hal seperti ini bagaikan seseorang yang menyeberangi lautan luas tanpa ada tujuan yang jelas, maka ketika berada di tengah laut, orang tersebut kebingungan ‘mau ke mana dia akan berlayar?’. Demikian juga, cinta kasih yang dikembangkan seseorang sesungguhnya mempunyai manfaat yang sangat besar. Hal ini disebutkan dalam Dhammapada XV:1, yaitu ’Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci, di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa membenci.’ Orang yang tidak membenci, secara otomatis orang tersebut diliputi dengan cinta kasih. Pahala yang diperoleh adalah kebahagiaan. Kita bahagia ketika memiliki cinta kasih di antara orang-orang yang membenci kita, apalagi kalau di sekitar kita merupakan orang-orang yang juga memiliki cinta kasih, maka kebahagiaan kita tidak akan terbatas. Berkah dari cinta kasih juga dijelaskan oleh Sang Buddha, seperti yang terdapat dalam Mettā Sutta, Ekādasakanipāta, Aṅguttara Nikāya, yang menyatakan: Jika, O para bhikkhu, pembebasan pikiran dengan cinta kasih dikembangkan dan ditumbuhkan, sering dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan seseorang, ditegakkan dengan mantap, disatukan, dan dijalankan dengan tepat, maka sebelas berkah bisa diharapkan. Apakah yang sebelas itu? Dia tidur dengan tenang; dia tidak bermimpi buruk; dia dicintai oleh manusia, dia dicintai oleh makhluk bukan manusia; dia akan dilindungi oleh para dewa; api, racun, dan senjata tidak bisa melukainya; pikirannya mudah terkonsentrasi; kulit wajahnya jernih; dia akan meninggal dengan tidak bingung; dan jika tidak menembus lebih tinggi, dia akan terlahir kembali di alam Brahmā. Sungguh besar berkah, pahala, dan manfaat dari melaksanakan cinta kasih.

Cinta kasih seharusnya dikembangkan melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan. Cinta kasih tidak akan sempurna apabila hanya dilakukan dengan pikiran saja. Cinta kasih tidak akan sempurna apabila hanya dilakukan dengan perbuatan. Cinta kasih tidak akan sempurna apabila hanya dilakukan dengan ucapan. Dalam Sārāṇīyadhamma Sutta, Chakkanipāta, Aṅguttara Nikāya terdapat hal yang berkenaan dengan cinta kasih yang dapat membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati; menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiada-cekcokan, kerukunan dan kesatuan. Hal tersebut adalah:

1. Seorang bhikkhu memiliki perbuatan yang disertai dengan cinta-kasih terhadap sesama brahmacārī (pelaksana kehidupan luhur), baik di depan atau pun di belakang mereka;

2. Seorang bhikkhu memiliki ucapan yang disertai dengan cinta-kasih terhadap sesama brahmacārī, baik di depan atau pun di belakang mereka;

3. Seorang bhikkhu memiliki pikiran yang disertai dengan cinta-kasih terhadap sesama brahmacārī, baik di depan atau pun di belakang mereka;

Ketiga hal tersebut, merupakan suatu pedoman untuk mengembangkan cinta kasih kita kepada orang-orang di sekitar kita, dan juga kepada semua makhluk.

Memang, mengembangkan cinta kasih tidaklah gampang. Tidak sedikit yang beranggapan, bahwa “Teori ajaran Sang Buddha saja sulit, apalagi mempraktikkannya!” Namun, sebagai umat Buddha kita diajarkan untuk selalu optimis, bukan pesimis, dan kita juga hendaknya memiliki tekad yang kuat (adhiṭṭhāna). Sesulit apapun, apabila kita mempunyai tekad yang kuat dan bulat, maka kesulitan akan berkurang dan keberhasilan akan semakin dekat dengan kita. ’Semoga semua makhluk diliputi dengan cinta kasih.’

Dibaca : 4700 kali