x

Apakah Anda Seorang Sukhiram Atau Dukhiram?

Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan, kelengahan adalah jalan menuju kematian.
Orang bijaksana bersabda, ”Sang pemenang tidak pernah menyerah bukan?”
(Dhammapada II:1)

    DOWNLOAD AUDIO

Kepribadian harus dibentuk. Untuk membentuk kepribadian, kita memerlukan perjuangan. Di dalam perjuangan diperlukan pengorbanan, baik secara materi maupun non materi. Demikian proses pembentukan kepribadian. Sang Buddha menemukan kebenaran di dalam Dhamma, hal itu pun juga memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Kini Dhamma telah dibentangkan dan diajarkan dengan sempurna untuk membentuk kepribadian yang baik, bahkan lebih sempurna sekalipun, sebagaimana Sang Buddha. Selanjutnya, beranikah Anda melakukan perubahan dengan perjuangan dan pengorbanan?

Terdapat contoh yang cu kup signifikan dan menarik jika kita simak dan pelajari, sebagai berikut: Ada dua anak laki-laki tengah berjalan menyusuri jalan di sebuah desa. Tiba-tiba mereka melihat dua buah kaleng susu yang sudah terisi susu. Selanjutnya kaleng itu akan dikirim ke kota yang tidak jauh dari desa itu. Karena dilihat-lihat tidak ada pemiliknya, dasar anak usil, dua anak itu membuka tutup kaleng kesatu, kemudian memasukkan seekor katak betung ke dalamnya. Demikian juga kaleng kedua, mereka membuka tutup kalengnya dan memasukkan katak betung yang lain. Beberapa menit kemudian pemiliknya datang, dan setelah menutupnya, kemudian mengangkat kalengnya untuk diantarkan ke kota. Dalam perjalanan, si katak betung di kaleng pertama berkata: ”...Ih ini mengerikan sekali, aku tidak dapat mengangkat tutup kaleng ini, apalagi membukanya! Aku belum pernah mandi susu sebelumnya, dan akupun tidak bisa mencapai dasarnya kaleng untuk mendorong tutup kalengnya. Jadi, apa gunanya aku bersusah payah membuka tutupnya kalau tetap gagal dan gagal.” Akhirnya katak betung menyerah dan mati di dalam kaleng susu, karena tidak mempunyai akal dan kemauan bertahan. Ketika tutup kaleng pertama dibuka ditemukan si katak betung sudah mati. Ternyata dialah sang dukhiram. Menyerah adalah rintangan dari sebuah cita-cita kita. Ketika kita memalingkan kepala, maka segera akan terlempar dari tujuan semula. Demikian halnya dalam meraih tujuan hidup, bukan...?

Lain halnya dengan seekor katak betung di dalam kaleng kedua. Ia melakukan usaha dan perjuangan dengan tanpa menyerah, karena memahami bahayanya. Kondisi yang sama juga dialaminya berada dalam kaleng susu, tetapi si katak betung ini menyadari dan berkata pada dirinya sendiri: ”...Ya, aku memang berada dalam kaleng susu ini dan tidak dapat mengangkat tutup kalengnya, karena terlalu berat dan terlalu rapat. Akupun juga tidak dapat melubangi tutup kaleng ini untuk menyelamatkan diriku, tetapi ada sesuatu yang aku pelajari untuk dapat dilakukan ketika berada dalam air yaitu hanya renang dan berenang, sehingga akhirnya susunya kental menjadi mentega dan aku dapat duduk di atasnya. Ketika tutup kalengnya dibuka aku dapat melompat keluar dan akhirnya selamat.” Dialah sang sukhiram itu. Jadi sang pemenang tidak pernah menyerah dan orang yang menyerah tidak akan pernah menang. Dari cerita katak pertama dan kedua, terdapat perbedaan dalam kiasan kepribadiannya.

Jika kita menghendaki kebahagiaan sepanjang hidup, maka belajarlah mencintai dengan kasih dan sayang kehidupan ini, serta menempatkan diri selaras dan seimbang dengan kebenaran. Kebenaran terpampang di sepanjang masa, hanya yang memahami dengan sempurna adalah langka dan sedikit sekali, sebagaimana Sang Buddha. Engkau yang mengerti Dhamma akan mengerti pula kebenaran, engkau yang memahami Dhamma akan memahami juga kebenaran, engkau yang telah memahami kebenaran akan selaras dan seimbang dengan kebenaran kehidupan ini.

Dalam kesalahan pandangan hidup ternyata banyak membuat penderitaan, seperti hal ini;

Semua orang harus memperhatikan Aku, ternyata menimbulkan kecewa dan sakit di hati.

Semua orang harus menghargai Aku, ternyata menimbulkan kecewa dan sakit di hati.

Semua orang harus menghormati Aku, ternyata menimbulkan kecewa dan sakit di hati.

Pandangan demikian telah lama bercokol dan membentuk kepribadian kita, serta membawa untuk terlahir dan terlahir kembali ke dunia ini, bukan? Konsekuensinya membuat langkah-langkah hidup kita menjadi berat dan kita banyak mengalami penyesalan dan penderitaan, bukan? Namun, jika melakukan perubahan pandangan hidup, tentu memerlukan pengorbanan dan perjuangan untuk berubahnya pengertian ini:

Aku harus memperhatikan semua orang dengan kasih dan sayang yang membawa kebahagiaan.

Aku harus menghargai semua orang dengan kasih dan sayang yang membawa kedamaian.

Aku harus menghormati semua orang dengan kasih dan sayang yang membawa ketentraman.

Demikianlah pandangan hidup yang benar dan membuat langkah ke-hidupan kita ringan.

Kesimpulannya, untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan kita, tentu harus membuat prestasi, prestasi adalah karya. Jika, kita berada di tengah masyarakat, sudah barang tentu prestasinya berhubungan dengan masyarakat juga. Bagaikan nasehat para bijaksana; satu kata yang terucapkan dan memberikan manfaat, bagi orang yang mendengarkan menjadi tentram, adalah lebih mulia dari pada seribu kata terucapkan namun tidak dapat memberikan ketentraman. Satu tindakan yang memberikan kebahagiaan bagi orang yang menerimanya, adalah lebih mulia dari pada seribu tindakan yang tidak bermanfaat untuk kebahagiaan orang lain. Satu kata mutiara Dhamma yang terwujud ke dalam nurani dan batin seseorang adalah wujud tambatan kedamaian dalam kebenaran, dari pada seribu kata Dhamma namun belum menjadi wujud tambatan kedamaian nurani dan batinnya. Akhir kata, marilah kita melakukan perubahan dengan perjuangan dan pengorbanan menuju kebahagiaan atas dasar pandangan dan pengertian benar. Satu hal, tentu juga memerlukan strategi yang jitu, yaitu sistem yang amat jitu dan selaras seimbang dengan kebenaran Dhamma.

Dibaca : 3829 kali