x

Banjir

-

    DOWNLOAD AUDIO

Banjir (Pāḷi: Ogha), dibagi menjadi empat macam, yaitu:

1. Kāmogha: banjir kenafsuan

2. Bhavoga: banjir perwujudan

3. Diṭṭhogha: banjir pandangan

4. Avijjogha: banjir ketidaktahuan

Empat hal tersebut disebut banjir karena memiliki kekuatan menghanyutkan makhluk-makhluk yang telah jatuh menjadi korban kekuatan-kekuatan mereka.

 

Kāmogha

Banjir kenafsuan, terdiri dari:

1. Kilesa-kāma, yaitu nafsu indera yang kotor, tenggelam dalam nafsu indera, terikat dengan nafsu indera, yang disebabkan kilesa 10 (sepuluh macam kekotoran batin), yaitu lobha-kilesa (ketamakan), dosa kilesa (kebencian), moha kilesa (kebodohan batin), māna kilesa (kesombongan), diṭṭhi kilesa (kekeliruan), vicikiccha kilesa (keraguan), thina kilesa (kemalasan), uddhacca kilesa (kegelisahan), ahirika kilesa (tidak ada malu), anottappa kilesa (tidak takut).

2. Vatthu kāma, yaitu; nafsu indera terhadap objek luar, yaitu pemandangan, suara, bau, rasa, dan sentuhan yang disebabkan kāmaguṇa 5 (5 macam objek kesenangan indera), yaitu rūpa (bentuk-bentuk yang dapat dilihat), sadda (suara), gandha (bau), rasa (rasa), phoṭṭhabba (sentuhan).

Bhavogha

Banjir perwujudan menunjukkansemua alam-alam kehidupan, di mana kelahiran dan kematian dapat diharapkan.

Diṭṭhogha

Merupakan banjir pandangan, yaitu 3 macam pandangan salah, sebagai berikut:

1. Akiriya diṭṭhi, yaitu ajaran yang menolak akibat-akibat kamma. Beranggapan bahwa tidak ada akibat nyata dari apa yang disebut baik atau buruk. Jadi, apabila seseorang melakukan perbuatan baik atau buruk yang tidak dilihat atau diketahui orang lain, maka secara mutlak tidak ada akibat baik atau buruk untuk diharapkan dari perbuatan itu. Suatu perbuatan baik atau buruk yang berlangsung tanpa diperhatikan oleh orang lain adalah sama seperti tidak ada. Macam keyakinan ini menolak akibat (vipaka) dari kamma itu sendiri, hanya menerima apa yang dipersembahkan pada seseorang oleh orang lain.

2. Ahetuka diṭṭhi, yaitu ajaran yang menolak sebab-sebab kamma. Pandangan ini menolak sebab-sebab kamma itu sendiri, mengajarkan faham nasib atau takdir (dan dengan demikian dapat disebut determinisme). Seseorang yang menganut ajaran ini beranggapan bahwasanya orang-orang mengalami kebahagiaan atau penderitaan sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan bagi mereka. Selama saat-saat beruntung, apapun yang mereka lakukan pasti akan memberikan hasil-hasil baik seperti kenaikan pangkat, kekayaan dan nama harum; sedangkan pada saat-saat tidak beruntung mereka dapat dipecat, gagal dan putus asa, tidak peduli bagaimanapun bersemangatnya mereka telah berjuang untuk berbuat baik. Ajaran ini menolak kekuatan kamma sebagai sebab yang mendasari kebahagiaan dan penderitaan.

3. Natthika diṭṭhi, yaitu ajaran yang menolak semuanya, atau ajaran tentang ketiadaan. Pandangan ini mengajarkan bahwasanya tak ada pun juga dari apa yang disebut manusia atau binatang. Wujud-wujud ini adalah hasil-hasil pengelompokan dari apa yang disebut unsur-unsur, yang kadang-kadang membantu satu dengan yang lain, dan kadang-kadang berlawanan satu dengan yang lain. Demikianlah keadaan ini, karena sifat dasar masing-masing, tak ada pun juga dari apa yang dianggap sebagai perbuatan baik atau buruk itu sendiri. Apabila, misalnya, setelah turun hujan pohon-pohon berbunga dan menghasilkan buah, adalah tak masuk akal untuk berpikir bahwasanya terdapat suatu perbuatan berjasa pada pihak sang hujan. Selanjutnya, apabila suatu api di dalam hutan membakar seluruh pohon-pohon di dalamnya, tak ada seorang pun berpikiran waras akan pernah beranggapan bahwasanya terdapat suatu perbuatan jahat yang dilakukan oleh api (demikianlah keadaannya, tak ada dianggap sebagai perbuatan berjasa atau jahat apapun bilamana seseorang ’melukai’ atau ’membantu’ orang lain).

Avijjogha

Merupakan banjir ketidaktahuan. Terdapat delapan macam ketidaktahuan/ kebodohan batin, yaitu:

1. Dukkhe aññāṇa: ketidaktahuan mengenai penderitaan.

2. Dukkhasamudaye aññāṇa: ketidaktahuan mengenai sebab penderitaan.

3. Dukkhanirodhe aññāṇa: ketidaktahuan mengenai akhir penderitaan.

4. Dukkhanirodhagāminiyapañipadāye aññāṇa: ketidaktahuan mengenai jalan yang membawa pada akhir penderitaan.

5. Pubbante aññāṇa: ketidaktahuan mengenai masa lampau.

6. Aparante aññāṇa: ketidaktahuan mengenai masa yang akan datang.

7. Pubbantāparante aññāṇa: ketidaktahuan mengenai masa lampau dan masa yang akan datang.

8. Idappaccayatāpaṭiccasamuppannesu dhammesu aññāṇa: ketidaktahuan mengenai hukum sebab-musabab yang saling bergantungan.

Empat macam banjir tersebut disebut juga sebagai ’ikatan’ dan pengotoran-pengotoran atau secara harfiah ’pengaliran (āsava)’ atas dasar bahwasanya mereka adalah pusat dimana makhluk-makhluk terikat pada lingkaran kelahiran-kelahiran kembali yang mana batin mereka menjadi kotor.

Sumber: Kamus Umum Buddha Dhamma

Dibaca : 2587 kali