x

Mencari Kekayaan Mulia

Jīvatevāpi sappañño, Api vittaparikkhayā
Paññāya ca alābhena, Vittavāpi na jīvati.

Orang bijaksana tetap hidup bahkan jika ia harus kehilangan harta bendanya.
Tetapi orang yang memiliki harta benda tanpa kebijaksanaan, ia tidak hidup bahkan pada saat ini.
(Theragāthā 499)

    DOWNLOAD AUDIO

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang menginginkan kekayaan. Kekayaan ini ada dua macam, yang pertama adalah kekayaan yang berbentuk materi dan yang kedua adalah kekayaan yang tidak berbentuk materi. Dalam kehidupan ini orang-orang berlomba-lomba mencari kekayaan dalam bentuk materi. Mereka bekerja siang dan malam hanya untuk memperoleh harta kekayaan, dan biasanya bila orang-orang yang telah memiliki rumah yang mewah, mobil yang bagus, memakai perhiasan-perhiasan yang mahal harganya, seperti emas, berlian, mutiara, permata, maka orang ini dikatakan orang yang kaya raya. Sesungguhnya, harta kekayaan yang berbentuk materi tersebut dapat rusak, dapat hancur dan dapat hilang karena banjir, karena kebakaran, karena dicuri dan sebab-sebab yang lainnya.

Tetapi, ada kekayaan yang tidak akan rusak dan tidak akan hancur karena bencana alam, dan siapapun tidak akan mampu mencurinya. Seseorang yang memiliki kekayaan ini, kemanapun ia pergi kekayaannya akan mengikutinya, dan dimanapun ia berada karena kekayaan ini, maka ia akan memperoleh kedamaian dan kebahagiaan. Apakah kekayaan yang dimaksud tersebut? Kekayaan itu adalah Satta Ariya Dhana yaitu tujuh kekayaan Ariya/mulia. Tujuh kekayaan mulia ini dijelaskan oleh Sang Buddha dalam Sankhittadhanasutta, Aïguttara Nikāya, di mana Sang Buddha mengatakan, bila seseorang memiliki kekayaan ini, maka orang itu dikatakan hidupnya sangat sukses, sangat berhasil.

Tujuh kekayaan Ariya/mulia itu adalah:

1. Saddhā: Keyakinan

Sebagai umat Buddha, Saddhā/ keyakinan kepada Tiratana merupakan langkah awal dan pondasi sebelum melangkah ke arah selanjutnya. Hal ini sangat bermanfaat dan penting untuk dimiliki oleh seseorang. Akan tetapi keyakinan itu bukanlah keyakinan yang membuta, harus melalui proses tertentu, jangan langsung percaya tetapi harus melewati proses pembuktian, harus diteliti terlebih dahulu kebenarannya. Sang Buddha tidak pernah meminta kepada kita untuk datang dan percaya, tetapi datang dan melihat (Ehipassiko).

2. Sīla: Perilaku moral

Sīla berarti disiplin, tingkah laku yang baik, karakter yang baik, pengendali tingkah laku seseorang, baik melalui jasmani, ucapan, maupun pikiran. Sīla merupakan pondasi dari semua perbuatan baik. Ketika kita melakukan perbuatan baik yang dilandasi dengan sīla, maka akan tercipta kedamaian dan keamanan. Ada yang mengatakan bahwa sīla merupakan jembatan emas yang akan mengantar seseorang terlahir di alam bahagia.

3. Hiri: Malu berbuat jahat

Ada orang-orang yang malu bila berbicara dengan orang yang belum mereka kenal, ada orang yang malu datang ke vihāra, ada orang yang malu bertemu dengan bhikkhu, ada orang yang malu bertemu dengan temannya karena wajahnya berjerawat. Malu yang seperti itu bukanlah malu yang termasuk dalam kekayaan mulia. Yang termasuk kekayaan mulia adalah malu melakukan tindakan kejahatan, seperti malu untuk membunuh, malu untuk mencuri, malu untuk melakukan asusila, malu untuk berbohong, malu untuk memfitnah, malu untuk berkata kasar, malu untuk berbicara yang tidak berguna, malu memiliki keserakahan, malu memiliki kebencian, malu memiliki pandangan yang salah. Inilah malu yang termasuk dalam tujuh kekayaan mulia.

4. Ottappa: Takut akan akibat perbuatan jahat

Ada orang yang takut akan kegelapan, tidak berani sendirian, ada orang yang takut pada ketinggian, ada orang yang takut pada binatang tertentu, ada orang yang takut bertemu dengan atasannya karena kemarin membolos, ada orang yang takut melakukan usaha karena takut mendapatkan kerugian. Hal-hal tersebut bukanlah takut yang digolongkan dalam tujuh kekayaan mulia. Takut yang dimaksud adalah takut akan akibat dari melakukan kejahatan, karena bila melakukan perbuatan jahat akan menyebabkan terlahir di alam-alam yang menderita. Ada kalanya orang takut melakukan kejahatan karena takut kehilangan status sosialnya, takut nama baik keluarganya tercemar, maka mereka menahan diri dari melakukan kejahatan.

5. Bāhusacca: Banyak pengetahuan Dhamma

Pengetahuan Dhamma dapat kita peroleh di vihāra ketika ada yang khotbah Dhamma, melalui kaset-kaset ceramah Dhamma, melalui buku-buku Dhamma, majalah-majalah Buddhis dan lain-lain. Bila kita dapat memiliki banyak pengetahuan Dhamma, mengingat Dhamma, dan memahami banyak hal-hal yang berguna, ini adalah termasuk salah satu dari tujuh kekayaan mulia.

6. Cāga: Kemurahan hati/ kedermawanan

Melepaskan, meninggalkan, dan membagi barang-barang kepada orang-orang yang membutuhkan. Kemurahan hati ini ada tiga tingkat yaitu:

a. Tingkat permulaan: pemberian barang-barang yang sederhana seperti makanan, pakaian, obat-obatan, dan sebagainya kepada para bhikkhu, kepada orang-orang miskin atau orang-orang yang membutuhkan.

b. Tingkat menengah: pemberian donor darah, donor mata, donor ginjal, atau bagian-bagian tubuh yang lain yang dibutuhkan oleh orang lain.

c. Tingkat yang paling tinggi: adalah mengorbankan diri sendiri demi keselamatan orang lain atau makhluk lain, ini tentu sangat sulit dilakukan.

7. Paññā: Kebijaksanaan

Kebijaksanaan ini dapat dikembangkan melalui tiga cara, yaitu:

a. Sutamaya Paññā: kebijaksanaan yang diperoleh melalui mendengarkan Dhamma, membaca buku-buku, sering berdiskusi dan berhubungan dengan teman-teman yang baik dan bijaksana, bergaul dengan orang bijaksana, dan bila kita mencontohnya maka kita pun akan menjadi bijaksana.

b. Cintāmaya Paññā: kebijaksanaan yang diperoleh karena sering berpikir tentang segala sesuatu yang ia hadapi, dan mencari penyelesaian permasalahan melalui kekuatan daya pikirnya.

c. Bhāvanāmaya Paññā: kebijaksanaan yang diperoleh melalui meditasi.

Sebagai kesimpulan dari uraian ini, Sang Buddha menunjukkan tujuh kekayaan mulia ini sebagai kekayaan yang mulia dibandingkan dengan kekayaan yang berbentuk materi. Jika seseorang, meskipun ia miskin harta materi tetapi ia memiliki ketujuh faktor ini, maka ia dikatakan orang yang kaya. Hidupnya penuh kebajikan, berguna bagi makhluk lain, tidak mementingkan diri sendiri. Sekarang yang menjadi pertanyaan dari tujuh kekayaan batin ini, berapa yang sudah anda miliki?

Dibaca : 6972 kali