x

Kenapa Tidak Mencapai Apa Yang Diinginkan?

Jangan menyesali masa yang lalu atau melamun pada masa yang akan datang, yang lalu telah berlalu yang akan datang belum tiba. Sekaranglah saatnya untuk melihat dan menyelami setiap Dhamma.
(Bhaddekaratta Sutta – Majjhima Nikāya)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam tabel 31 alam kehidupan, alam manusia termasuk kelompok alam bahagia (sugati bhumi). Kita masih selalu berpikir, berharap, dan berkeinginan untuk hidup bahagia di dunia maupun di alam surga (alam dewa).

Ada sebuah cerita yang terjadi di suatu daerah gurun pasir. Seorang ayah selalu mengajarkan kepada anak-anaknya berbuat baik, bila kelak meninggal dunia terlahir kembali di alam surga. Kemudian anaknya bertanya, seperti apakah alam surga itu? Sang ayah menjelaskan karena di gurun sangat sulit untuk melihat rumput, tanaman bunga, pohon-pohon buah, dan air yang melimpah. Sang Ayah menggambarkan alam surga itu seperti suatu tempat yang berhamparan rumput hijau, tanaman bunga yang mekar beraneka ragam, pohon-pohon yang berbuah lebat dan beraroma harum. Dengan berselangnya waktu, anak-anaknya tumbuh dewasa dan pada suatu waktu mereka mengembara, sampailah di Negeri Indonesia. Terperangah dan terkagumlah mereka melihat keindahan Negeri Indonesia yang subur, hijau, dan makmur, seperti yang pernah digambarkan oleh ayahnya sebagai alam surga.

Kemudian, mereka melakukan perjalanan menelusuri kepulauan Indonesia dari Svarnadwipa sampai Papua. Fenomena demi fenomena telah dilihat serta dialami, mereka berpikir dan bertanya-tanya, ”Kenapa di negeri yang indah dan subur ini justru banyak orang miskin, kelaparan, penyakit, kekerasan, dan penghancuran?”

Ia lalu teringat yang disabdakan Sang Buddha, bahwa dewa di alam surga hanya bersenang-senang menikmati kesenangan surgawi, lupa memupuk dan menjaga benih-benih kesenangan dan hanya menikmatinya. Seperti itulah yang terjadi di Negeri Indonesia, hanya memetik dan memotong, lupa menanam dan menabur sehingga pepohonan habis dan banjir melanda di mana-mana.

Dari cerita di atas, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang menginginkan, mengharapkan, mendambakan kehidupan yang menyenangkan dan bahagia, karena sebelumnya ia selalu mendapatkan kesulitan dan kesusahan sehingga ia selalu berpikir nanti, besok, atau yang akan datang saya akan memperoleh yang saya inginkan.

Tetapi kenapa keinginan kita tidak tercapai? Dalam kehidupan, kita sering mendengar kata nanti, besok, yang akan datang, dan lainnya. Memang, sekilas kata pendek ini adalah motivasi atau semangat bagi seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan yang diemban. Namun, juga tidak sedikit kata nanti, besok atau yang akan datang itu malah menjadi racun dan penghancur.

Memang, kata ’nanti’ akan sangat berguna untuk anak-anak, misalnya digunakan untuk menyuruh atau mengajak. ”Ayo!.. nak bantu ibu cuci piring, nanti ibu beliin es krim.” Dengan iming-iming seperti itu anak mau melakukan apa yang disuruh, tetapi bagi kita yang remaja, dewasa, dan orangtua, kata nanti justru menjadi sumber petaka.

Banyak orang yang terobsesi dengan kata nanti, tetapi justru kemarahan, kekesalan, kejengkelan, dan emosional yang didapat, karena mereka selalu berpikir nanti akan mendapatkan dan mencapai yang diinginkan, tetapi mereka tidak pernah merasakan apa yang diinginkan. Ibarat orang yang mau naik gunung, misalnya Gunung Dieng atau Gunung Bromo. Semua orang bila menceritakan mau naik gunung sudah menggambarkan keindahan dan kesenangan di atas puncak gunung. Tetapi apa yang didapat setelah segala usaha dilakukan dengan naik mobil, kuda, dan berjalan kaki berkilo-kilo meter? Capek.. lapar.. haus.. setelah sampai di puncak Gunung Dieng dan Bromo yang ada belerang, kepulan asap, kawah, pasir, dan debu.

Lho... di mana yang dikatakan menyenangkan, indah, nyaman, sejuk, dan happy? Yang indah dan menyenangkan adalah saat kita mulai melakukan perjalanan dari lereng ke lereng, dari lembah ke lembah, kita menikmati indahnya hamparan sawah yang menguning, bunga-bunga mekar semerbak harum, pohon-pohon berbuah lebat, burung-burung berkicau, dan sejuta keindahan yang tak terlukiskan. Bukan setelah sampai di puncak gunung kita mendapatkan yang kita inginkan, tetapi saat dalam perjalanannya.

Demikian juga seperti apa yang terjadi dalam kehidupan kita, kenapa tidak memperoleh yang diinginkan? Jawabannya adalah karena terlewatkan oleh kita. Sesungguhnya kita telah mendapatkan, tetapi tidak merasakan karena terobsesi dengan kata nanti dan kelak.

Seperti seorang yang sangat kehausan, apa yang ia inginkan? Air yang banyak tidak hanya untuk minum tapi juga untuk mengguyur badannya. Ah... pasti segar, enak, nyaman, dan bahagia kalau ada air yang banyak. Dalam perjalanan mencari air yang banyak itu ada yang memberikan satu gelas air madu, dan meminumnya, tetapi karena yang diinginkan adalah air yang banyak, maka walau ia telah meminum air madu yang bergizi, bervitamin, dan menyehatkan tetap saja ia tidak merasakan telah mendapatkan yang lebih berharga dibanding dengan yang diinginkan.

Seperti itulah dalam kehidupan sehari-hari, sesungguhnya kita telah mendapatkan lebih dari yang kita inginkan, tetapi karena begitu besar terobsesi dan terbakar dengan kata nanti, besok, kelak, dan lainnya, maka yang telah kita peroleh menjadi terlewatkan, dan yang didapat adalah kecewa, marah, kesal, jengkel, dan sederet emosi yang meluap-luap.

Sang Buddha bersabda, ”Jangan menyesali masa yang lalu atau melamun pada masa yang akan datang, yang lalu telah berlalu yang akan datang belum tiba. Sekaranglah saatnya untuk melihat dan menyelami setiap Dhamma.”

Dengan menyelami sabda tersebut, maka kita akan selalu hidup bersuka cita, damai, dan bahagia karena setiap saat selalu menikmati dan memperoleh yang kita inginkan.

Dibaca : 2986 kali