x

Kesungguhan Dalam Bekerja

Kayirā ce kayirā ṭhenaṁ

Jika mengerjakan sesuatu, kerjakanlah dengan penuh kesungguhan
(Saṁyutta Nikāya, Devatasaṁyutta, Tatanasuttavaṇṇanā 89)

    DOWNLOAD AUDIO

Kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, tidak dapat memisahkan diri dari hubungan antara sesama manusia maupun dengan makhluk lainnya. Contohnya hewan yang berada di alam bebas ataupun yang dipelihara di sekitar rumah. Mereka dalam kehidupannya selalu bergantung satu dengan yang lainnya. Dalam hubungan tersebut, kita tentunya diliputi berbagai macam perasaan. Perasaan tersebut dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu, perasaan senang, tidak senang, dan netral. Namun apapun perasaan yang muncul sebagai akibat indriya kita kontak dengan objek, semua itu harus kita sadari dan berusaha tidak melekatinya, agar tidak timbul penderitaan sebagai buah dari kemelekatan.

Dalam hubungan dengan berbagai macam pihak tersebut, maka sebagai konsekuensinya akan terjadi hubungan timbal balik antara satu pihak dengan pihak lainnya. Ketika peradaban masih sederhana ataupun pada zaman sekarang yang serba cepat dan modern, dalam aktivitasnya manusia tidak bisa hidup tanpa bekerja. Apakah bekerja itu tujuannya untuk diri sendiri, pihak lain ataupun untuk kepentingan sosial, manusia selalu memiliki pamrih, baik itu pamrih yang kecil, sedang, ataupun besar. Semua kegiatan itu membutuhkan suatu rangkaian kerjasama agar tujuan dari pekerjaan tersebut dapat tercapai. Namun kita harus memperhatikan dan memahami pekerjaan tersebut supaya pekerjaan yang kita lakukan selaras dengan Dhamma. Apabila pekerjaan yang kita lakukan itu tidak sesuai dengan Dhamma, maka yang harus kita lakukan adalah berusaha menghindari, mengurangi sampai melepaskan kegiatan atau pekerjaan tersebut, supaya tidak ada pihak atau makhluk lain yang menderita akibat aktivitas yang kita lakukan.

Kesungguhan yang Menjadi Kekuatan dalam Bekerja

Guru Agung kita Buddha Gotama, pada saat membabarkan Dhamma, baik kepada gharāvāsa (perumah tangga) maupun kepada pabbajitā (petapa) selalu memberikan penekanan agar aktivitas yang kita lakukan tersebut harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Karena dengan kesungguhanlah pekerjaan dapat menghasilkan keberhasilan. Dalam Iddhipāda Vibhaṅga Sutta, Saṁyutta Nikāya. V. 276, Sang Buddha menjelaskan empat kekuatan dasar yang merupakan kondisi-kondisi berguna untuk mencapai tujuan dan juga merupakan jalan menuju kesuksesan dalam kemampuan pihak yang melakukannya.

1. Chanda: kepuasan dan kegembiraan di dalam mengerjakan sesuatu yang patut dilakukan. Dalam melakukan suatu kegiatan kita harus berusaha merasa senang, yang membuat pekerjaan berat akan menjadi ringan. Kegembiraan akan menjadi energi bagi kita, sehingga seberat apapun pekerjaan itu, akan dapat kita selesaikan dengan baik berkat kegembiraan dalam bekerja.

2. Viriya: usaha yang bersemangat di dalam mengerjakan sesuatu yang patut dilakukan. Usaha yang dapat juga disebut sebagai daya upaya, merupakan hal yang harus dikembangkan, karena tanpa usaha kita tidak mungkin mampu menyelesaikan pekerjaan. Seperti pepatah klasik yang berbunyi, ’perjalanan yang jauh dan panjang dimulai dengan satu langkah pertama’.

3. Citta: perhatian yang penuh terhadap apa yang sedang dikerjakan tanpa membiarkan berlalu begitu saja. Saat kita melakukan suatu pekerjaan dan ingin mendapatkan hasil yang sukses dan memuaskan, maka kita harus benar-benar fokus terhadap apa yang sedang kita lakukan. Dengan memberikan perhatian yang penuh terhadap pekerjaan yang kita lakukan, maka kita dapat meminimalisir kesalahan-kesalahan, sehingga pekerjaan dapat lebih mudah diselesaikan, tidak banyak membuang waktu, tenaga, materi, dan sebagainya.

4. Vimaṁsa: merenungkan dan menyelidiki alasan-alasan terhadap apa yang sedang dikerjakan. Saat kita bekerja yang diawali dengan perasaan senang, kemudian berusaha dengan penuh semangat dan konsentrasi terhadap apa yang kita kerjakan. Kita juga perlu merenungkan dan menyelidiki, apakah pekerjaan ini bermanfaat bagi diri sendiri maupun pihak lain. Bila manfaatnya telah kita rasakan, maka untuk yang selanjutnya, kita berusaha agar pekerjaan tersebut harus bermanfaat bagi pihak lain.

Jadi, apa pun pekerjaan yang kita lakukan, bila dapat memenuhi empat hal tersebut, maka akan memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang telah dilakukan. Sebagai karyawan akan mendapatkan penghasilan dan perhatian yang baik dari atasan, bagi pedagang akan mendapatkan kelancaran dalam usahanya, bagi olahragawan akan memperoleh prestasi yang tinggi dan berbagai macam kegiatan yang sesuai dengan norma maupun aturan yang telah ditetapkan.

Khusus dalam hal perdagangan, Sang Buddha memberikan batasan tentang sesuatu barang yang akan diperjualbelikan. Ada lima macam perdagangan yang harus dihindari yaitu, berdagang makhluk hidup, berdagang daging, berdagang senjata, berdagang minuman atau zat-zat yang dapat memabukkan, dan berdagang racun (Aṅguttara Nikāya, III. 208). Bila kita telah dapat menghindari lima macam perdagangan yang salah dan hidup selaras dengan Dhamma, maka kita akan mendapatkan kekuatan dan keselarasan dengan lingkungan sekitar kita. Kebahagiaan yang merupakan impian semua makhluk akan dapat dirasakan, tidak hanya oleh diri sendiri tetapi juga oleh pihak lain.

Seperti dalam Dhammapada syair 169: Hiduplah sesuai dengan Dhamma, tidak mengikuti cara hidup yang salah. Seseorang yang mengikuti ajaran Dhamma secara benar akan berbahagia dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang akan datang. Oleh karena itu, marilah kita berusaha terus-menerus dan bersungguh-sungguh, agar Chanda, Viriya, Citta dan Vimaṁsa yang merupakan empat kekuatan dasar dapat kita terapkan dalam segala macam aktivitas, yang nantinya akan memberikan buah kesuksesan dan kebahagiaan berkat kesungguhan dalam bekerja.

Dibaca : 4228 kali