x

22 Tahun Usia Viharaku

Attānañce piyaṁ jaññā, rakkheyya naṁ surakkhitaṁ
tiṇṇamaññataraṁ yāmaṁ, paṭijaggeyya paṇḍito

Seseorang yang mencintai dirinya sendirin hendaknya menjaga dan mengarahkan dirinya secara benar. Orang bijaksana senantiasa waspada dalam salah satu, kalau tidak semuanya, dari tiga jenjang masa kehidupannya.
(Dhammapada syair 157)

    DOWNLOAD AUDIO

Tanggal 24 Agustus 2007, Sīmā Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya genap berusia 22 tahun. Kini kita semua hadir di sini untuk merayakan hari ulang tahun vihara kita yang tercinta di mana hanya selisih satu minggu dengan ulang tahun kemerdekaan negara kita. Sebagai warga negara yang baik, tentunya kita selalu berharap dan berdoa semoga negara kita segera pulih keadaan ekonominya.

Sīmā berasal dari bahasa Pāḷi yang berarti ’batas’. Duapuluh dua tahun yang lalu sīmā vihara kita diresmikan oleh Saṅgha. Pada awalnya sebelum sīmā diresmikan, sesuai dengan pedoman yang terdapat dalam Tipiṭaka, terlebih dahulu Saṅgha melakukan upacara untuk membatalkan sīmā yang dahulu karena tidak tertutup kemungkinan pada masa-masa silam di tempat kita sekarang berada pernah didirikan sīmā. Baru kemudian, Saṅgha menetapkan sima yang baru. Sīmā di vihara kita tercinta ini disebut ’Baddha Sīmā’ yang berarti sīmā yang tetapkan oleh Saṅgha.

Usia 22 tahun vihara kita bukanlah tergolong dewasa, namun di usia yang masih muda ini banyak sekali kegiatan yang telah dilakukan oleh vihara kita, baik itu kegiatan di dalam maupun di luar lingkungan vihara. Di samping itu, vihara kita juga menjadi pusat perhatian masyarakat, baik itu masyarakat Buddhis sendiri maupun non-Buddhis, di antaranya sebagai tempat untuk belajar agama Buddha, latihan meditasi, hingga para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi datang mencari data untuk penyusunan tugas akhir perkuliahan mereka.

Ulang tahun vihara, perlu kiranya dipahami seperti ulang tahun kita sendiri. Pada waktu ulang tahun, tentunya kita tidak hanya melewatinya dengan bersenang-senang, tetapi akan jauh lebih baik jika kita dapat melewatinya dengan melakukan instropeksi diri di samping menumbuhkan rasa toleransi di antara sesama. Cukup sulit bagi kita untuk melakukan instropeksi diri, tetapi jauh lebih sulit lagi bagi kita untuk memperbaiki diri.

Pada saat melakukan instropeksi diri, kita akan menyadari bahwa setiap orang memiliki kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Dhamma, namun hal-hal semacam ini tidaklah patut dibiarkan terjadi berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan. Sangatlah tidak tepat jika kita memiliki anggapan bahwa pada dasarnya umat manusia telah dikodratkan untuk menjadi makhluk yang tidak sempurna. Sebagai umat Buddha yang bijak, tentunya kita harus berusaha sedini mungkin memperbaiki setiap kekeliruan yang pernah kita lakukan, baik itu dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Usaha untuk melakukan perbaikan dalam agama Buddha dikenal dengan ’attasammāpaṇidhi’ (mengarahkan diri secara benar)’.

Ada beberapa contoh orang mengarahkan dirinya ke arah yang benar, antara lain:

1. Seseorang yang dahulunya kikir, setelah belajar Dhamma ia mengembangkan kemurahan hati atau kedermawanan (cāgā);

2. Seseorang yang dahulu tidak memiliki keyakinan, setelah belajar Dhamma kemudian membangkitkan keyakinan (saddhā) yang kuat kepada Sang Tiratana; dan

3. Seseorang yang dahulunya tidak memiliki moralitas yang baik, tetapi setelah belajar Dhamma menjadi orang yang yang selalu menjaga sila.

Selain contoh di atas, tentunya masih banyak sikap yang lain, seperti: dari jahat berubah menjadi baik, dari kejam berubah menjadi welas asih, dari ceroboh berubah menjadi waspada, dari malas berubah menjadi rajin, dan lain-lainnya.

Dalam lingkup yang luas, tentunya mengarahkan diri ke arah yang benar dapat kiranya disepadankan dengan istilah ’sammāppadhāna’ (daya upaya benar), yaitu:

1. Usaha yang rajin untuk membasmi kejahatan (pāpā) yang sudah muncul;

2. Usaha yang rajin untuk mencegah kejahatan yang belum muncul;

3. Usaha yang rajin untuk menumbuhkan kebajikan (kusala) yang belum muncul; dan

4. Usaha yang rajin untuk mempertahankan atau mengembangkan kebajikan yang sudah muncul.

Satu hal yang paling penting dalam mengarahkan diri secara benar ialah bahwa usaha ini haruslah dilakukan oleh diri sendiri. Usaha ini tidaklah mungkin dapat dilimpahkan atau diserahkan kepada orang lain, bahkan baik orang yang paling kita cintai sekalipun. Dalam Dhammapada syair 165 dijelaskan bahwa kejahatan ataupun kebajikan diperbuat oleh diri sendiri. Seseorang menjadi ternoda atau suci karena diri sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat menyucikan orang lain.

Pada saat seseorang dapat mengarahkan dirinya secara benar, ia tidak akan tergoyahkan oleh keragu-raguan atau ketidakpastian. Ia memiliki kepercayaan diri dan tidak tergantung pada orang lain atau kekuatan di luar dirinya. Mereka yang memiliki tujuan yang benar, tidak akan mengikuti jalan yang salah dan tidak akan memanjakan diri dengan perbuatan-perbuatan tercela. Seseorang hendaknya memiliki pengendalian diri yang kuat, menjalankan moralitas dengan baik, penuh kewaspadaan, dan memiliki kebijaksanaan.

Mengarahkan diri secara benar tidak hanya akan membuahkan manfaat terbatas bagi diri sendiri saja, melainkan juga bagi orang-orang lainnya. Ditinjau dari segi sosial, seseorang yang mengarahkan diri secara benar tentunya tidak akan menjadi ancaman atau bahaya apapun bagi masyarakat luas di sekelilingnya.

Lebih jauh lagi, dengan mengarahkan diri secara benar, seseorang dianggap telah ikut serta secara nyata dalam menciptakan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Mengarahkan diri secara benar adalah langkah-awal yang harus dikerjakan oleh setiap orang dalam upaya menuntun diri menuju kemajuan, peningkatan dan perkembangan batiniah yang pesat. Sang Buddha menyatakan bahwa seseorang yang mengarahkan diri secara benar dalam hidupnya adalah salah satu berkah dalam hidup ini. (Maṅgala Sutta – Sutta Nipāta)

Dibaca : 2089 kali