x

Hukum Kamma Sebagai Hukum Universal Mahaadil

Na antalikkhe na samuddamajjhe, Na pabbatānaṁ viharaṁ pavissa
Na vijjati so jagatippadeso, Yatthaṭṭhito muñceyya pāpakammā

Tidak di angkasa atau di dalam laut, juga tidak di dalam gua atau di atas gunung, tidak ada tempat di dunia ini yang dapat dipakai sebagai tempat bersembunyi dimana seseorang dapat terbebas dari buah perbuatan jahatnya.
(Dhammapada, IX :12)

    DOWNLOAD AUDIO

Kisah Mahāmoggallāna Thera

Suatu saat petapa Nigantha merencanakan untuk membunuh Mahāmoggallāna Thera dengan tujuan akan menghilangkan kemashyuran dan keberuntungan Sang Buddha. Mereka menyewa para perampok untuk membunuh Mahāmoggallāna Thera yang kala itu berdiam di Kalasila dekat Rajagaha. Perampok itu mengepung vihara tempat Mahāmoggallāna Thera berdiam, tetapi Mahāmoggallāna Thera dengan kemampuan batin luar biasanya dapat menghilang, sehingga mereka tidak dapat menangkap Mahāmoggallāna Thera dalam waktu dua bulan.

Ketika para perampok kembali mengepung vihara pada bulan ketiga, Mahāmoggallāna Thera mengetahui bahwa ia harus menerima akibat perbuatan (kamma) jahat yang dilakukannya pada salah satu kehidupan lampaunya, maka beliau tidak menggunakan kelebihan batinnya, sehingga para perampok berhasil menangkap dan menganiaya dengan kejam. Setelah itu tubuhnya dibuang ke semak-semak, karena dianggap telah menjadi mayat.

Dengan kekuatan batin/jhana, Mahāmoggallāna Thera dapat bangkit kembali, dan pergi menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana. Tetapi Mahāmoggallāna Thera juga menyadari, akibat dari penganiayaan yang dideritanya, beliau tidak akan dapat hidup lebih lama lagi. Maka, beliau memberitahu Sang Buddha bahwa beliau akan segera meninggal dunia (parinibbāna) di Kalasila.

Sang Buddha menganjurkan beliau agar membabarkan Dhamma terlebih dahulu sebelum parinibbāna. Kemudian Mahāmoggallāna Thera membabarkan Dhamma kepada para bhikkhu, setelah itu bersujud (namakara) kepada Sang Buddha sebanyak tujuh kali.

Berita wafatnya Mahāmoggallāna Thera di tangan para perampok menyebar bagaikan kobaran api. Raja Ajatasattu menyuruh orang-orangnya agar menyelidiki hal ini. Setelah menyelidiki, mereka berhasil menangkap para perampok dan menghukum mati dengan cara membakarnya.

Para bhikkhu mendengar wafatnya Mahāmoggallāna Thera sangat sedih dan tidak mengerti mengapa orang seperti beliau meninggal dunia di tangan para perampok.

Kepada mereka kemudian Sang Buddha mengatakan, ”para bhikkhu, pada kehidupan saat ini beliau hidup dengan kemuliaan sehingga beliau tidak akan mengalami kematian lagi. Akan tetapi, pada kehidupan yang lampau ia telah melakukan kejahatan besar terhadap kedua orangtuanya yang buta. Pada awalnya beliau adalah seorang anak yang berbakti, tetapi setelah ia menikah, istrinya membuat permasalahan, istrinya mendorong agar ia berpisah dengan orangtuanya. Kemudian ia membawa orangtuanya yang buta pergi ke hutan dengan pedati, di sana kedua orangtuanya dibunuh dengan cara dipukul. Sebelumnya, dengan tipu muslihat ia meyakinkan kedua orangtuanya, seolah-olah mereka akan dibunuh oleh penjahat. Untuk perbuatan jahat yang dilakukannya ini, ia telah menderita di alam neraka untuk waktu lama; dan pada kehidupan saat ini beliau harus mengalami kematian di tangan perampok. Tentunya dengan melakukan perbuatan jahat terhadap mereka yang tidak jahat, seseorang pasti akan menderita karenanya”.

Kemudian Sang Buddha membabarkan Dhamma (Dhammapada syair 137, 138, 139, dan 140) berikut ini:

Apabila seseorang menyerang orang yang suka damai, atau menganiaya orang yang tidak bersalah, ia akan segera mengalami SEPULUH KEADAAN YANG MENYEDIHKAN.

Rasa sakit yang luar biasa, malapetaka, luka-luka pada tubuh, penyakit yang berat, terganggu jiwanya;

Dipersulit oleh penguasa, menerima tuduhan yang keliru (fitnah), kehilangan sanak keluarga, jatuh miskin.

Rumahnya terbakar dalam lautan api, setelah kematiannya orang jahat itu lahir di alam neraka.

Referensi: Dhammapada Aṭṭhakathā Bab. X (Danda Vagga)

Dibaca : 3768 kali