x

Perubahan-Perubahan Kehidupan

-

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam sutta-sutta banyak sekali ditemukan nasehat Sang Buddha yang mengajarkan kita untuk menyadari dan melihat akan adanya fenomena yang sebenarnya dari kehidupan ini, yang selalu mengalami perubahan (anicca) yang tak pernah henti-hentinya. Salah satunya adalah Aṅguttara Nikāya yang menjelaskan delapan kondisi dunia (Aṭṭhalokadhamma).
”Delapan kondisi dunia ini, para bhikkhu, membuat dunia terus berputar, dan dunia memutar delapan kondisi dunia ini. Apakah yang delapan itu? Perolehan (untung) dan kehilangan (rugi), ketenaran dan nama buruk, pujian dan celaan, kesenangan, dan penderitaan.”

”Delapan kondisi dunia ini, para bhikkhu, dialami oleh manusia yang tidak belajar, dan dialami juga oleh siswa mulia yang belajar. Sekarang, apakah kelainan, perbedaan, ketidaksamaan antara siswa mulia yang belajar dan manusia yang tidak belajar?”

”Yang Mulia, pengetahuan kami tentang hal ini berakar pada Yang Terberkahi (Buddha), pengetahuan kami berdasar pada Yang Terberkahi sebagai pembimbing dan sumbernya. Akan sangat baik, Yang Mulia, jika arti pernyataan ini dijelaskan oleh Yang Terberkahi. Setelah mendengar dari Yang Terberkahi, para bhikkhu akan menyimpannya di dalam pikiran.”

”Jika demikian, dengarkanlah, para bhikkhu, dan perhatikan dengan saksama. Aku akan berbicara.”

”Ya, Yang Mulia,” jawab para bhikkhu. Kemudian Yang Terberkahi (Buddha) berkata demikian:

”Ketika manusia yang tidak belajar, O para bhikkhu, memperoleh sesuatu, dia tidak berpikir seperti ini: ’Perolehan yang telah datang padaku ini tidak kekal, menyatu dengan penderitaan, pasti akan berubah.’ Dia tidak mengetahui hal itu seperti apa adanya. Dan ketika dia kehilangan sesuatu, memperoleh ketenaran dan nama buruk, pujian dan celaan, dia tidak berpikir seperti ini: ’Semuanya ini tidak kekal, menyatu dengan penderitaan, pasti akan berubah.’ Dia tidak mengetahui hal-hal itu seperti apa adanya. Pada orang seperti itu, perolehan dan kehilangan ... kesenangan dan penderitaan membuat pikirannya goncang. Ketika perolehan datang dia amat sangat gembira, sedangkan ketika mengalami kehilangan dia amat sangat sedih. Ketika ketenaran datang dia amat sangat gembira, sedangkan ketika mendapat nama buruk dia amat sangat sedih. Ketika pujian datang dia amat sangat gembira, sedangkan ketika mendapat celaan dia amat sangat sedih. Ketika mengalami kesenangan dia amat sangat gembira, sedangkan ketika mengalami penderitaan dia amat sangat sedih. Karena sangat terlibat di dalam suka dan tak suka, dia tidak akan terbebas dari kelahiran, usia tua dan kematian, dari kesedihan, ratap tangis, kesengsaraan, duka dan keputusasaan; dia tidak akan terbebas dari penderitaan, demikian kunyatakan.

”Tetapi, O para bhikkhu, ketika seorang siswa mulia yang belajar memperoleh sesuatu, dia akan berpikir seperti ini: ’Perolehan yang telah datang padaku ini tidak kekal, menyatu dengan penderitaan, pasti akan berubah.’ Dan dia juga akan berpikir seperti itu ketika kehilangan dan hal-hal lain menimpanya. Dia memahami semua hal ini seperti apa adanya dan hal-hal ini tidak menguasai pikirannya. Dengan demikian dia tidak akan amat sangat gembira karena perolehan atau amat sangat sedih karena kehilangan, amat sangat gembira karena ketenaran atau amat sangat sedih karena nama buruk; amat sangat gembira karena pujian atau amat sangat sedih karena celaan; amat sangat gembira karena kesenangan atau amat sangat sedih karena penderitaan. Karena telah melepaskan suka dan tak suka, dia akan terbebas dari kelahiran, usia tua dan kematian, dari kesedihan, ratap tangis, kesengsaraan, duka dan keputusasaan; dia akan terbebas dari penderitaan, demikian kunyatakan.

”Inilah, para bhikkhu, kelainan, perbedaan, ketidaksamaan antara siswa mulia yang belajar dan manusia yang tidak belajar.”

Kehilangan (rugi) dan perolehan (untung), nama buruk dan ketenaran,

Pujian dan celaan, kesenangan dan penderitaan

Hal-hal ini berlalu di dalam kehidupan manusia,

Tidak tetap dan pasti berubah.

Orang bijaksana yang waspada memahaminya dengan baik,

Mengamati perubahannya. Hal-hal yang menyenangkan tidak menggoyahkan pikirannya

Dan yang tidak menyenangkan tidak menjengkelkannya.

Semua suka dan tak suka disingkirkan olehnya,

Dihilangkan dan dilenyapkan.

Menyadari sekarang tentang keadaan tanpa cela dan tanpa duka,

Dia sepenuhnya mengetahui, setelah melewatinya ke seberang.

Apabila salah satu dari delapan kondisi dunia itu timbul, seseorang harus merenungkannya demikian ’kondisi ini telah timbul pada diriku, tetapi itu tidak kekal dan derita, sifatnya adalah dapat berubah dan tidak tetap, ia harus diketahui sebagaimana adanya, dan tidak seharusnya aku dikuasai oleh pikiran’. Dengan kata lain, seseorang janganlah terlalu gembira terhadap hal-hal yang menyenangkan dan bersedih terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan.

Sumber: Petikan Aṅguttara Nikāya, hal. 488

Dibaca : 1423 kali