x

Kebiasaan Itu Sukar Dihilangkan

Yo appaduṭṭhassa narassa dussati, suddhassa porassa ananganassa.
Taṁ eva bālaṁ pacceti pāpaṁ, sukhumo rajo paṭivātaṁ’va khitto’ti.

Barangsiapa berbuat jahat terhadap orang baik, orang suci, dan orang yang tidak bersalah, maka kejahatan itu akan berbalik menimpa diri orang bodoh itu, bagaikan debu yang dilempar melawan arah angin.
(Dhammapada 125)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam kehidupan bermasyarakat kita dihadapkan dengan berbagai persoalan yang kadang-kadang terasa amat sangat sulit diselesaikan, terutama dengan orang yang terlibat di dalamnya sulit diajak bekerjasama. Kerjasama dalam hubungan antarsesama tentu bisa melalui banyak cara. Dalam kehidupan sehari-hari tentu sudah umum kita kenal istilah ’kebiasaan’. Kadang-kadang tanpa kita sadari dalam pikiran kita bersandar suatu pola pikir yang halus tapi kurang baik bahkan tidak mengenakkan bagi pihak lain. Apakah kebiasaan itu bisa dihentikan? Apakah kebiasaan itu memang harus berlarut-larut? Mari kita simak uraian berikut ini dengan cermat.

Kebiasaan Membunuh Makhluk Hidup

Orang yang senang membunuh cenderung merasa bahwa apa yang dilakukannya itu tidak salah. Padahal membunuh makhluk hidup jenis apapun tetap tergolong perbuatan jahat dan melanggar sila ke-1 Paṭcasīla Buddhis. Apakah bunuh diri juga termasuk pelanggaran sila ke-1? Sang Buddha pernah mengatakan bahwa meng-akhiri hidupnya sendiri (bunuh diri) adalah bentuk manifestasi lain dari pembunuhan. Dalam Kodhana Sutta, Avyakata Vagga, Aṅguttara Nikāya VII, Sang Buddha meng-identifikasi kecenderungan-kecenderungan penyebab bunuh diri adalah ketidak-seimbangan pikiran.

Apakah dengan membunuh boleh dikatakan menjadi sumber kegembiraan? Sang Buddha tidak pernah menganjurkan siapapun untuk mengekspresi kegembiraan pribadi di hadapan seekor binatang yang sedang menderita. Apalagi melakukan sendiri membunuh makhluk hidup yang memiliki harapan sama dengan kita untuk hidup bebas dari penderitaan. Secara jelas hal itu tidak bisa dibenarkan dalam ajaran Buddha.

Bagaimana dengan membunuh binatang untuk dikonsumsi demi memper-tahankan hidup? Sang Buddha memberikan izin kepada para bhikkhu untuk meng-konsumsi daging dengan syarat: umat tidak membunuh binatang secara khusus untuk disuguhkan dagingnya kepada bhikkhu. Ini berarti mengkonsumsi daging adalah masalah yang berbeda dengan membunuh binatang.

Dalam Gihi Sutta, Upasaka Vagga, Aṅguttara Nikāya V, Sang Buddha meng-konfirmasikan secara jelas bahwa Beliau memberikan nasihat kepada para perumah-tangga untuk menghindari ketergantungan terhadap pengkonsumsian daging binatang bilamana mereka masih memiliki fisik yang kuat. Dalam kondisi normal menjadikan binatang sebagai sumber pangan adalah salah.

Akan tetapi dalam suatu keadaan yang cenderung kehilangan harapan hidup, keputusan secara pribadi akan bisa terjadi sebaliknya, merasa perlu bahkan harus mendapatkan daging binatang untuk dikonsumsi demi mempertahankan hidup. Sang Buddha menyatakan dalam kondisi seorang individu memiliki fisik yang lemah akan menjadi alasan yang bisa diterima bilamana ia hidup tergantung makanan dari bahan daging. Contoh nyata adalah manusia yang hidup di kutub utara atau kutub selatan, mereka membutuhkan makanan dari bahan daging untuk pertahanan hidup mereka.

Kebiasaan Mengambil Barang Bukan Milik

Perbuatan salah yang didefinisikan sebagai mencuri atau mengambil barang yang tidak diberikan terdapat dalam Veludvareyya Sutta, Sotapatti Saṁyutta, Mahā-Vagga, Saṁyutta Nikāya V. Sang Buddha secara jelas menekankan terutama kepada para perumahtangga untuk meng-hindari pengambilan barang dengan cara menipu, korupsi, atau cara-cara terpaksa untuk memperoleh penghasilan materi.

Kebiasaan Terhadap Lawan Jenis

Memang benar Sang Buddha mengakui seksualitas merupakan dorong an yang amat sangat kuat bagi individu manusia seperti yang terdapat dalam Cittapariyadana Vagga, Aṅguttara Nikāya I. Sang Buddha mengatakan bahwa tidak ada bentuk, suara, bau atau sentuhan lain yang terus menerus mengobsesi pikiran seseorang selain bentuk, suara, bau dan sentuhan lawan jenisnya.

Sang Buddha justru memberikan petunjuk supaya para perumahtangga mampu mengendalikan kekuatan keinginan mereka masing-masing. Sebagai perumahtangga seharusnya memperhatikan dan menjaga hubungan yang saling peduli satu sama lain antara suami dengan istri agar tidak timbul keterpaksaan yang bersifat sepihak dalam melakukan tugas dan kewajiban masing-masing pihak.

Sering ada pertanyaan dari banyak pihak, ‘apakah seorang wanita dengan seorang pria yang tidak memiliki hubungan suami istri yang sah boleh melakukan hubungan seksual karena satu sama lain suka sama suka?’

Dalam hal ini kita harus melihat niat awal yang menyertai perbuatan yang disebut suka sama suka itu mungkin terlihat dan terkesan seolah-olah tidak ada masalah. Tentu di samping niat awal, juga yang harus dilihat adalah akibat dari perbuatan itu. Adapun hal-hal yang bisa terjadi sebagai akibat dari perbuatan itu adalah: menjadi orangtua yang tidak diinginkan, penyakit menular seperti AIDS dan HIV, banyak pihak lain yang tidak senang, dsb. Jadi, sebetulnya pendekatan yang paling sesuai untuk melihat dan menilai hal tersebut adalah dengan melihat baik dan buruknya niat dan akibat yang dihasilkan. Kalau niat seolah-olah terkesan tidak ada masalah, dampak atau akibatnya sangat jelas tidak bisa diterima oleh pihak lain.

Kebiasaan Berbohong (Berucap Salah)

Dalam Veludvareyya Sutta, Sotapatti Saṁyutta, Mahāvagga, Saṁyutta Nikāya V dikatakan, ’Jika seseorang merusak kesejah-teraan saya dengan berbohong, perbuatan itu jelas tidak menyenangkan terhadap diri saya. Jika saya sendiri melakukan hal yang sama, perbuatan saya itu tentu tidak menyenangkan terhadap banyak pihak lain. Orang yang bisa melakukan perenungan dengan cara seperti itu seharusnya akan menghindari untuk berbohong (musāvādā)’.

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa ucapan salah/palsu timbul dari kekuatan niat si pelaku untuk merusak kesejahteraan banyak pihak lain. Niat awal dan terutama akibat akhir yang buruk adalah faktor-faktor yang paling menentukan bahwa ucapan itu sesungguhnya tidak benar.

Sikap Sang Buddha Terhadap Kisa Gotami

Cerita mengenai Kisa Gotami yang memiliki anak tunggal meninggal dunia menjadi menarik untuk dibahas dalam hal ini. Pada saat Kisa Gotami mengalami stress berat karena kehilangan anak tunggal (meninggal dunia), Sang Buddha mem-berikan petunjuk supaya ia mencari segeng-gam biji lada yang harus didapat dari rumah yang sama sekali tidak pernah terjadi kematian.

Sang Buddha tidak mengatakan yang sebenarnya bahwa anak itu tidak akan mungkin hidup lagi, karena akan membawa bahaya bagi Kisa Gotami sendiri. Tetapi dengan cara seperti yang Sang Buddha katakan, bahwa anaknya akan bisa hidup kembali dengan segenggam biji lada dari rumah yang bebas dari kematian. Namun, Kisa Gotami akhirnya menjadi sadar bahwa tidak mungkin ada rumah yang sama sekali tidak pernah terjadi kematian, dan dia sadar juga bahwa kematian anaknya memang sudah terjadi dan tidak mungkin hidup lagi. Kebiasaan cara berpikirnya yang salah menjadi terbuka dan menemukan bahwa cara berpikirnya itu salah. Kemudian setelah dia menyadari sepenuhnya akan kenyataan itu, maka dia menjadi mengerti dan tenang. Betapa sukarnya pola pikir yang salah dan kuat itu harus dihapus.

Kebiasaan Menikmati Barang Madat

Sang Buddha menyatakan bahwa sila kelima ini harus digunakan untuk mencegah kebiasaan dan menjauhkan diri dari ke-tagihan terhadap segala minuman dan barang madat yang bisa menyebabkan lemahnya kesadaran (mabuk).

Kesimpulan

Semua yang berhubungan dengan kemoralan atau praktik sila ini bukan menimbulkan rasa tertekan akan tetapi terkait kebiasaan setiap orang dalam kehidupan setiap hari. Kebiasaan buruk yang sudah kuat akan membawa bahaya bagi pribadi sendiri dan juga orang lain di sekitarnya, dan sulit untuk dihilangkan. Dengan kesadaran yang lemah dapat menimbulkan kekeliruan yang tidak mengenal arah, tidak bisa membedakan mana yang baik dengan mana yang buruk. Perbuatan jahatnya pun mengarah ke semua sasaran secara membabi buta, sehingga orang baik, orang benar, orang suci pun dijadikan sasaran. Namun, seperti yang dikutip dari Dhammapada ayat 125 tersebut di atas, siapapun yang berbuat jahat dengan sasaran orang baik, orang tidak bersalah, bahkan orang suci, ia sendiri sebagai pelaku sesungguhnya akan tertimpa akibat dari perbuatannya itu sendiri.

Semoga kita sadar sesadar mungkin sehingga kita dapat melepas kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada pada diri kita sendiri. Sadarlah! Sadarlah! Sadarlah!

Sādhu!

Sumber:

Beautiful Living, Buddha’s Way to Prosperity, Wisdom, and Inner Peace (Bhikkhu Basnagoda Rahula, Ph.D) - Houston, Texas, USA 2006

Dibaca : 4807 kali