x

PEMIKUL BEBAN

Yoniso vicine dhammaṁ 
Telusuri suatu permasalahan Sepanjang Alur hingga pangkalnya.

    DOWNLOAD AUDIO

Tidak seorang pun ingin memikul beban jika hal demikian dapat dihindari. Namun beban tersebut, dimaknai secara berbeda-beda sebagai tanggung jawab atau pekerjaan, baik yang dipikul secara fisik maupun mental. Kita memiliki beban yang kerumitan berat dan bervariasi, beberapa memberatkan dan sementara yang lainnya ringan.

 

Orang yang bekerja untuk organisasi atau perusahaan dinamakan pegawai. Dengan kata lain, mereka yang mengemban dari organisasi atau perusahaan dinamakan pegawai.

 

Dapat kita lihat di sekeliling kita berbagai jenis dari pegawai organisasi seperti pegawai perusahaan, pegawai rumah sakit, pegawai penjualan dan pegawai pendidikan. Pegawai perusahaan akan mengemban beban dari perusahaan sementara pegawai rumah sakit mengemban beban dari rumah sakit. Pegawai penjualan mengemban beban penjualan dari firma mereka, sementara pegawai pendidikan mengemban beban dari institut pendidikan.

 

Namun, sebagian orang berpikir bahwa saya adalah bos, majikan, pemimpin. Bagaimana bisa demikian. Tetapi perlu kita melihat secara Dhamma yang diajarkan sang Buddha. Lebih jauh lagi, Apakah beban yang kita pikul itu? Sang Buddha mengatakan bahwa beban itu adalah Pañcupādānakkhandhā (lima kelompok subjek dari pencengkeraman), yaitu:

1.  Rūpakkhandhā

Jasmani kita membutuhkan makanan, menyukai santapan yang nikmat, membutuhkan pakaian, jubah yang bagus dan indah, tempat tinggal yang nyaman, dan menginginkan kesehatan dan kebahagiaan

2.  Vedanākkhandhā

Perasaan kita ada yang sifatnya menyenangkan, perasaan kesedihan/kedukaan, dan perasaan netral.

3.  Saññakkhandhā

Ingatan, kontak, kesan, yang selalu berhubungan dengan masa lampau, saat ini, dan akan datang. Bentuk dari ingatan ini yaitu: “aku sangat merundukannya. Izinkan aku untuk melihatnya lagi. Mereka mencaci aku. Mereka memperlakukan aku dengan buruk dan kejam”.

4.  Saṅkharākkhandhā

Sankharakkhandha adalah bentuk-bentuk pikiran, yang menyebabkan kita melakukan kusala-kamma dan akusala-kamma lewat enam landasan indria (pintu pikiran, pintu penglihatan, pintu pendengaran, pintu penciuman, pintu pengecapan, dan pintu kulit).

5.  Viññañakkhandhā

Kesadaran yang mengetahui/ mengenali objek. Ia adalah pelopor dalam mengenali objek.

 

Siapakah pemikul beban itu?

Pemikul beban selama ini adalah individu dan Anda. Kita adalah para pemikul beban. Anda adalah pemikul beban, beban yang kita pikul sangat banyak dan beragam bahkan terkadang bisa menimbulkan galau, stress dan bisa juga menyebabkan kita depresi. Selama kita belum sempurna (tidak ada keserakahan, kebencian, ketidaktahuan) bukanlah “Majikan, Bos, Pemimpin tetapi pemikul beban”.

 

Apa yang menyebabkan kita memikul beban/pengambilan beban?

Setelah menyatakan apa itu beban dan siapakah pemikul beban, sekarang kita akan mengetahui penyebab dari kita memikul beban. Tanha adalah penyebab kita memikul beban. Baik dari sebuah pekerjaan yang kita emban. Dari satu kelahiran ke kelahiran selanjutnya. Selama kita termakan oleh api nafsu keinginan selama itu pula kita akan memikul beban. Beban yang kita pikul ini hanya untuk memenuhi antara 'kebutuhan dan keinginan'. Selama keinginan (tanha) dan kemelekatan (upadhana) masih ada, maka kehidupan kita akan terus berputar dan beban pula yang kita pikul. Miliki perasaan puas dengan apa yang kita miliki, jangan melekat sebab itu akan mendatangkan penderitaan bagi kehidupan sehari-hari.

 

Peletakkan beban

Peletakkan beban itu ialah pemupusan dan pemadaman tanpa sisa dari tanha (nafsu keinginan). Mengakhiri dari dukkha (beban) dan tidak lagi menjadi pemikul beban namun jadi penakluk/majikan yang berhasil menaklukan dari lobha, dosa, dan moha.

 

Peletakan beban ini harus dimulai dari hal yang sederhana. Mulailah dari hal yang kecil, bertahap. Ini cara kita belajar untuk meletakkn beban yang kita pikul. Buddha menuntun kita pada jalan kebenaran yang dapat membebaskan dari beban-beban, yang selama ini kita pikul. Jalan itu ialah Tesikkhā. Untuk melihat kebenaran yang pertama, kedua dan ketiga kita harus memupuk dan mempraktikkan Ariya sacca yang ke empat, yaitu Jalan Ariya Berfaktor Delapan (Aṭṭhaṅgika Ariyamagga). Jalan Ariya Berfaktor Delapan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

Sīla:

- Sammā Vācā (Ucapan Benar),

- Sammā Kammanta (Perbuatan Benar),

- Sammā Ājīva (Penghidupan Benar).

Samādhi:

- Sammā Vayama (Upaya Benar),

- Sammā Sati (Perhatian Benar),

- Sammā Samādhi (Samadhi Benar).

Paññā:

- Sammā Diṭṭhi (Pandangan Benar),

- Sammā Saṅkhapa (Pemikiran Benar).

 

Sebagai kesimpulan bahwa sebagai makhluk manusia, makhluk dewa, makhluk yang berada di alam rendah akan selalu membawa beban. Selama kehidupan kita terus berputar dan masih memiliki nafsu keinginan selama itu pula keinginan untuk dilahirkan akan ada. Setelah mengetahui penjelasan mengenai “beban, pemikul beban, pengambilan beban, dan peletakan beban” diharapkan kita semua memahami Dhamma secara mendalam dan selalu mempraktikkannya dalam  kehidupan sehari-hari.

 

Referensi :

1.  Dhammapada

2.  Pemikul Beban (Bhāra sutta), Bhikkhu Revata

3.  Pepatah Buddhis

Dibaca : 788 kali