x

Dhamma Adalah Pelenyap Kebodohan Dan Pengakhir Penderitaan

Ye ca kho sammadakkhāte, dhamme dhammānuvattino
Te janā pāramessanti, maccudheyaṁ Suduttaraṁ

Mereka yang melaksanakan Dhamma, dalam Dhamma yang telah dibabarkan dengan jelas, akan lolos dari jerat Māra nan sulit dilepas,  tiba di pantai seberang.

(Tilakkhanādi Gāthā)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam kehidupan kita ada pandangan-pandangan yang salah (kebodohan) yang menyebabkan penderitaan. Pandangan salah ini memandang kehidupan dengan empat cara yaitu: (1) Nicca-vipallāsa yaitu kekeliruan dalam mencerap atau memandang bahwa sesuatu yang tidak kekal sebagai kekal; (2) Sukha-vipallāsa yaitu kekeliruan dalam mencerap atau memandang bahwa sesuatu yang menderita sebagai kebahagiaan; (3) Atta-vipallāsa yaitu kekeliruan dalam mencerap atau memandang bahwa sesuatu yang bukan milikku, bukan aku sebagai milikku yang kekal; (4) Subha-vipallāsa yaitu kekeliruan dalam mencerap atau memandang bahwa sesuatu yang tidak indah sebagai sesuatu yang indah. Karena kesalahan dalam memandang kehidupan itulah, yang membuat batin menjadi tidak dapat melihat kebenaran dalam hidup sehingga masih melekat pada sesuatu akibatnya tidak dapat mengakhiri penderitaan. Tetapi pandangan-pandangan salah itu dapat dilenyapkan dengan Dhamma yang telah diajarkan Sang Buddha.

Dhamma ini, yang akan membuka mata batin kita yang masih tertutup oleh debu kebodohan. Hanya Dhammalah yang dapat melenyapkan debu kegelapan yang ada di batin kita. Dengan lenyapnya debu kebodohan batin, maka seseorang memahami dengan jelas tentang: sifat kehidupan dan sebab-akibat dari penderitaan dalam hidup.

Meskipun Sang Buddha sudah lama berparinibbana tetapi Dhamma ajaranNya masih dekat dengan kita. Dhamma dapat kita peroleh melalui tiga tahapan dalam praktik yaitu: (1) Pariyatti-Dhamma adalah berusaha belajar dengan tekun dalam membahas Dhamma secara teori; (2) Paṭipatti-Dhamma adalah usaha melaksanakan Dhamma yang sudah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari; (3) Paṭivedha-Dhamma adalah berhasil menembus Dhamma dari menganalisa kejadian-kejadian yang dialami dalam hidup dengan meditasi pandangan terang (Vipassanā Bhavāna).

Dengan pandangan terang penderitaan hidup dapat dilenyapkan atau diakhiri. Sang Buddha menunjukkan kepada kita dengan jelas tentang corak atau sifat hidup. Dalam Dhammaniyāma Sutta Sang Buddha menunjukkan kebenaran akan corak atau sifat hidup yaitu Sabbe Saṅkhāra Anicca, Sabbe Saṅkhāra Dukkha, Sabbe Dhamma Anattā.

Sabbe Saṅkhāra Anicca adalah segala bentukan adalah tidak kekal adanya. Pada umumnya orang masih menganggap, apa yang dimilikinya sebagai sesuatu yang kekal adanya. Mereka tidak memahami hal ini, akan takut kehilangan apa yang mereka cintai serta tidak mau berpisah dengan apa yang mereka cintai. Akibatnya  ketika seseorang tidak mengetahui akan kebenaran ini yang muncul adalah derita, ratap tangis, sedih, dan lain-lain. Kalau kita perhatikan diri kita atau apapun di sekitar kita, pada dasarnya tidak kekal dan akan berubah, setelah muncul akan mengalami kelenyapan, tidak hanya fisik kita tetapi apa saja yang merupakan kumpulan dari bentukan akan mengalami perubahan atau ketidak-kekalan. Pandangan terang ini, bukan membuat manusia menjadi orang yang pesimis tetapi kebenaran ini mengajarkan manusia untuk melihat realitas yang sesungguhnya dan akhirnya tidak melekat pada sesuatu yang tidak kekal.

Sabbe Saṅkhāra Dukkha adalah segala bentukan yang merupakan perpaduan adalah dukkha. Pengertian dukkha sangatlah kompleks tidak hanya pada derita, tetapi dukkha juga memiliki makna sukar bertahan, keberadaan yang menekan, menghimpit. Kita pada umumnya masih mengganggap kehidupan ini sebagai sukha. Ketika seseorang belum memahami corak kehidupan ini yang diliputi oleh dukkha, maka yang muncul adalah derita, kecewa, sedih, ratap tangis, dan lain-lain. Pandangan terang akan sabbe Saṅkhāra dukkha ini, sesungguhnya adalah realita yang sering muncul dalam hidup kita. Coba kita renungkan kembali, banyak mana antara bahagia dan derita, tentu lebih banyak derita. Itulah yang kita alami, karena memang dukkha adalah corak dari hidup. Dalam hidup kita ingin selalu bahagia, bahagia muncul tidak harus dengan merubah derita, tetapi bahagia akan muncul tatkala seseorang bisa memahami akan derita. Karena dengan memahami ini menjadi tidak melekat pada sesuatu yang tidak dapat bertahan.

Sabbe Dhamma Anattā adalah segala bentukan maupun bukan bentukan adalah bukan diri. Mengapa dikatakan bukan diri sebab keberadaannya tidak bisa kita atur, ia tidak bisa mengikuti kehendak kita. Sebagai contoh kulitku jangan keriput, ia tetap saja keriput; rambutku jangan menjadi putih ia tetap putih. Apakah sesuatu yang tidak bisa kita atur, tidak bisa kita perintah bisa kita sebut sebagai diriku, aku atau milikku. Banyak sekali orang masih beranggapan diri sebagai aku, atau milikku. Maka ketika apa yang disebut aku atau milikku berubah yang timbul adalah derita. Sang Buddha menjelaskan kebenaran ini dengan jelas dalam Anattalakkhaõa Sutta. Dengan melepas persepsi tentang keakuan, kita akan bebas dari kemelekatan, bebas dari derita, bebas dari kesedihan. Sebagai contoh ketika ada keluarga kita sendiri sakit, kenapa kita sedih, tetapi kalau ada tetangga yang sakit kita tidak sedih. Ini disebabkan karena masih adanya kemelekatan terhadap keakuan bahwa itu adalah keluargaku. Kata ”ku-nya” inilah yang membuat menderita.

Dengan Dhamma yang diajarkan inilah kita mengarahkan diri. Dengan Dhamma maka terbukalah pandangan terang tentang corak atau sifat kehidupan, sehingga kebodohan batin menjadi lenyap dan penderitaan pun menjadi lenyap. Dalam Dhammapada syair 277, 278 dan 279 dinyatakan: Segala sesuatu yang berkondisi tidak kekal adanya. Segala sesuatu yang berkondisi adalah dukkha. Segala sesuatu yang berkondisi adalah tanpa inti. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini; maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.

Berbekal pandangan terang (Dhamma) akhirnya kita dapat meninggalkan kesenangan indriawi, tidak melekat, sebab telah mengerti sifat atau hakikat kehidupan dengan jelas. Batin menjadi semakin berkembang dengan benar hingga padamnya kilesa (kotoran batin), yakni akhir dari penderitaan.

Dibaca : 8134 kali