x

Melangkah Di Jalan Dhamma

Tumhehi kiccaṁ ātappaṁ, Akkhātāro Tathāgatā
Paṭipannā pamokkhanti, Jhāyino Mārabandhanā

Para Buddha hanya menunjukkan Sang Jalan, namun engkau sendirilah yang harus berusaha. Seseorang yang melangkah di atas Jalan Kebebasan akan terbebas dari belenggu Mara.

(Dhammapada, Magga Vagga)

    DOWNLOAD AUDIO

Di dunia ini terdapat bermacam-macam jenis jalan. Ada jalan yang berliku-liku, ada jalan yang lurus, ada juga jalan yang menanjak, jalan yang menurun, jalan setapak, jalan tol, jalan berbatu, dan lain-lain. Dalam hal ini ketika kita hendak bepergian menuju suatu tempat tertentu atau tempat yang akan kita tuju, ada satu hal yang sangat penting dan harus kita lakukan, yaitu kita harus melangkah melewati jalan itu. Selangkah demi selangkah, jika kita mau melangkahkan kaki kita di jalan itu, maka semakin dekatlah kita dengan tujuan yang kita tuju.

Dalam menjalani hidup ini tentunya kita semua punya suatu tujuan. Tujuan kita sebagai manusia kurang lebih hampir sama yaitu menginginkan kebahagiaan. Sesungguhnya, dalam Agama Buddha, ada tiga tujuan hidup bahagia yang bisa didapatkan, yaitu: 
1. Tujuan memperoleh hidup bahagia di dunia ini sebagai manusia, 
2. Setelah kematian atau meninggal dunia nanti masuk surga, dan 
3. Tujuan mencapai kebahagiaan tertinggi (Nibbāna). 
Tujuan mencapai Nibbāna merupakan tujuan tertinggi umat Buddha. Nibbāna tidak sama dengan surga. Nibbāna adalah kondisi tidak terlahirkan kembali, baik dalam kehidupan ini maupun setelah kehidupan ini, terbebas dari saṁsara (lingkaran tumimbal lahir) dan Nibbāna merupakan kebahagiaan yang tertinggi (Nibbānaṁ paramaṁ sukhaṁ) dan hal ini bisa dicapai ketika seseorang masih hidup di dunia ini yaitu dengan cara mempraktikkan jalan mulia berunsur delapan (ariya aṭṭhaṅgika magga).

Dalam hal ini jika kita sudah memiliki suatu tujuan, tentunya kita harus berusaha sekuat tenaga, bekerja keras, mengembangkan kebajikan, selalu bersemangat supaya mencapai tujuan yang kita tuju. Untuk mencapai tujuan itu, dalam hal ini tidak lain dan tidak bukan, karena Buddha hanya menunjukkan Sang Jalan, yaitu jalan menuju hidup bahagia di dunia ini, jalan menuju hidup bahagia di alam surga, dan jalan menuju ke Nibbāna, maka kita sendirilah yang harus berusaha melangkah di jalan yang telah Buddha tunjukkan. Kita harus melangkah di jalan Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma ajaran Buddha dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jalan menuju hidup bahagia di dunia ini
Hidup bahagia merupakan dambaan setiap orang di dunia ini, tidak ada orang yang ingin hidupnya menderita. Hidup bahagia dalam kehidupan saat ini dapat dicapai dengan memenuhi komitmen menjalankan aturan moralitas serta melaksanakan tanggung jawab sebagai makhluk sosial. Moralitas yang dijalankan untuk mendapatkan kebahagiaan di kehidupan saat ini disesuaikan dengan komitmen cara hidup yang dipilih. Khusus bagi umat perumah tangga (gharāvāsa), minimal bertekad menjalankan lima aturan kemoralan (pañcasīla) dalam kehidupan sehari-hari. Moralitas yang dimaksudkan disini juga mengacu pada berbagai aturan, adat istiadat, budaya, dan kebiasaan baik yang berlaku dalam masyarakat di mana seseorang bertempat tinggal. Sedangkan dalam memenuhi tanggung jawab sosial dapat merujuk pada ajaran Buddha dalam Sigalovāda Sutta.

Dalam Sigalovāda Sutta, Buddha mengajarkan mengenai enam hubungan timbal balik yang sangat mendasar, sehingga tercipta hubungan yang harmonis, tenteram dan bahagia, yaitu: 
1. Hubungan antara orangtua dengan anak, 
2. Guru dengan murid,
3. Suami dengan istri,
4. Sahabat dengan teman,
5. Majikan dengan pekerja, 
6. Umat awam perumah tangga dengan pembimbing religius (petapa dan brahmana).

Dijelaskan lebih lanjut dalam Vyaggapajja Sutta, Aṅguttara Nikāya. Buddha juga mengajarkan kepada seorang pengikut awam kepala rumah tangga (gharāvāsa) supaya memperoleh kebahagiaan di dunia ini. Pada kesempatan itu Buddha ditanya oleh seorang kepala rumah tangga bernama Dighajanu dari suku Koliya “sebagai upasaka yang masih menyenangi kehidupan duniawi, hidup berkeluarga, mempunyaai istri dan anak. Kepada mereka yang seperti kami ini, Bhante ajarkanlah suatu ajaran (Dhamma) yang berguna untuk memperoleh kebahagiaan di kehidupan sekarang ini dan di kehidupan yang akan datang” menjawab pertanyaan tersebut Buddha kemudian mengajarkan Dhamma, menunjukkan jalan supaya hidup bahagia di dunia ini yaitu dengan melaksanakan empat macam Dhamma, sebagai berikut:
1. Uṭṭhāna sampadā: Rajin dan bersemangat dalam bekerja dan mencari nafkah, dalam belajar dan menuntut ilmu pengetahuan dan dalam hal apa saja yang menjadi tugas serta kewajiban seseorang. Sehingga dengan penuh semangat dan rajin yang dimilikinya itu, seseorang akan dapat tercapai harapan dan cita-citanya.
2. Ārakkha sampadā: Penuh kehati-hatian, dengan kata lain, menjaga dengan hati-hati kekayaan apapun yang telah diperoleh dengan penuh semangat dan rajin, tidak membiarkannya mudah hilang atau dicuri dan terus menjaga cara bekerja yang baik sehingga tidak mengalami kemunduran atau kemerosotan.
3. Kalyāṇamittatā: Memiliki teman-teman yang baik, yang mempunyai kualitas keyakinan, kebaikan, cinta kasih, kedermawanan, dan kebijaksanaan. Berusaha untuk tidak berteman dengan orang-orang yang jahat dan tidak bermoral. Buddha bersabda dalam Maṅgala Sutta. Tidak bergaul/berteman dengan orang-orang dungu atau tidak bermoral dan bergaul dengan/berteman dengan para bijaksanawan adalah berkah utama.
4. Samajīvitā: Menempuh cara hidup yang sesuai dengan penghasilan. Hidup seimbang, tidak terlalu kikir tetapi juga tidak terlalu boros.
Dengan melaksanakan Dhamma ajaran Buddha ini, maka tujuan hidup bahagia di dunia ini sebagai manusia akan tercapai.

Jalan menuju hidup bahagia di alam surga
Masih dalam Sutta yang sama, Buddha memberikan penjelasan lebih lanjut kepada kepala rumah tangga Dighajanu. Beliau menunjukkan jalan bagaimana supaya setelah kehidupan ini berakhir (meninggal dunia) dapat terlahir di alam bahagia/surga. Yaitu dengan cara melakukan dan mengembangkan kebajikan dengan memiliki;
1. Saddhā : Keyakinan
2. Sīla : Moralitas yang baik (Melaksanakan Pañcasīla Buddhis)
3. Cāga : Sifat yang dermawan
4. Paññā : Kebijaksanaan
Dengan mengembangkan kebajikan, melaksanakan dan memiliki empat macam Dhamma ini, maka seseorang akan mencapai tujuan hidup bahagia setelah kematian dalam kehidupan ini, yaitu mencapai alam bahagia/surga. Karena dengan melakukan kebajikan itulah maka seseorang dapat mencapai alam bahagia/surga.

Si pembuat kebajikan berbahagia dalam kehidupan ini, ia juga berbahagia dalam kehidupan yang akan datang, ia berbahagia di kedua alam kehidupan. Ia sangat berbahagia ketika merenungkan perbuatan bajiknya, dan ia akan lebih bahagia lagi setelah terlahir di alam bahagia/surga. (Dhammapada - Yamaka Vagga, 18)

Sebab itulah ia yang bijaksana, setelah mengetahui manfaat kebajikan bagi diri sendiri; memperkuat keyakinannya kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Siapapun yang melaksanakan Dhamma dengan baik, baik melalui pikiran, ucapan maupun perbuatan, saat hidup di dunia ia dipuji oleh para bijaksana dan bila kematian tiba akan berbahagia di alam surga. (Pabbatopama gātha, Saṁyuttanikāya)

Jalan menuju ke Nibbāna
Tujuan hidup yang ketiga adalah tujuan tertinggi dalam Agama Buddha, yaitu mencapai kebahagiaan tertinggi, Nibbāna. (Nibbānaṁ paramaṁ sukhaṁ). Lantas bagaimana caranya supaya mencapai Nibbāna? Tidak lain dan tidak bukan, kita harus melangkah di jalan Dhamma, yaitu dengan melaksanakan, mengembangkan jalan mulia berunsur delapan (ariya aṭṭhaṅgika magga) di dalam diri. Jalan mulia berunsur delapan itu adalah: 
1. Sammā-diṭṭhi : Pandangan benar
2. Sammā-saṅkappa : Pikiran benar
3. Sammā-vācā : Ucapan benar
4. Sammā-kammanta : Perbuatan benar
5. Sammā-ājīva : Pencaharian benar
6. Sammā-vāyāma : Daya upaya benar
7. Sammā-sati : Perhatian benar
8. Sammā-samādhi : Konsentrasi benar
Jalan mulia berunsur delapan (ariya aṭṭhaṅgika magga) ini sering dikelompokkan menjadi tiga bagian. Kelompok Paññā terdiri dari pandangan benar dan pikiran benar. Kelompok Sīla terdiri dari ucapan benar, perbuatan benar dan pencaharian benar. Kelompok Samādhi terdiri dari daya upaya benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Jalan mulia berunsur delapan ini jika dipraktikkan akan membawa seseorang pada pencapaian akhir dukkha atau kebahagiaan tertinggi, Nibbāna.
Di antara semua jalan, jalan suci yang beruas delapan adalah yang terbaik.
Hanyalah melalui jalan ini, bukan yang lain, yang dapat menyucikan seseorang.
Ikutilah jalan ini dan lenyapkan semua kejahatan tanpa sisa.
Dengan mengikuti jalan ini, engkau akan terbebas dari dukkha, membebaskan diri dari sengatan penderitaan dengan kebijaksanaan sempurna.
Oleh karena itu laksanakan jalan yang telah aku babarkan ini.
Para Buddha hanya menunjukkan Sang Jalan, namun engkau sendirilah yang harus berusaha.
Seseorang yang melangkah di atas Jalan Kebebasan akan terbebas dari belenggu Mara.
(Dhammapada 273,274,275, dan 276).

Inilah jalan yang telah Buddha tunjukkan kepada kita semua. Buddha menunjukkan jalan, mengajarkan Dhamma bagaimana supaya hidup bahagia di dunia ini sebagai manusia, hidup bahagia di alam surga, dan bahkan Buddha menunjukkan jalan menuju kebahagiaan tertinggi (Nibbāna) atau jalan menuju berakhirnya dukkha. Seringkali orang mengeluh tentang sulitnya mempraktikkan Dhamma ajaran Buddha. Sebenarnya tidak sulit seperti yang mereka bayangkan. Dhamma ini sangat sederhana, hanya membutuhkan kemauan untuk mempraktikkannya. Kendala yang dihadapi ketika mempraktikkan Dhamma seharusnya dijadikan tantangan untuk kemajuan batin kita. Jangan takut dengan tantangan, karena jika takut kita tidak akan pernah maju.

Buddha hanya menunjukkan Sang Jalan, kita sendirilah yang harus berusaha. Marilah kita bersama-sama untuk selalu hidup sesuai dengan Dhamma, melaksanakan Dhamma ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari dan bersemangat untuk selalu melangkah di jalan Dhamma yang telah Guru Agung Buddha tunjukkan. Bersemangat untuk tidak berbuat jahat, bersemangat menambah kebajikan dan bersemangat membersihkan kekotoran batin sendiri.

Teruslah bersemangat dan jangan pernah berhenti untuk selalu Melangkah di Jalan Dhamma. Semoga kita semua maju di dalam Dhamma dan tercapai cita-cita mulia mencapai Nibbāna.

Sumber:
- Dhammapada, Diterbitkah Oleh: Yayasan Abdi Dhamma Indonesia Tahun 2013.
- Petikan Aṅguttara Nikāya, Kitab Suci Agama Buddha. Diterbitkan oleh: Vihara Bodhivaṁsa-Klaten 2003.

Dibaca : 5289 kali