x

Penyebab-penyebab Konflik Dan Resolusinya

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Savanti sabbadī sotā – Latā ubbhijja tiṭṭhati
Tañca disvā lataṁ jātaṁ – Mūlaṁ paññāya chindathā’ti
Arus keinginan mengalir di suatu tempat, di situ pula tumbuh tanaman menjalar. Apabila Engkau melihat tanaman menjalar itu berkembang, cabutlah akarnya dengan pisau kebijaksanaan.
(Dhammapada 340)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam kehidupan sehari-hari jika kita melihat, banyak kasus konflik yang terjadi di masyarakat disebabkan oleh alasan-alasan yang sesungguhnya hanya pribadi tertentu karena persoalan kecil, yang sesungguhnya tidak perlu dibesar-besarkan. Namun mengapa hal itu bisa terjadi? Tentu saja ada sebab-sebab yang bisa dan perlu kita selidiki dan pelajari untuk kita mengerti dan sikapi secara baik dan bijaksana. Marilah kita ikuti lebih jauh dalam penjelasan di bawah ini.

Hidup di tengah masyarakat memang tidak bisa terhindar dari gesekan-gesekan antar sesama yang mungkin sengaja atau tidak sengaja menimbulkan konflik. Bahkan konflik itu juga tidak hanya antar pribadi, tapi bisa juga antar kelompok kecil bahkan antar kelompok besar. Apakah sebab-sebabnya?

Terobsesi Terhadap Nafsu Indera
Manusia pada dasarnya memiliki nafsu, seperti nafsu keinginan/ kesenangan untuk makan, mencari hiburan, mencari kekayaan, dsb. Apabila nafsu-nafsu itu tidak dikendalikan maka akan menjadi sumber permasalahan di lingkungan sekitar.

Dalam Aṅguttara Nikāya II. iv.6 yang membahas tentang penyebab konflik, dikatakan bahwa pada suatu ketika Bhikkhu Mahakaccana sedang berdiam di Varana di tepi Danau Lumpur, Brahmana Aramadanda datang dan bertanya kepadanya. Adapun pertanyaan dari Brahmana Aramadanda tersebut kepada YM. Mahakaccana adalah, “Apakah penyebab dan alasannya, Guru Kaccana, sehingga bangsawan berselisih dengan bangsawan, brahmana dengan brahmana, dan perumah tangga dengan perumah tangga?” YM. Bhikkhu Mahakaccana pun menjawab demikian, "Wahai brahmana, karena nafsu akan kesenangan indera, karena kemelekatan, ikatan, keserakahan, obsesi dan bersikukuh terhadap kesenangan-kesenangan indera, maka bangsawan berselisih dengan bangsawan, brahmana dengan brahmana, perumah tangga dengan perumah tangga."  (A.II, iv, 6)

Jadi, percekcokan, pertengkaran, perseteruan yang terjadi antar sesama di masyarakat di manapun itu, dimulai dari pribadi yang pikirannya ternodai oleh nafsu-nafsu yang tak terkendali dengan baik. Hal itu tidak disadari sehingga menjadi persoalan yang kadang-kadang bisa semakin sulit diatasi/selesaikan.

Terobsesi Terhadap Ajaran
Terkait dengan sub judul ini, dahulu pada zaman Buddha ada dijelaskan tentang penyebab timbulnya pertikaian dan perselisihan antara brahmana dengan brahmana, petapa dengan petapa. Dalam Aṅguttara Nikāya II.IV.6 lebih lanjut Brahmana Aramadanda bertanya lagi kepada Bhikkhu Mahakaccana, demikian, "Tetapi, Guru Kaccana, apakah penyebab dan alasannya sehingga petapa berselisih dengan petapa?"

YM. Mahakaccana memberikan jawaban juga demikian, "Brahmana, karena nafsu terhadap pandangan, karena kemelekatan, ikatan, keserakahan, obsesi, bersikukuh terhadap pandangan-pandangan, maka petapa berselisih dengan petapa." (A.II, iv, 6)

Pada masa kehidupan manusia kapan pun, apakah zaman kuno maupun masa kini, bilamana ada seorang penganut ajaran, dikatakan merasa percaya penuh dan menjunjung tinggi ajaran yang dianutnya, akan tetapi dalam dirinya mungkin  cenderung timbul kemelekatan yang kuat dan merasa terobsesi kuat juga terhadap ajaran itu, maka ia akan kesulitan untuk menghadapi orang lain di tengah masyarakat. Mengapa? Bisa saja karena ia tidak bisa memahami orang lain yang berbeda pandangan/ajaran. Sebab mungkin saja ia menolak berbagai pernyataan ataupun komentar yang datang dari pihak lain yang menurutnya bertolak belakang (berbeda) dengan ajaran yang  ia banggakan/ kagumi.

Jika itu terjadi, terutama yang di hadapannya itu juga orang yang terobsesi kuat terhadap konsep keyakinannya sendiri yang juga berbeda, maka perdebatan yang mengarah ke perselisihan pandangan, bahkan bisa timbul konflik yang berkepanjangan tentu sulit terelakkan.  

Mencabut Akar adalah Resolusinya
Untuk mengatasi dan menyelesaikan permasalahan seperti tersebut di atas, kita harus memiliki pandangan benar bagaimana melihat dan memahami secara benar serta juga menyikapi secara bijaksana tentang segala sesuatu yang terkait dengan orang lain dan apapun tentang dirinya.

Dalam Aṅguttara Nikāya II.iv.6 lebih lanjut Brahmana Aramadanda bertanya lagi kepada Bhikkhu Mahakaccana, demikian, "Tetapi, Guru Kaccana, apakah ada seseorang di dunia ini yang telah mengatasi nafsu dan kemelekatan pada kesenangan indera serta nafsu dan kemelekatan pada pandangan?"
"Ada, brahmana."
"Siapakah orang itu, Guru Kaccana?"
"Di antara negara-negara timur, ada sebuah kota bernama Savatthi. Di sana berdiam Yang Terberkati, Sang Arahat, Yang Telah Sepenuhnya Tercerahkan. Brahmana, Beliaulah yang telah mengatasi nafsu dan kemelekatan pada kesenangan indera serta nafsu dan kemelekatan pada pandangan."

Setelah berbicara, Brahmana Aramadanda bangkit dari duduknya, mengatur jubah atasnya di satu bahu, bersimpuh dengan lutut kanannya di tanah, dan menyatukan tangannya untuk memberikan hormat kepada Yang Terberkati. Dia mengucapkan ungkapan inspirasi ini tiga kali: "Hormatku kepada Yang Terberkati, Sang Arahat, Yang Telah Sepenuhnya Tercerahkan, yang telah mengatasi nafsu dan kemelekatan pada kesenang-an indera serta nafsu dan kemelekatan pada pandangan. (A.II, iv, 6)

Sebagaimana isi dari ayat Dhammapada 340 tersebut di atas, maka pedang/pisau kebijaksanaan yang harus dimiliki untuk memotong habis akar-akar dari semua permasalahan yang timbul. Kata-kata, seperti nafsu akan kesenangan indera, bersikukuh terhadap kesenangan-kesenangan indera, nafsu terhadap pandangan, karena kemelekatan, ikatan, keserakahan, obsesi, dan bersikukuh terhadap pandangan-pandangan, adalah hal-hal yang timbul dari pikiran dan itulah yang menjadi akar dari konflik yang terjadi.

Jika kita berhasil mencabut akar sampai tuntas, maka resolusi untuk mengatasi konflik sudah kita lakukan. Buddha adalah guru kita untuk kita tauladani dalam mengatasi konflik.

Sumber:
Gradual Sayings (Aṅguttara Nikāya) I, 61-62

Dibaca : 679 kali